Pemilih Pemula – Radar Malang Online

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Jumlah pemilih yang berhak memberikan suara pada Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Malang tahun ini, diperkirakan berjumlah 650 ribu jiwa. Dari jumlah itu, sekitar 30 persennya (sekitar 195 ribu) adalah pemilih pemula. Mereka ini adalah yang berumur 17–22 tahun, ketika pilwali digelar. Kelompok pemilih pemula ini, sangat seksi untuk diperebutkan para pasangan calon (paslon). Mengapa?

Pertama, para pemilih pemula ini umumnya masih belum mempunyai jangkauan politik yang cukup kuat. Sehingga membuka peluang yang sangat besar untuk dirayu, dipengaruhi, dan dirangkul para kandidat.

Kedua, persentase yang mencapai 30 persen, sangat signifikan bagi faktor kemenangan para kandidat. Artinya, jika ada paslon yang berhasil menarik perhatian para pemilih pemula ini, sangat besar kemungkinannya memenangi Pilwali 2018.

Pertanyaannya adalah, siapa kira-kira paslon yang akan banyak dilirik oleh para pemilih pemula? Untuk menjawab pertanyaan ini, akan lebih baik jika kita mencoba mendalami lebih dahulu bagaimana karakteristik para pemilih pemula ini. Para pemilih pemula ini, adalah masyarakat berlatar belakang pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda. Setidaknya ada lima catatan yang menggambarkan karakteristik mereka.



Pertama, para pemilih pemula ini biasanya masih labil dan apatis. Kelabilannya ini, sebenarnya bisa menjadi celah untuk dipengaruhi. Tapi hal ini sangat tergantung pada siapa yang memengaruhi mereka, dan dengan menggunakan media apa untuk memengaruhi mereka.

Sebuah penelitian pernah mengungkap, tentang pengaruh penggunaan selebriti untuk menggaet suara pemilih pemula. Dan menurut penelitian itu, cara-cara kampanye dengan menggunakan selebriti cukup efektif untuk menggaet suara pemilih pemula. Mengapa efektif? Iya karena faktor labil tadi.

Di sisi lain, kelompok pemilih pemula adalah kelompok yang mudah sekali merasa apatis dengan politik. Karena itu, jika para paslon menggunakan pendekatan konvensional untuk menggaet suara pemilih
pemula, maka sangat sulit bisa mendapatkan simpati dan suara dari mereka. Cara konvensional itu misalnya kampanye dengan mengundang massa. Atau menggunakan pola-pola orasi para jurkam (juru kampanye) dalam kampanye. Cara-cara seperti ini, bagi para pemilih pemula kurang menarik.

Kedua, para pemilih pemula ini umumnya pengetahuan politiknya kurang. Dengan terbatasnya pengetahuan politik ini, membuat para pemilih pemula cenderung mensimplifikasikan politik. Mereka pun punya pemahaman sendiri tentang partai politik. Esensi dari sebuah kontestasi politik akan dipahami secara pragmatis. Dengan logika mereka sendiri. Karena itu, jika ingin memberikan pendidikan politik kepada mereka, harus lebih dulu memahami karakteristik mereka terlebih dahulu, jika tidak ingin sia-sia.

Ketiga, para pemilih pemula ini umumnya sangat mudah dipengaruhi oleh teman sebaya atau teman sepermainan. Teman sebaya dipercaya tidak hanya bisa memengaruhi persepsi dan tindakan positif, tetapi juga memengaruhi persepsi dan tindakan negatif. Sehingga kecenderungan perilaku politiknya berpotensi homogen dengan perilaku politik teman dekatnya. Karena itu, untuk bisa mendekati dan memengaruhi para pemilih pemula ini, akan lebih mudah jika menggunakan jalur pendekatan kepada teman dekat mereka terlebih dahulu.

Keempat, para pemilih pemula umumnya sangat dipengaruhi keluarga. Di dalam lingkungan keluarga, mereka belajar berdemokrasi untuk pertama kalinya. Faktor keluarga sangat memengaruhi cara pandang mengenai seluk-beluk kehidupan yang ada di sekitarnya, termasuk pendidikan politik diperoleh pertama kali dari ruang keluarga. Berarti, cara mendekati dan memengaruhi kelompok pemilih pemula ini, bisa dilakukan melalui jalur keluarga.

Kelima, para pemilih pemula adalah kelompok yang bisa dipengaruhi oleh media massa. Berarti, salah satu media yang efektif untuk masuk kepada kelompok pemilih pemula adalah dengan media massa.

Nah, para paslon yang berhasil memahami karakteristik para pemilih pemula, lalu menyusun strategi kampanye yang taktis untuk mendekati dan memengaruhi mereka, maka paslon inilah yang akan menarik perhatian para pemilih pemula. Kita lihat saja, strategi kampanye paslon yang manakah yang menarik perhatian para pemilih pemula?

(kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)

Oleh: Kurniawan Muhammad