Pada Sebuah Kematian – Radar Malang Online

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Dalam seminggu ini, saya kehilangan tiga orang yang saya sangat mengenalnya. Dini hari kemarin (8/9), di sepertiga malam terakhir, di hari yang mulia (Jumat), Gus Luqman Al Karim, ulama, kiai yang juga pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, wafat di RS Persada.

Rabu sore lalu (6/9), Mas Achmad Suparto, pelaksana tugas (Plt) Sekda Kota Wisata Batu, secara mendadak ambruk ketika sedang semangat-semangatnya bermain futsal. Nyawanya tak tertolong, ketika akan dibawa ke rumah sakit.

Senin sore lalu (4/9), Mas Ismail Modal, advokat senior di Malang, menghembuskan napasnya yang terakhir setelah setahun ini berjuang dengan gigihnya melawan penyakit kanker paru-paru.

Inilah kematian. Datangnya bisa begitu mendadak. Bisa juga menjadi ending dari sebuah ikhtiar yang panjang.



Karena itu, Imam Ghazali menyebut, kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita. Maka, ”selalu bersiap-siap menghadapi kematian” adalah kata kuncinya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menyatakan: ”….Matilah engkau sebelum mati. Matilah engkau dari dirimu dan makhluk. Sungguh telah diangkat berbagai hijab dari dirimu dan Allah Azza wa Jalla”.

Apa yang dimaksud ”mati sebelum mati”? Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan lebih lanjut: ”Matilah dari mengikuti kemauan, hawa nafsu, tabiat dan kebiasaan burukmu. Serta matilah dari mengikuti makhluk dan dari berbagai sebab. Tinggalkanlah persekutuan dengan mereka, dan berharaplah hanya kepada Allah. Tidak selain-Nya. Hendaklah engkau menjadikan seluruh amalmu hanya karena Allah”.

Ada kesamaan antara apa yang disampaikan Imam Ghazali dengan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Yakni, sama-sama bermuara pada persiapan dalam menghadapi kematian. Artinya, manusia hidup di dunia sejatinya adalah menjalani masa persiapan menuju kematian. Jika Al Ghazali terkesan lebih menonjolkan kepada timing kematian yang bisa sewaktu-waktu datang, kapan saja, dan di mana saja. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani terkesan lebih menekankan pada pengekangan dan pengendalian diri. Inti dari ungkapan ”mati sebelum mati” adalah pengekangan dan pengendalian diri.

Dalam versi yang agak berbau ”sekuler”, ada banyak artikel tentang kematian. Salah satunya yang menarik, seperti ditulis Dr Jonathan Jong, psikolog dari Coventry University (Inggris). Judul artikel itu, seperti diulas di BBC, cukup provokatif: Why Contemplating Death Changes How You Think. (Mengapa mengingat kematian bisa mengubah cara berpikir).

Pada artikel itu disebutkan, merujuk dari survei yang pernah dilakukan, mereka yang disurvei itu ternyata lebih takut kehilangan orang yang disayanginya, daripada takut terhadap kematiannya sendiri.

Jadi, mereka ini lebih khawatir terhadap rasa sakit dan kesepian, dibandingkan fakta bahwa dengan mati, hidup akan berakhir. Dan ketika mereka ditanya: ”Apakah takut mati?”. Sebagian besar ternyata menyatakan, ”hanya khawatir sedikit saja”.

Jong, yang juga penulis buku: Death Anxiety and Religious Belief ini lantas menyimpulkan, bahwa rendahnya tingkat ketakutan orang-orang itu terhadap kematian, dianggap sebagai sebuah penolakan diri untuk mengakui bahwa sebenarnya mereka benar-benar takut mati.

Jong yang selama puluhan tahun meneliti dampak dan psikologi yang terjadi pada manusia jika dihadapkan pada kematian ini, sudah ratusan kali melakukan eksperimen. Orang-orang yang diteliti diminta membayangkan kematiannya sendiri.

Tes pertama dilakukan terhadap sejumlah hakim di Amerika. Mereka diminta menjatuhkan vonis denda kepada PSK (pekerja seks komersial) yang melanggar aturan.

Ternyata, hakim-hakim yang diingatkan tentang kematian sebelum mengambil keputusan, memberikan denda lebih besar dibandingkan yang tidak. Hakim yang diingatkan kematian menjatuhkan denda USD 455. Sedangkan yang tidak, menjatuhkan denda USD 50.

Apa makna dari hasil survei ini? Jong menarik benang merahnya, bahwa ketika seseorang diingatkan tentang mati, maka ini akan membuatnya lebih merasa dekat dan terikat dengan kelompok dan apa yang dipercayainya.

Hakim yang lebih dulu diingatkan tentang kematian itu, bisa jadi merasa semakin dekat dan terikat dengan kelompoknya (yang tidak setuju dengan prostitusi). Sehingga dia menganggap tingkat kesalahan yang dilakukan PSK cukup berat. Maka, diberilah denda yang tinggi.

Bagi orang yang beragama, tulis Jong, mengingat mati akan membuat orang beragama semakin taat kepada keyakinannya. Sedangkan orang yang tidak percaya agama menjadi lebih mengingkari adanya agama.

Dalam pandangan Jong, ketika seseorang teringat akan kematian, bisa juga memengaruhi sudut pandangnya dalam politik dan agama.

Seseorang yang liberal ketika ingat mati akan membuatnya menjadi semakin liberal. Sedangkan yang konservatif menjadi lebih konservatif.

Ini sekaligus menjadi referensi, untuk menilai kecenderungan politik di Amerika yang bergeser menjadi lebih ke kanan (konservatif) pasca tragedi 11 September 2001.

Walakhir, terlepas dari apa pun pendapat tentang kematian, dan dari berbagai sudut pandang dalam melihat kematian, kematian orang-orang terdekat kita, adalah ”ayat” bagi kita. Pandai-pandailah kita memaknai ”ayat” itu. Dan dalam melihat kematian, agama sudah sangat jelas memberikan penjelasan, panduan, dan tuntunan. (Instagram:kum_jp)