Orchestra Sabilillah – Radar Malang Online

 

Di Malang, jika menyebut ”Sabilillah”, maka nama ini akan terasosiasi dengan sebuah Lembaga Pendidikan Islam, di mana di dalamnya terdapat lima unit segmentasi. Mulai dari PAUD (usia dini), TK, SD, SMP, dan SMA. Dan sudah enam tahun ini, secara rutin, ”Sabilillah” selalu menggelar orchestra bertajuk simfoni khazanah bangsa, melibatkan 300-an murid-muridnya, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA itu. Ini jelas bukan pekerjaan mudah. Dan ini jelas menunjukkan bahwa ”Sabilillah” mau repot.

Sudah dua tahun ini saya selalu hadir di setiap pagelaran orchestra ala ”Sabilillah” yang dihelat di Gedung Graha Cakrawala itu. Seperti pada Selasa lalu (18/12). Dan pertunjukan tersebut memang benar-benar layak disebut sebagai sebuah orchestra. Ada konduktornya. Dari sisi jumlah, disebut orchestra jika dimainkan oleh banyak pemain musik. Jika jumlahnya antara 30–40 pemain, maka disebut orchestra. Dan jika jumlahnya lebih dari 100 pemain, disebut orchestra simfoni. Pada orchestra ala ”Sabilillah”, pemainnya lebih dari 100 orang.  Yang khas pada orchestra ala Sabilillah dilengkapi dengan alat musik rebana dan gamelan. Yang juga khas lagi adalah, lagu-lagu yang dimainkan bukan lagu-lagu klasik layaknya sebuah orchestra, tapi senandung salawat nabi dan lagu-lagu religius lainnya.



Ada sejumlah pertanyaan dalam benak saya terkait pertunjukan orchestra ala ”Sabilillah” itu.  Mengapa harus menggelar orchestra yang dari sisi perencanaan, biaya, hingga pelaksanaan, sudah kebayang repotnya? Bagaimana cara mengajari murid-murid dengan berbagai tingkatan itu agar bisa harmonis antara satu dengan lainnya?

Dari beberapa referensi yang saya baca, ternyata mengajari anak untuk bermain dalam sebuah orchestra, itu mengandung pendidikan yang positif dan bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pertama, mengajari anak-anak untuk bekerja sama dalam sebuah tim. Kita tahu, bahwa rata-rata anak-anak itu masih memiliki ego yang cukup tinggi. Ego adalah salah satu tantangan terbesar dalam kelompok orchestra. Untuk memberikan performa yang indah dan harmonis, setiap individu dalam orchestra harus belajar menyingkirkan egonya dari keinginan untuk tampil lebih menonjol. Orchestra adalah sebuah tim yang memiliki tujuan sama, dan hanya bisa diraih dengan kerja sama yang harmonis dan tidak kompetitif.

Kedua, mengajari anak-anak untuk mampu membagi waktu dengan baik. Kapan saatnya harus berlatih dengan musiknya, dan kapan harus menyelesaikan tugas-tugas di sekolahnya. Dari sini, dia akan bisa belajar untuk melihat prioritas yang lebih penting untuk didahulukan. Kemampuan membagi waktu, akan membuat dia berpikir lebih dewasa mengenai kebutuhannya.

Ketiga, bisa menurunkan level stres. Beberapa studi ilmiah sudah dapat membuktikan manfaat musik untuk menurunkan level stres seseorang. Salah satunya adalah jurnal ilmiah yang dipublikasikan tanggal 5 Agustus 2013, dengan judul: The Effect of Music on The Human Stress Response.  Jurnal ini ditulis oleh  beberapa peneliti dari disiplin ilmu psikologi dan biopsikologi. Yakni: Myriam V. Thoma (Department of Psychologym Brandeis University, Waltham, Massachusetts, Amerika); Roberto La Marca (Clinical Psychology & Psychotherapy, University of Zurich, Switzerland); Urs M. Nater (Clinical Biopsychology, University of Marbug, Marbug, Germany Pennington Biomedical Research Center, Amerika).  Berdasarkan jurnal ini, membuktikan bahwa musik dapat menurunkan level stres dan tekanan psikologis. Hal ini dibuktikan dari hasil test level hormon dan response psikologis subjek penelitian.

Keempat, melatih perkembangan motorik dan fokus. Setiap gerakan yang dilakukan dalam menggunakan alat musik, pada dasarnya menstimulasi rangsangan terhadap motorik kasar dan halus. Sambil dia melakukan gerakan tersebut, pada grup orchestra seorang anak juga diajak untuk fokus pada bagian harmoni yang harus dia bawakan. Juga fokus dalam membaca partitur.

Nah, itulah setidaknya ada empat hal yang positif dari sebuah orchestra yang diajarkan kepada anak-anak. Dan ”Sabilillah” melakukan itu secara rutin.  Guru-gurunya mau repot ngajari. Dan guru-gurunya  mau repot bikin pagelarannya yang megah serta berkesan kolosal. Salut untuk ”Sabilillah”. (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)