Paradoks Milenial

Oleh Muhammad Kurniawan
Direktur Jawa Pos Radar Malang

Tiga sesi berturut-turut, selama dua hari, saya diundang Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Jurusan Manajemen. Saya harus berhadapan dengan generasi milenial. Mayoritas mereka mahasiswa S-1. Di antaranya ada juga mahasiswa S-2 (Magister Manajemen). Berhadapan dengan para generasi milenial, saya menganggapnya berhadapan dengan dua kemungkinan. Pertama, sebagai peluang. Kedua, sebagai tantangan.

Sebagai peluang, karena mereka bisa saya jadikan sebagai pintu masuk untuk saya menjelaskan tentang bagaimana platform media cetak (koran). Sebab, umumnya para generasi milenial bukan generasi koran. Mereka adalah generasi gadget.

Kepada para generasi milenial itu saya menjelaskan, tentang bagaimana kami (platform media cetak) beradaptasi dengan perubahan yang sekarang terjadi. Perubahan yang membuat orang harus berakrab dan berintim-intim dengan platform media digital, termasuk di dalamnya media online dan media sosial. Saya jelaskan kepada mereka, bahwa kami punya platform lain selain media cetak. Platform lain itu adalah media online dan media sosial. Pintu masuk ke generasi milenial inilah yang saya anggap sebagai peluang.

Sebagai tantangan, karena tidak mudah untuk bisa berkomunikasi dengan generasi milenial. Majalah Time edisi Mei 2013 pernah membuat laporan utama berbasis riset tentang generasi milenial.

Laporan itu ditulis oleh Joel Stein. Judul dari laporan utama tersebut, sekaligus untuk memberi nama kepada para generasi milenial: Me, Me, Me Generation. Disebutkan dalam laporan itu, bahwa generasi milenial tumbuh ke arah yang lebih buruk. Mereka narsis, penggila gadget, egois, manja, dan suka sekali melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Penelitian yang dilakukan Gallup (2016) juga menyebutkan beberapa karakteristik dari generasi milenial dalam bekerja. Salah satunya, tidak terpikir untuk memperbaiki kekurangannya, tapi lebih berpikir untuk mengembangkan kelebihannya.

Nah, berangkat dari hasil riset di atas, maka saya mengatakan bahwa dalam melakukan komunikasi dan pendekatan terhadap generasi milenial itu gampang-gampang susah. Kalau sudah menemukan caranya, dan dapat ”clue”-nya, bisa gampang. Sebaliknya, jika tidak, akan susah.

Kepada para generasi milenial itu, saya mengatakan, bahwa era digital kami jadikan sebagai guru yang terbaik. Setidaknya pada era yang serbadigital dan serba-online ini, kami bisa belajar tiga hal. Pertama, belajar untuk beradaptasi. Kedua, belajar untuk bertahan hidup. Dan ketiga, belajar untuk selalu kreatif dan inovatif.

Antara beradaptasi dan bertahan hidup, sangatlah erat kaitannya. Jika ingin tetap hidup, ya harus mampu beradaptasi. Dan untuk tetap bisa hidup, ternyata tidak cukup hanya mampu beradaptasi. Tapi, harus kreatif dan inovatif. Karena hanya kreatif dan inovatif inilah yang akan membedakan kita dengan yang lain.

Mengapa saya mengangkat judul tulisan ini: paradoks milenial? Karena inilah yang terjadi di tempat kami. Mungkin juga di tempat media lain yang sejenis. Core business kami adalah koran. Yang notabene adalah jenis media massa yang konvensional.

Sementara mayoritas karyawan kami, adalah generasi milenial yang mereka kebanyakan sudah tidak terlalu akrab dengan koran. Kami bersyukur, ”formula” untuk menangani paradoks itu sudah bisa kami dapatkan. Meski formula itu tetap harus terus disempurnakan menyesuaikan keadaan dan zaman.

Bagi kami, betapa pun berbedanya generasi milenial dengan generasi sebelumnya (termasuk generasi saya), mereka tetaplah manusia. Dan software manusia sampai kapan pun akan tetap sama. Yakni ada dua: akal-pikiran dan hati. Sehingga, dengan menggunakan pendekatan dua software itu, diracik dengan formula tadi, kita bisa menghadapi, beradaptasi, dan menangani generasi macam apa pun, termasuk generasi milenial. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)