Olahraga Indonesia, Tanggung Jawab Siapa?

Peran Pemerintah
Olahraga merupakan bagian penting dalam pembangunan manusia Indonesia. Olahraga berperan untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, serta sosial. Latihan fisik dan olahraga teratur akan meningkatkan derajat kesehatan dan kebugaran jasmani individu dan masyarakat. Hasil akhirnya adalah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa yang diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. Karena itu, pemerintah memang bertanggung jawab untuk melakukan pembinaan olahraga masyarakat.

Bak seorang konduktor sebuah orkestra, pemerintah mengoordinasikan program lintas sektoral antara lembaga dan instansi di bawahnya. Masing-masing tak hanya berperan secara spesifik, tetapi ’’memainkan lagu yang sama’’. Harus ada grand design keolahragaan Indonesia yang dirancang bersama-sama stakeholder yang lain yang kemudian disosialisasikan sebagai penuntun langkah bersama.

KONI cabang yang bekerja sama dengan dispora kabupaten/kota itu sudah jamak. Masih bisa ditingkatkan kerja sama dan sinergi dispora kabupaten/kota dengan dispora provinsi. Walaupun sumber dananya berbeda, diupayakan proyeknya saling berhubungan dan berjenjang.

Penyediaan sarana tentu menjadi bagian dari pemerintah. Pemkot dan pemkab membangun stadion serta fasilitas olahraga. Taman-taman bermain dapat dilengkapi dengan perangkat olahraga kalistenik. Atau, bekerja sama dengan pengembang dan pebisnis, baik melalui regulasi maupun kerja sama mengadakan taman dan tempat olahraga.



Dinas kehutanan bisa mengeplot trek hiking dan mountain biking. Dinas pendidikan mulai meninjau kembali program pendidikan jasmani. Meniru sekolah di luar negeri yang guru-guru pendidikan jasmani untuk anak-anak sekolah dasar dan menengah pertamanya justru bergelar doktor. Sebab, mereka percaya peran mereka sangat menentukan untuk mendapatkan bibit-bibit unggul dan menciptakan kebiasaan berlatih fisik.

Tentu semua itu membutuhkan biaya. Biaya pembinaan olahraga tidak hanya berasal dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Karena ini menyangkut kualitas sumber daya manusia, bisa saja secara koordinatif dibiayai juga oleh Kementerian Tenaga Kerja sebagaimana di negara maju.

Tentu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Kesehatan bisa juga berperan banyak karena hasilnya akan dinikmati bersama. Prestasi sekolah orang yang sehat dan bugar akan meningkat. Mereka juga bebas dari penyakit metabolik, tekanan darah tinggi, jantung, stroke, atau kencing manis yang menjadi beban yang makin lama proporsinya makin besar.

Peran Masyarakat-Keluarga
Prestasi olahraga tidak akan lepas dari peran masyarakat. Hal itu sesuai dengan isi pasal 81 ayat (2) UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan: ’’Penyelenggaraan upaya kesehatan olahraga diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat’’.

Seorang atlet hebat tidak langsung jadi. Biasanya dimulai dari anak-anak yang memiliki bakat dan minat olahraga. Seorang anak yang berbakat tidak akan langsung berminat. Kalau bukan keluarganya yang mendukung dan mengarahkan, tidak akan ada hasilnya. Namun, bakat dan minat saja tidak cukup. Syarat utama sebagai atlet adalah kebugaran jasmani.

Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Kementerian Pendidikan Nasional pada 2010 melakukan tes kesegaran jasmani Indonesia terhadap 12.240 siswa SD, SMP, SMA, dan SMK di 17 provinsi. Hasilnya, tingkat kebugaran jasmani dengan kategori baik mencapai 17 persen, sedang (38 persen), dan kurang (45 persen). Padahal, menurut tes kesegaran jasmani Indonesia (TKJI) yang menjadi instrumennya, masih ada kategori di atas baik, yaitu ’’baik sekali’’ yang nol persen.

Berapa banyak anak berpotensi yang bisa didapatkan dari populasi yang hasil tes kesegaran jasmaninya seperti itu? Yang mengkhawatirkan, kondisi itu cenderung menjadi lebih buruk bila kita berkaca pada peningkatan jumlah obesitas pada populasi anak-anak kita. Dan obesitas itu menjadi masalah intergenerasi. Kalau bapak ibunya mengidap obesitas, sangat mungkin anaknya juga demikian dan sebaliknya. Siklus negatif itu harus dihentikan.

Mungkin kita perlu melakukan lagi senam kesegaran jasmani (SKJ) yang diperkenalkan pada awal 1984. Atau seri senam pagi Indonesia (SPI) yang diperkenalkan pada akhir 1970-an untuk anak-anak sekolah. Yang penting, lakukan sesuatu.

Tokoh masyarakat bisa mengembangkan jenis-jenis olahraga tradisional seperti pencak silat, karapan sapi, egrang, tarik tambang, balap karung, sumpit, dan bahkan gobak sodor. Siapa tahu bisa menjadi tontonan nasional, bahkan diekspor seperti wushu, karate, dan judo.

Secara gotong royong, fitness center didirikan di balai desa untuk menggairahkan warga berolahraga. Di Jawa Timur, kita bersyukur ada kegairahan bisnis olahraga seperti DBL yang di-support teman-teman media yang peduli. Masih banyak yang bisa kita lakukan alih-alih meratapi terpuruknya prestasi olahraga kita. Mari kita mulai. Minimal dari diri sendiri. (*)


(*Dosen FK Unair, humas Sport Clinic RSUD dr Soetomo)