Penjajahan dan Kemerdekaan

MEMANG benar, dua pertiga peta dunia dahulu dijajah orang Barat karena orang Timur dan orang Afrika terbelakang dalam semua hal, antara lain kekuatan militernya. Tetapi, sebetulnya ada masalah lain yang lebih hakiki: sikap mental untuk menerima nasib sebagai bangsa jajahan.

Tengoklah, misalnya, ketika Robinson Crusoe sebagai representasi orang Barat bertemu dengan Friday sebagai representasi orang kulit berwarna.

Begitu bertemu, Friday langsung memosisikan diri sebagai budak Robinson Crusoe, dengan jalan bersimpuh, lalu menarik kaki Robinson untuk diinjakkan ke kepalanya.

Itulah sikap mental ingin dijajah, dan, kendati di sana-sini ada resistansi kecil-kecilan, bangsa-bangsa Timur dan Afrika dengan sangat mudah dijajah bangsa-bangsa Barat.



Sikap mental rendah diri itu “klop” berpasangan dengan sikap mental imperialis dan kolonialis Barat. Imperialisme adalah nafsu untuk menguasai orang-orang kulit berwarna dan kolonialisme adalah nafsu untuk menduduki wilayah-wilayah yang bukan miliknya sebagai miliknya sendiri.

Imperialisme tanpa kolonialisme bisa terjadi pada zaman modern: berlakunya pengaruh kuat dari Barat terhadap orang Timur dan Afrika tanpa pendudukan orang-orang Barat di wilayah-wilayah Timur dan Afrika.

Penjajahan, sementara itu, pada umumnya melalui tiga tahap. Yaitu tahap perdagangan; pengenalan kebudayaan, termasuk agama Barat; dan pembentukan pemerintah kolonial. Dalam semua tahap itu, orang Barat selalu dominan dan penduduk lokal selalu menjadi korban. Ambillah, misalnya, Ghana dan Indonesia. Ghana diperas habis-habisan karena gading gajah amat mahal di Eropa, demikian pula rempah-rempah di Indonesia.

Dalam tahap perdagangan itu, muncullah maskapai-maskapai dagang seperti VOC di Indonesia. Karena bangsa-bangsa Barat berebut, timbul pertempuran-pertempuran antarbangsa Barat.

Belanda di Indonesia, misalnya, pernah bertempur melawan Portugis dan Inggris. Karena itu, maskapai-maskapai dagang memiliki militer, dengan kelengkapan unsur-unsur pemerintahan, seperti negosiasi dengan penguasa-penguasa wilayah lokal dengan penuh tekanan. Termasuk juga mahkamah pengadilan dan lain-lain.

Setelah VOC bangkrut pada 31 Desember 1799, demikian pula beberapa maskapai perdagangan para penjajah pada waktu-waktu yang lebih kurang sama, barulah Indonesia dijajah secara resmi oleh Kerajaan Belanda. Dan, India resmi menjadi jajahan Kerajaan Inggris serta Pantai Gading resmi menjadi jajahan Kerajaan Prancis. Pemerasan, pengenalan atau pemaksaan kebudayaan penjajah makin kuat, misalnya dalam sistem pendidikan, agama, dan gaya hidup.

Kekejian Kerajaan Belanda berlanjut. Misalnya keputusan Gubernur Jenderal Daendels membuat Jalan Raya Pos dengan sistem kerja paksa. Tujuannya, memperkuat kontrol terhadap penduduk lokal dan memperkuat jaringan perdagangan demi kepentingan Belanda. Di semua negara jajahan pada masa-masa itu, keadaannya lebih kurang sama.

Beberapa waktu setelah Perang Dunia II berakhir, masa penjajahan juga berakhir. Indonesia, misalnya, memproklamasikan diri pada 17 Agustus 1945, India diberi kemerdekaan oleh Inggris pada 1947, Prancis memberikan kemerdekaan kepada Pantai Gading pada 1960, dan seterusnya.

Karena Indonesia tidak diberi kemerdekaan, melainkan memproklamasikan diri untuk merdeka, situasi dan kondisi Indonesia setelah PD II berakhir berbeda. Karena itulah, bangsa Indonesia mengenal pertempuran hebat melawan pasukan Jepang yang waktu itu masih menduduki Indonesia. Lalu, setelah Jepang menyerah, perang kemerdekaan menghadapi ancaman nafsu Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.

Mengenai proklamasi dan perang kemerdekaan, ada dua butir yang perlu dicatat.

(a). Indonesia menganggap bangsa Indonesia yang melawan Belanda, sedangkan Belanda menganggap mereka ekstremis, maknanya lebih kurang sama dengan teroris.

(b). Indonesia menganggap kemerdekaan Indonesia dimulai pada tanggal 17 Agustus 1945, tapi Belanda dan beberapa negara Barat menganggap Indonesia mulai merdeka pada 19 Desember 1949. Mengapa? Sebab, 19 Desember 1949 adalah tanggal tercapainya kesepakatan antara pemerintah Indonesia yang diwakili Mister Roem dan Kerajaan Belanda yang diwakili Mister Royen untuk mengakhiri sengketa dua bangsa.

Belanda bersedia meninggalkan seluruh wilayah Indonesia, kecuali Irian Barat (sekarang Papua) dengan janji segera dikembalikan kepada pemerintah Indonesia pada waktunya nanti.

Bukan hanya itu, kecuali menahan Irian Barat, Kerajaan Belanda juga masih tidak rela untuk mengakui kemerdekaan Indonesia sepenuhnya. Karena itulah, seluruh wilayah Indonesia ini tidak dijadikan satu sebagai negara kesatuan, melainkan negara federal dengan sekian banyak negara bagian. Akhirnya, bangsa Indonesia secara keseluruhan meninggalkan sistem federal dan NKRI (negara kesatuan) pun terbentuk sesuai dengan aspirasi kemerdekaan para pendahulu kita.

Sementara itu, karena Belanda tetap tidak mau menyerahkan Irian Barat sesuai dengan kesepakatan Roem-Royen, terjadilah pertempuran besar-besaran antara bangsa Indonesia melawan kekuasaan Belanda di Irian Barat yang sekarang menjadi Papua. Banyak pejuang gugur, antara lain Yos Sudarso.

Ada tiga syarat berdirinya sebuah negara. Yaitu, ada penduduknya, ada wilayahnya, dan ada pengakuan dari berbagai bangsa lain. Kemerdekaan Indonesia oleh Belanda dianggap mulai 19 Desember 1949, misalnya, karena pada tanggal itu Belanda merasa bangga dengan istilah “penyerahan kedaulatan kepada Indonesia”.

Tapi ingat, sejak lama Indonesia punya wilayah dan punya bangsa di wilayah itu, dan sejak tanggal 17 Agustus 1945 beberapa negara besar sudah mengakui bahwa wilayah ini adalah Indonesia. (*)

*) Sastrawan dan guru besar Universitas Negeri Surabaya