Pendekatan Kultural Membangun Harmoni Sosial

JawaPos.com – Dalam berbagai kesempatan seminar dan diskusi politik, acap kali tercuat pendapat bahwa suhu politik kian meningkat jelang hari H pelaksanaan pemilihan/pencoblosan 17 April 2019. Pendapat tersebut kiranya tak salah.

Sebab, ibarat sebuah kompetisi, pastilah para peserta berusaha keras dengan segala daya upaya untuk meraih kemenangan. Bisa jadi karena berusaha keras dengan segala upaya itulah, peserta “lupa” bahwa ada aturan main yang seharusnya ditaati. Dalam posisi itulah, aparat kepolisian punya tugas menjaga situasi agar aman, tertib, dan damai.

Berbagai persiapan, mulai menganalisis situasi hingga simulasi pemilu, telah dilaksanakan Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim). Jika dibandingkan dengan pemilu sebelumnya, Pemilu 2019 memiliki potensi konflik yang lebih bervariasi. Potensi paling menonjol yang bisa terjadi adalah maraknya berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian (hate speech) yang disebarkan melalui dunia virtual.

Meski berita bohong dan ujaran kebencian itu marak di dunia virtual, dampaknya cukup besar dalam hubungan sosial. Tidak heran jika ada analisis yang berpendapat bahwa hoaks dan semacamnya itu merupakan “sumber” konflik yang mengancam kerukunan hubungan kemasyarakatan.



Jatim sebagai provinsi besar dengan berbagai rumpun budaya (subkultur) tentu tak terlepas dari persebaran hoaks dan potensi gesekan antar peserta kontestasi Pemilu 2019. Sebagai aparat yang diberi tugas pengamanan, tentu polisi tak bisa bekerja sendirian. Diperlukan dukungan dan kerja sama antarlembaga serta yang pasti partisipasi warga masyarakat Jatim.

Karena itulah, di samping melaksanakan langkah-langkah sebagaimana yang ditetapkan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), polisi melakukan pendekatan pada elemen yang ada dalam masyarakat Jatim. Misalnya tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh budaya, kampus, media, mahasiswa, dan bahkan komunitas milenial. Pendekatan pada kekuatan elemen masyarakat bagi kami merupakan kunci utama terwujudnya situasi aman, tertib, dan damai.

Pada kunjungan ke pondok-pondok, kami senantiasa meminta para alim ulama menjadi garda terdepan dalam meneduhkan dan mendinginkan kemungkinan adanya gesekan politik. Jatim sebagai “provinsi pondok pesantren” kami harapkan bisa menjadi sumber nilai peneduh bagi masyarakat.

Ketika berdiskusi dengan kalangan milenial (mahasiswa dan pelajar), kami pun meminta pendapat dan harapan mereka terhadap masa depan Jatim khususnya dan Indonesia pada umumnya. Demikian juga, dalam kesempatan berdialog dengan kalangan civitas academica kampus, penggiat sosial, awak media, dan elemen lainnya seperti kaum milenial, semua menginginkan situasi yang aman dan tertib.

Belajar berkomunikasi dan berinteraksi langsung dengan orang-orang Jatim, kami kemudian yakin orang-orang Jatim adalah pribadi-pribadi dengan jiwa kesatria unggul. Tradisi komunikasi dengan saling mengungkapkan pikiran dan perasaan yang diinginkan secara terbuka menjadi kunci utama. Sebab, melalui komunikasi terbuka, kita dapat menguraikan akar masalah dan menemukan solusi bersama.

Menempatkan semua pihak sebagai subjek dan bukan objek dalam hubungan sosial berarti melakukan tindakan komunikasi secara adil. Juga menempatkan orang dalam kapasitas terhormat. Istilah Jatimnya “nguwongke uwong”.

Komunikasi tidak sekadar berbicara atau malah berpidato saja, tetapi harus pula mendengarkan. Jadi bukan one way traffic, melainkan two way traffic. Maka kemudian kami yakin seluruh potensi konflik politik tidak akan merebak di Jatim manakala elemen masyarakat dilibatkan dalam proses komunikasi, proses pencarian bersama akar masalah, dan proses menemukan solusi bersama.

Itulah sesungguhnya konsep pengamanan sebuah kehidupan masyarakat. Mereka dilibatkan dalam mengatasi persoalan bersama. Jika pola partisipasi tersebut dikembangkan, stabilitas keamanan Jatim akan terjaga. Dalam posisi demikian, semua warga masyarakat dapat menjalankan aktivitas kehidupan secara ideal.

Selaras dengan situasi kondusif, kaum milenial yang akan menjadi garda utama dalam menyongsong masa depan juga merasa nyaman dalam mengembangkan dirinya. Bisa diduga, kaum muda Jatim akan semakin mampu mewujudkan mimpinya. Menjadi para kesatria unggul. Bukan hanya di wilayahnya, tetapi juga sangat mungkin menjadi tokoh-tokoh penting yang berskala nasional dan global.

Pelajaran berharga dari Jatim selain pola komunikasi terbuka adalah pendekatan kultural atau budaya. Khazanah seni budaya Jatim luar biasa banyak dan indahnya. Karapan sapi itu hanya ada di Madura. Tak ada di negara mana pun di dunia ini. Demikian juga tari gandrung Banyuwangi yang indah, tak ada bandingnya. Belum lagi seni hadrah, reog Ponorogo, wayang kulit, dan sebagainya.

Jatim adalah entitas wilayah dengan keunikan dan keragaman budaya yang khas. Seni budaya adalah ekspresi batin yang bernilai. Tatkala seni itu dijadikan bagian dari pesan komunikasi sosial, terbangunlah ikatan emosi persaudaraan dan luruhlah bibit permusuhan serta potensi konflik.

Karena itu, ke depan aparat kepolisian akan terus mengembangkan pendekatan kebudayaan dan mendorong media komunikasi seni budaya sebagai bagian penting dari proses membangun kondusivitas keamanan. Dalam keterbatasan aparat kepolisian, kehadiran elemen masyarakat akan sangat membantu terwujudnya kehidupan harmonis. Suatu kehidupan yang sesungguhnya menjadi harapan kita semua. (*)

*) Kapolda Jawa Timur

Editor           : Ilham Safutra