Pemelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

Sementara itu, zaman telah dan akan terus berubah. Setiap saat kita dapat menyaksikan tekonologi dan produk rekayasanya telah masuk ke Indonesia disertai kosakata nama diri yang melekat pada produk tersebut. Akankah kita bendung itu? Jika demikian, akan menjadi bangsa apa kita di era seperti saat ini? Akankah kita selalu terjebak pada romantisme meminta perlindungan kepada penguasa agar bahasa asing tidak boleh masuk ke Indonesia? Harus khawatirkah kita terhadap pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Indonesia? Sikap kebangsaan (nasionalisme) yang demikian tentu saja tidak keliru. Pada zaman penjajahan, bahasa Indonesia menjadi bahasa perjuangan, menjadi semangat perjuangan, serta menjadi semangat persatuan berbangsa.

Bila kita cermati, derasnya bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, yang masuk kehidupan modern kita saat ini pada umumnya baru terbatas pada kosakata (leksikon), bukan penggunaan kalimat/teks/tuturan kompleks. Fakta itu dapat kita saksikan pada penggunaan nama toko, nama produk makanan, atau nama produk pakaian, misalnya, yang pada dasarnya hal itu menunjukkan ekspresi kreativitas. Justru pada nama-nama perusahaan besar jarang kita dapatkan nama berbahasa asing. Ini tampaknya gambaran bukti kekuatan penerapan ”aturan” yang dimaksud.

Kita pernah memunyai pengalaman adanya bahasa Belanda yang digunakan di dalam rapat-rapat dewan pada waktu zaman kolonial Belanda di wilayah tanah air. Kemudian terjadi pelarangan penggunaan bahasa Belanda tersebut ketika bangsa Jepang mulai berkuasa. Niatnya adalah menggantikan bahasa Belanda dengan bahasa Jepang. Namun, karena bahasa Jepang belum dikenal, pilihan penggantinya adalah bahasa Indonesia. Bersamaan dengan hal itu, bahasa Jepang mulai digunakan di sana sini dalam lingkup terbatas. Hal tersebut merupakan kesempatan emas bagi perkembangan bahasa Indonesia. Kita bersyukur ternyata Jepang hanya ”seumur jagung” di Indonesia sehingga bahasa Jepang belum sempat digunakan secara meluas.

Arah Pemelajaran
Lalu, bagaimana sikap kita menyaksikan kenyataan di atas? Di samping dibutuhkan keseriusan penerapan aturan yang sudah dikeluarkan pemerintah melalui undang-undang, yang tidak kalah penting adalah mengelola pemelajaran bahasa Indonesia di sekolah.



Kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, dalam era milenium saat ini menjadi mutlak. Kita tidak dapat lagi menafikan keharusan kaum terpelajar (siswa dan mahasiswa) menguasai bahasa Inggris. Dalam berkomunikasi akademis dalam kancah internasional, diperlukan kemampuan berbahasa Inggris tersebut. Apabila kaum terpelajar tersebut lancar berbahasa Inggris, misalnya, akankah mereka meninggalkan penggunaan bahasa Indonesia? Akhirnya, bahasa Indonesia kelak akan hilang (musnah) dari pertiwi kita? Rasanya kekhawatiran ini berlebih. Justru pada kaum terpelajar ini kelak kita dapat bersandar. Mereka akan mengetahui dan menyadari kapan saatnya berbahasa Indonesia dan kapan pula harus berbahasa Inggris.

Ketika kita melihat ”yang lain” menarik dan sukses, mengapa kita berpikiran bagaimana caranya menghalangi agar yang lain itu tidak sukses, bukannya mencari jalan bagaimana kita ciptakan ”yang kumiliki” menjadi lebih menarik sehingga akan lebih sukses. Kita ciptakan kompetisi yang sehat melalui ”pengolahan kembali yang kumiliki” untuk meraih ”kesuksesan” itu. Mampukah kita menciptakan kondisi tersebut? Di sinilah permasalahannya. Kita belum juga bisa berdewasa sikap, seperti yang dicontohkan pada sinetron-sinetron TV. Ketika ada anak yang sukses dalam hal tertentu, anak lain (tokoh antagonis) selalu saja menghalangi dengan berbagai cara, bahkan melibatkan orang tua dan gurunya, yang notabene telah didekati orang tua tokoh antagonis tersebut. Harapannya, campur tangan guru dapat menghalangi langkah kesuksesan anak pesaing.

Dalam rangka menghadapi tuntutan di depan, harus diciptakan pemelajaran bahasa Indonesia yang menarik. Pemelajaran bahasa Indonesia harus berwibawa. Berwibawa berimplikasi pada sikap menghormati, menaati, dan menjunjung tinggi ”ideologi”-nya. Melalui pemelajaran yang berwibawa, ditanamkan rasa nasionalisme, yang dalam hal ini jiwa bersikap mencintai bahasa Indonesia. Jika hal itu terwujud, kekhawatiran musnahnya bahasa Indonesia menjadi wacana angan-angan semata.

Apa yang harus dipersiapkan? Kurikulum tentunya menjadi sentral dalam hal ini. Kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia selayaknya didasarkan pada kompetensi apa yang dituntut bagi lulusannya. Kompetensi itu terkait dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan lulusan, yang dalam hal ini dapat dikaitkan penggunaan bahasa (Indonesia) untuk fungsi sosial, fungsi estetis, dan fungsi akademis.

