Optimisme Sambut 2018

Dalam acara CEO Forum di Jakarta Rabu (29/11), Presiden Joko Widodo menyatakan, salah satu penopang pertumbuhan tahun depan adalah maraknya aktivitas ekonomi di daerah. Selain itu, menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution, pada 2018 Indonesia menghadapi tahun politik, ada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak.

Berdasar pengalaman, aktivitas politik itu bisa menyumbang pertumbuhan yang lumayan. Rata-rata 0,1 persen. Entah itu untuk pembelian baliho, kaus, atau aktivitas pendukung lainnya. Tapi dengan catatan, perhelatan pilkada berlangsung aman.

Dari mancanegara, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan perekonomian RI tahun depan tumbuh lebih rendah ketimbang prediksi pemerintah. Dalam laporan resmi yang dirilis dua pekan lalu, IMF mengestimasi pertumbuhan ekonomi RI hanya 5,3 persen pada 2018. Untuk mencapai itu, IMF menekankan perlunya pemerintah melakukan reformasi perpajakan guna meningkatkan penerimaan. Dana yang diperoleh tersebut nanti bisa digunakan untuk membiayai belanja pembangunan serta reformasi di pasar produk, tenaga kerja, dan keuangan.

Yang ditekankan IMF itu memang cukup beralasan. Sebab, dalam beberapa tahun terakhir, target penerimaan pajak memang tak pernah tercapai. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dicanangkan pemerintah membutuhkan dana besar. Akhirnya, agar defisit anggaran tak membengkak, jalan keluarnya adalah menambah utang.



Di samping itu, tantangan besar untuk menggapai target pertumbuhan ekonomi 2018 adalah menjaga momentum investasi maupun konsumsi. Dari sisi investasi, setidaknya Indonesia sudah punya modal berharga dengan naiknya peringkat kemudahan berbisnis seperti dirilis Bank Dunia. Proyek-proyek infrastruktur yang telah rampung tahun ini setidaknya juga bisa mengakselerasi pertumbuhan 2018. Dengan semua itu bisa terjaga, target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen tahun depan sepertinya tak sulit terealisasi. (*)


(*)