Paradoks Jepang

Oleh Kurniawan Muhammad
Direktur Jawa Pos Radar Malang

Beruntung sekali saya bisa ke Jepang. Pertama, bersama para pengusaha. Ada juga ulamanya. Kedua, musim di Jepang lagi bagus. Tidak terlalu dingin, dan juga tidak terlalu panas. Ketiga, kami bertemu dengan orang Indonesia yang telah menjadi pengusaha sukses di Jepang. Namanya Teguh Wahyudi (TW). Masih muda. Dua tahun lebih muda dari saya. Baru 44 tahun. TW tinggal di Nakabata Cho, Nishio City, Aichi Prefektur.

Selama beberapa hari jalan-jalan di sudut-sudut kota di Nishio City, hingga ke Kota Nagoya, mulai pagi hingga malam hari, setidaknya ada dua pemandangan yang menarik perhatian saya. Pertama, sejauh mata memandang, di jalan-jalan, taman-taman, rumah-rumah penduduk, semuanya serba bersih. Hampir nggak ada sampah-sampah berserakan. Semuanya serba bersih, bukan karena ada pasukan kebersihan yang di tempat kita disebut pasukan kuning. Tapi karena habit masyarakat di Jepang yang sangat menjaga kebersihan. ”Hidup bersih itu sudah menjadi karakter orang Jepang,” kata TW.

Bagaimana kebiasaan hidup bersih sangat dijaga masyarakat Jepang, terlihat ketika kami diajak makan siang di sebuah restoran. Saya melihat, di sana para pengunjung membersihkan meja tempat mereka makan. Membuang sisa-sisa atau sampah dari makanan mereka ke tempat sampah. Sehingga para pengunjung meninggalkan tempat mereka makan dalam keadaan bersih.



Hidup bersih di Jepang, telah menjadi bagian dari sikap integritas masyarakat Jepang. Di mana integritas adalah ajaran nomor satu dari prinsip bushido (jalan samurai) yang sudah menjadi nilai hidup masyarakat Jepang.

Ada tujuh jalan samurai.
Yakni, Gi (Integritas),
Yu (Berani & Setia),
Jin (Murah hati & Mencintai sesamanya),
Re (Santun),
Makoto (Tulus & Ikhlas),
Meiyo (Kehormatan & Kemuliaan), dan
Chugo (Mengabdi & Loyal).

Ketujuh nilai di atas diadaptasi dari ajaran Buddha dan turun-temurun dibudayakan hingga membentuk pribadi masyarakat Jepang. Selain bushido, ada salah satu kata yang sangat berpengaruh dalam pembentukan spiritualitas Jepang yaitu ? (wa) yang artinya adalah ”harmoni” atau ”kebersamaan”. Wa merupakan satu istilah kunci dalam tata kehidupan Jepang. Di negara, keluarga, perusahaan, pabrik, kantor, sekolah, atau dalam bentuk apa pun orang Jepang mementingkan kebersamaan terhadap komunitas.

Setelah Restorasi Meiji, pemerintah Meiji sangat menekankan kesetiaan pada negara. Sehingga tindakan mengutamakan kepentingan pribadi dinilai merusak rukun kebersamaan.

Kedua, yang menarik perhatian saya adalah dijualnya buku-buku berbau pornografi di minimarket. Buku-buku itu ada yang pornografinya berbentuk gambar. Ada juga yang berupa foto. ”Di Jepang pendidikan seks diajarkan kepada anak-anak sejak sekolah menengah,” kata TW. Tapi, apakah dijualnya buku-buku berbau pornografi itu ada kaitannya dengan pendidikan seks yang sudah diajarkan sejak sekolah menengah? ”Itulah sisi uniknya masyarakat Jepang,” tambah TW. Mungkin ini adalah sisi uniknya masyarakat Jepang. Tapi saya lebih suka menyebutnya paradoks Jepang. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)