Fungsi sosial berkaitan dengan peran bahasa untuk komunikasi sehari-hari dalam berbagai transaksi ataupun interaksi sosial, seperti penggunaan bahasa untuk berjual beli, bertegur sapa, mengucapkan terima kasih, menyampaikan pesan, menulis surat izin, menulis surat lamaran, atau menyampaikan sambutan acara hajatan, misalnya. Fungsi estetis bahasa dikaitkan dengan peran bahasa untuk menyampaikan atau memahami gagasan kreatif yang estetis. Dalam ranah ini dapat kita lihat penggunaan bahasa dalam menulis atau membacakan puisi, cerpen, novel, atau drama. Fungsi akademis terkait dengan penggunaan bahasa untuk mendukung penyampaian gagasan dalam dunia akademis. Di sini bahasa difungsikan untuk mendukung kemampuan berpikir, seperti penggunaan bahasa dalam laporan penelitian, makalah seminar, skripsi, tesis, disertasi, atau buku ilmiah.

Bila dicermati, sebagian fungsi tersebut dapat (telah) diperoleh di lingkungan keluarga dan masyarakat, seperti menyampaikan terima kasih. Oleh karena itu, kompetensi tersebut seharusnya tidak dimunculkan dalam kurikulum, sebagaimana yang dapat kita lihat pada Kurikulum 2013. Kompetensi lainnya diperoleh di bangku persekolahan sehingga perlu dipetakan fungsi mana saja yang harus dibekalkan melalui kurikulum persekolahan. Harus pula disadari bahwa kebutuhan lulusan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK berbeda-beda. Fungsi sosial lebih banyak dituntut oleh lulusan SD. Sementara itu, fungsi akademik untuk lulusan SD belum terlalu banyak diperlukan. Lulusan SD belum dituntut untuk menerapkan fungsi estetis secara produktif. Bagi mereka, membaca banyak-banyak cerita anak, dongeng, puisi anak, atau pantun merupakan upaya yang tepat untuk membekali kompetensi lulusan.

Hal itu berbeda dengan kebutuhan lulusan SMP/MTs. Bagi mereka, fungsi estetis yang bersifat produktif sudah mulai diperlukan. Dari banyak catatan, pada umumnya sastrawan yang sukses memulai belajar proses kreatif ketika mereka duduk di bangku SMP. Oleh karena itu, fungsi estetis produktif seharusnya mulai mendapat porsi yang lebih banyak di sini. Di samping itu, harus kita sadari bahwa pada saat ini lulusan SMP/MTs tidak diproyeksikan untuk terjun ke dunia kerja. Hal tersebut mungkin agak berbeda dengan kebutuhan dua dekade yang lalu. Dengan demikian, pembekalan kompetensi menulis surat lamaran pekerjaan, misalnya, tidak diperlukan untuk tingkat ini. Di tingkat ini fungsi akademis juga mulai dituntut sehingga pembekalan kompetensi ke arah ini pada tingkat dasar sudah harus mendapatkan porsi yang cukup.

Pada jenjang SMA/MA/SMK, lulusannya diproyeksikan mengisi lapangan pekerjaan tingkat dasar/terampil dan melanjutkan studi. Untuk mengisi dunia kerja, diperlukan kemampuan berbahasa terkait dengan fungsi sosial, seperti menulis surat lamaran, membuat prosedur operasional standar tentang jenis pekerjaan tertentu, dan menawarkan produk tertentu. Untuk keperluan studi lanjut, diperlukan kompetensi yang terkait dengan fungsi akademis, seperti menulis laporan, membuat laporan buku, dan meringkas isi buku. Fungsi estetis mulai diperlukan lebih banyak, terutama terkait proses kreatif.

Pemetaan kebutuhan lulusan diperlukan pula terkait dengan penerapan empat keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis). Keempat keterampilan berbahasa tersebut tidak seharusnya diberikan secara seimbang pada setiap jenjang pendidikan, sebagaimana yang terdapat pada Kurikulum 2004 dan Kurikulum 2006. Namun, penerapannya harus proporsional. Penelitian yang mendalam tentang kompetensi apa saja yang diperlukan lulusan sangatlah diperlukan.

Pemelajaran bahasa Indonesia haruslah dapat memberikan akses pada situasi lokal dan global yang menekankan keterbukaan, ke masa depan, dan kesejagatan (khususnya dalam era MEA). Untuk itu, tema-tema pemelajaran bahasa Indonesia harus diatur dan dikelompokkan berdasarkan peran, kebutuhan, dan tingkat perkembangan usia anak. Tema-tema dimaksud dapat dituangkan dalam berbagai teks yang relevan, yang juga mengemban berbagai fungsi sosial, estetis, dan akademis.

Dalam perspektif yang lebih luas dan dikaitkan dengan fungsi bahasa di atas, kompetensi yang menjadi dasar penataan bahan ajar selayaknya diatur berdasarkan kebutuhannya. Untuk tingkat SD, kompetensi lulusannya diarahkan untuk mengenal, memahami, menghargai, dan mencintai alam serta seni dan budaya sekitar (selingkung desa sampai dengan provinsi).

Kompetensi lulusan SMP/MTs adalah mengenal, memahami, menghargai, dan mencintai alam serta seni dan budaya nasional. Ruang lingkup yang lebih luas lagi harus dicapai oleh lulusan SMA/SMK/MA, yakni mengenal, memahami, dan menghargai alam serta seni dan budaya negara tetangga (ASEAN) sehingga lulusannya telah memiliki gambaran kehidupan di negara tetangga bila mereka harus bersaing untuk ”hidup” di negara-negara tersebut. (*)


(*Guru besar pada Unesa)