Pahlawan Anti Hoax

Dalam sebuah diskusi ringan di sekretariat Indonesia Milenial institut, seorang sahabat bercerita tentang penyesalannya telah ikut menyebarkan berita bohong tentang pemukulan yang dialami Ratna Sarumpaet.

Sebagai anak muda, dia merasa bukan kali ini saja terjebak dalam skenario informasi hoax yang dibangun oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab di media sosial.

Bahkan ikut serta berargumen untuk membenarkan berita hoax tersebut. Dia pun merasa kapok, dan tidak ingin lagi terjebak dengan informasi-informasi yang belum tervalidasi kebenarannya.

Apa yang dialami kawan kita di atas, bisa dikatakan menjadi fenomena jamak yang kita temui saat ini. Terutama di kalangan generasi milenial, yang mendominasi penggunaan media sosial Indonesia.



Saat berselancar di dunia maya, kita tentu pernah menerima informasi dari sahabat, tetangga, bahkan saudara sendiri tentang hal yang belum pasti kebenarannya.

Tidak sedikit yang terlibat perdebatan sengit, tentang informasi tersebut, bahkan tidak jarang juga membuat hubungan satu sama lainnya jadi kurang harmonis. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, tentu juga akan merusak keharmonisan kita sebagai bangsa dan negara.

Mudahnya akses internet saat ini, membuat informasi beredar dengan sangat cepat di media sosial. Sehingga informasi apa pun begitu mudah sampai ke ruang publik.

Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jumlah pengguna internet Indonesia sudah mencapai angka 143,26 juta. Dimana pengguna mayoritasnya berada di kisaran umur 19–34 tahun, yang notabene adalah generasi milenial.

Melihat data tersebut, bisa dikatakan generasi milenial memiliki peran yang signifikan dalam alur penyebaran informasi di media sosial.

Oleh karena itu, harus memiliki aware yang tinggi untuk mencegah penyebaran informasi hoax yang membahayakan kesatuan bangsa dan negara. Ditambah lagi saat ini kita sedang menjalani pesta demokrasi pemilihan presiden dan legislatif.

Tingginya eskalasi politik Indonesia saat ini, membuat media sosial menjadi medan “perang” kampanye antar kandidat. Baik yang positif atau negatif, semua tim memiliki cyber army yang tujuannya untuk melakukan “apa pun” demi kemenangan kandidat masing-masing.

Menyikapi ini, generasi milenial harus menjadi smart netizen yang anti-hoax. Menjadi filter dari informasi yang beredar di tengah masyarakat. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, agar di era 4.0 kita tidak terjebak dengan berita hoax. Salah satunya dengan dengan formula 4.i.

Petama, pelajari dulu informasinya. Biasakan untuk tidak langsung share berita yang kita terima dan pastikan kita sudah membaca informasinya secara utuh.

Kedua, pahami informasi. Lakukan analisa terhadap informasi yang kita terima. Ketiga, konfirmasi. Lakukan konfirmasi kepada sumber-sumber yang terpercaya terkait informasi tersebut.

Keempat, tindak lanjuti. Setelah kita bisa mengambil kesimpulan dari sebuah informasi, baru kita bisa menyikapi secara baik dan bijaksana.

Sadar atau tidak, informasi hoax sudah begitu banyak beredar di tengah kita. Kondisi ini, bila terus dibiarkan tentu sangat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Karena itu, wajib hukumnya bagi kita untuk “jihad” melawan hoax. Terutama generasi milenial yang menjadi pengguna internet terbesar Indonesia. Di era 4.0 ini berjuang tidak lagi harus dengan mengangkat senjata. Kita cukup mengambil peran sebagai anak bangsa yang menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Salah satunya dengan menjadi pejuang anti hoax. Mencegah beredarnya informasi-informasi yang tujuannya memecah belah bangsa. Menyikapi setiap informasi yang beredar, dengan sudut pandang yang positif.

Berdasarkan data dan fakta yang terukur. Beda pilihan itu biasa, tapi menyebarkan kebohongan itu membahayakan Indonesia. Kita bisa berkaca dari sejarah. Pertumpahan darah itu, seringkali dimulai dari fitnah dan kebohongan.

Mulai saat ini, mari kita deklarasikan diri menjadi milenial yang anti hoax. Sebagai respon kita, terhadap ancaman hoax yang semakin beredar masif di tengah-tengah kita.

Karena menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia, adalah tugas estafet yang telah diserahkan para pahlawan bangsa kepada kita. Sehingga semangat perang melawan hoax, adalah bagian dari semangat perjuangan para pahlawan pendahulu kita.

Semoga di bulan November, yang pada tanggal 10-nya kita  peringati sebagai hari pahlawan. Menjadi pemantik para milenial untuk berlomba-lomba mengambil peran sebagai pejuang anti hoax.

Berkontribusi nyata dalam “medan perang” perjuangan generasinya. Karena percayalah, bahwa dalam setiap generasi itu pasti akan melahirkan pahlawannya sendiri.

Dan saat ini, yang dibutuhkan Indonesia adalah para pahlawan anti hoax. Karena itu, mari pastikan, saya, anda, dan kita semua menjadi bagian aksi nyata dari perjuangan Ini. Demi terjaganya persatuan dan kestatuan Bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai.

*Penulis adalah Founder Indonesia Milenial Institute 

(mam/JPC)