JawaPos.comBody, performance, place, dan identity menentukan harga perempuan dalam dunia prostitusi. Nilai tertinggi penjual jasa seks tidak selalu berdasar fisik tubuh, tapi status, usia, dan popularitas yang melekat pada fisiknya. Pelacur tidak hanya menjual tubuh, tapi justru menjual simbol/status yang melekat pada tubuhnya.

Ketika penyanyi Cintaku Klepek-Klepek Hesty Aryatura diamankan aparat Polda Lampung sewaktu penggerebekan di Hotel Novotel, Lampung, 2016, tarif kencannya Rp 100 juta. Tentu jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan prostitusi artis yang kala itu beredar dengan banderol Rp 35 juta. Tidak berhenti dalam kasus itu saja, polisi juga mengungkap sejumlah prostitusi artis seperti Nikita Mirzani dan Amel Alvi. Termasuk terkuaknya keterlibatan artis Vanessa Angel dalam prostitusi.

Seseorang yang telah menyandang identitas profesi model, SPG, artis, maupun status mahasiswi/pelajar memiliki nilai jual lebih tinggi dalam prostitusi jika dibandingkan dengan pelacur yang hanya bekerja full di dunia pelacuran. Kini perempuan pelacur tidak hanya menjual tubuh, tapi juga pencapaian status sebagai identitas atas tubuh. Tentu agar nilai jualnya lebih mahal.

Avriella Shaqilla setelah menjalani pemeriksaan di Polda Jatim Sabtu malam. Avriella Shaqilla bersama artis Vanessa Angel ditangkap Sabtu siang di sebuah hotel di Surabaya. (ZAIM ARMIES/JAWA POS)

Ragam identitas prostitusi muncul karena prostitusi sendiri masuk dalam sejumlah profesi yang melahirkan beberapa produk pelacuran dengan berbagai spesifikasi. Prostitusi dapat melekat di status mana pun pada perempuan. Statuslah yang membuat nilai jual sangat besar jika dibandingkan dengan menjual diri tanpa status.

Penetapan tersangka terhadap artis yang terlibat prostitusi memang sulit dengan landasan KUHP, kecuali perantara (germo). Seharusnya, ada perubahan undang-undang tentang prostitusi. Tidak hanya menjadikan perantara sebagai tersangka, tapi pelaku prostitusi dan konsumennya juga harus dijadikan tersangka. Padahal, yang paling menikmati hasil transaksi itu sebetulnya adalah pelaku prostitusi daripada perantara.

Substansi penangkapan jadi tereduksi karena artis sebenarnya lebih memperoleh pendapatan besar. Perantara sebenarnya bagian kecil dalam kasus itu. Peran perantara hanyalah stimulus untuk menjembatani transaksi.

Lewat agensi, make-up artist atau event organizer memiliki peran perantara meski tidak dalam konteks perekrutan, tapi lebih sekadar menghubungkan. Ada model/artis yang menawarkan diri maupun sengaja ditawari orang-orang bekerja di lingkungan model/artis.

Di balik penangkapan, selalu ada sebab. Siapa yang membocorkan jaringan semitertutup itu. Apakah jaringan antarmucikari sendiri atau orang terdekatnya yang sakit hati. Pada akhirnya, kasus penggerebekan prostitusi artis oleh polisi hanya menjadi shock therapy. Bahkan untuk memberikan stigma artis esek-esek terhadap sosok Vanessa Angel. Apalagi, tidak mudah mengungkap. Selain tidak ada informasi dari dalam, menjebak mereka membutuhkan biaya besar.

Dunia prostitusi tidak pernah berhenti berubah. Kajian mengenai perubahan sosial dalam lingkup penyaluran hasrat libido terus menemukan bentuk dalam berbagai varian. Prostitusi dan perubahannya merupakan persoalan yang tak pernah berhenti dikontroversikan. Transaksi seksual juga tidak lagi memerlukan tempat ketika menggunakan medium online. Munculnya varian-varian baru prostitusi sangat fluid sebagai tempat transaksi seks.

Pelacuran online mengajari perempuan akan nilai kemahalan. Mereka meninggalkan prostitusi konservatif dan memilih menjadi pekerja seks laten. Prostitusi online memberikan layanan konsumen seksual yang lebih cepat, variatif, dan deskriptif dalam memilih kriteria perempuan.

Perkembangan media online melahirkan media sosial dengan berbagai aplikasi yang membentuk interaksi komunikasi yang lebih kompleks. Media sosial menjadi halaman baru bagi penjual jasa seks untuk mempromosikan diri.

Ratusan akun media sosial selalu memperlihatkan tubuh secara vulgar dengan kata-kata yang berkaitan dengan aksi jual beli seks.

Penggunaan nama untuk pencarian awam dengan menggunakan key word seperti pelacur, PSK, purel, atau pekerja seks akan sulit ditemukan. Mereka telah mengonstruksi dunia transaksi dengan istilah booking, BO, ABG, Naked, Angel, atau dengan nama alay @Bulanbirusby, @queenzcantika69, @bohay_intan, @ManiezPengki, @miss_Angelina69.

Perempuan membuat slot karena dia membatasi eksekusi seksual setiap harinya. Setiap hari dia memasang 3 slot (transaksi). Bila hari itu sudah penuh, dia akan mengalihkannya ke hari lain. Angel dapat melakukan mobilisasi tempat transaksi maupun eksekusi di luar daerah tempat tinggalnya.

Dia melakukan perjalanan ke beberapa daerah dan tinggal beberapa hari. Pindah ke tempat lain sambil mempromosikan diri lewat Twitter. Mereka mengintegrasikan Line dan WhatsApp. Angel menginap di hotel yang dijadikan tempat eksekusi seksual. Lewat promosi di media sosial, dia tidak mengratiskan kamar karena sudah membayar sebagai tempat menginap.

Jumlah follower dijadikan standar kredibilitas terhadap konsumen. Semakin banyak follower (pengikut), pengguna akun Instagram semakin valid. Penipuan biasanya dilakukan pengguna yang membuat akun baru dengan mengopi ulang akun milik orang yang diakui sebagai miliknya. Pembuat akun palsu seolah-olah menjadi angel dan berperan melakukan transaksi seks, tapi tidak pernah dilakukan. Setelah melakukan penipuan, akun itu akhirnya tidak diaktifkan lagi. Sementara itu, mencari penjaja seks di BeeTalk atau Wechat mudah didapatkan dengan ditentukan radius kita berada.

Yang paling dirugikan atas merebaknya prostitusi online ini adalah prostitusi dunia hiburan. Pencari layanan jasa seks yang datang ke tempat hiburan kian berkurang. Media sosial mereka gunakan untuk presentasi tubuh. Penilaian selalu didasarkan pada hasil meski kenyataannya bisa jauh berbeda. Orang tahu Wechat, BeeTalk, Twitter, maupun Instagram dimanfaatkan para penjual jasa seks untuk transaksi.

Dunia prostitusi menciptakan sebuah ekosistem sehingga regenerasi perempuan selalu terjadi terus-menerus. Prostitusi menjadi medium deklarasi untuk memperoleh materi berlimpah secara instan. 

*) Wartawan Jawa Pos dan penulis buku Prostitusi 27 Kota di Indonesia 

Editor      : Ilham Safutra
Reporter : (*/c5/agm)