Pentingnya Literasi Bagi Tumbuh Kembang dan Masa Depan Anak

JawaPos.com – Saat saya masih SMP dan SMA di era 1997-2002, ada satu pelajaran yang menjadi momok kebanyakan teman di kelas, yaitu Bahasa Indonesia. Saya agak heran, mengapa bahasa yang kita gunakan sehari-hari dan merasa hampir tak ada hambatan dalam berkomunikasi, justru menjadi ketakutan tersendiri?

Hal ini terjadi ketika sang guru menugaskan kami dalam kesempatan yang berbeda-beda, baik di SMP atau SMA, untuk membuat karangan. Entah itu berbentuk memoar perjalanan selepas liburan, menulis resensi buku, sampai yang lebih sulit, membuat cerita pendek atau puisi.

Di sanalah saya kemudian menyaksikan, bagaimana kawan-kawan seolah menghadapi problema yang jauh lebih sulit dari soal-soal matematika. Kalau sudah mendapat tugas begitu, ada yang menjiplak cerita dari majalah remaja, komik atau novel dan cerita rakyat, bahkan lirik lagu yang dicaplok untuk mengumpulkan tugas puisi.

Dari sini, saya malah menjadi prihatin. Pendidikan yang diharapkan bisa membentuk karakter mulia, justru hancur dengan kebohongan dan tindakan amoral di dalam institusi pendidikan itu sendiri. Mereka tidak hanya membohongi sang guru agar selamat dalam tugas tersebut, tetapi telah membohongi dirinya sendiri dengan membiasakan diri dengan perbuatan tidak jujur yang entah, akan berulang hingga dewasa atau tidak. Yang jelas, ketika kita terbiasa memaklumi atau dengan sengaja berbuat curang pada skala kecil, maka kita akan berpotensi berbuat kecurangan dalam skala yang lebih besar. Itu mengapa, korupsi, sebagai salah satu perbuatan tidak jujur, tetap ada sampai hari ini.



Dengan pengalaman itu, saya jadi tidak kaget ketika mengetahui hasil riset Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu. Riset itu menempatkan Indonesia menjadi negara dengan minat baca terendah kedua atau peringkat ke-60 dari 61 negara di dunia.

Minat baca di Indonesia masih berada pada angka 1 persen. Artinya dari seribu orang hanya ada satu orang yang memiliki minat baca. Sayangnya, penelitian itu bukan satu-satunya yang menunjukkan betapa memprihatinkannya kemampuan literasi kita.

Ada pula, penelitian Programme for International Students Assessment (PISA) terhadap kemampuan literasi (matematika, sains, dan bahasa) siswa dari berbagai dunia pada tahun 2003, 2006, 2009, dan 2012. Khusus untuk literasi bahasa, tahun 2003 prestasi literasi siswa Indonesia berada pada peringkat ke-39 dari 40 negara, tahun 2006 pada peringkat ke-48 dari 56 negara, tahun 2009 pada peringkat ke-57 dari 65 negara, dan tahun 2012 pada peringkat ke-64 dari 65 negara. 

Penelitian lainnya, dilakukan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada 2006, yang mengkaji 45 negara maju dan berkembang dalam bidang membaca pada anak-anak kelas IV sekolah dasar di bawah koordinasi The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA). Hasilnya menempatkan Indonesia pada peringkat ke 41.

Apa sebabnya kemampuan literasi ini, tak berkembang secara signifikan dari penelitian satu ke penelitian lainnya?

Pertama, budaya. Ya, budaya kita lebih didominasi budaya tutur dan dengar (lisan). Masyarakat kita belum terbiasa dengan tradisi baca-tulis (literasi).

Kita memang bisa membaca. Memang, angka buta huruf sudah menurun secara signifikan seperti yang disampaikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada September 2018 lalu, yakni hanya tinggal 2,07 persen atau sebanyak 3.387.035 jiwa. Sayangnya, kita tak terbiasa atau tidak menjadikan membaca sebagai gaya hidup atau kebutuhan sehari-hari.

Untuk negara dengan tradisi literasi yang baik, pemandangan orang-orang membaca buku saat antre di transportasi dan di tempat umum adalah sesuatu yang lumrah. Tapi di sini, rasanya masih jarang. Coba perhatikan, berapa banyak penumpang KRL yang membaca buku?. Saya lebih sering melihat banyak yang mendengarkan music, menonton video melalui smartphone, mengobrol atau bahkan tertidur. Sedikit sekali yang menghabiskan waktu mereka saat itu dengan membaca.

Kedua, sistem pendidikan yang belum ‘memaksa’ para siswa untuk lebih banyak membaca, menulis dan kegiatan literasi lainnya. Zaman saya duduk dibangku SD hingga SMA, tak sekalipun guru Bahasa Indonesia memberikan target sejumlah buku yang harus diselesaikan para siswa. Hingga sekarang, saya masih mendapati sebagian besar sekolah belum mewajibkan para siswanya untuk melakukan itu.

Lalu, bagaimana minat baca kita akan tumbuh?. Saya mengusulkan beberapa hal agar membaca menjadi gaya hidup dan budaya kita.

Pertama, pihak sekolah mulai menargetkan tiap siswa harus membaca sejumlah buku sebelum lulus. Misal, untuk pelajar SD, selama 6 tahun, mereka harus membaca minimal 36 buku, SMP 40 buku dan SMA 45 buku.

Mekanisme pembuktiannya bisa disepakati. Misalnya, untuk pelajar SD, mereka harus menceritakan isi buku ke depan kelas. Bagi pelajar SMP dan SMA, membuat resensi, dan sebagainya, yang tujuannya untuk memastikan para pelajar telah membaca buku.

Biasanya, ketika memiliki target, kita cenderung akan mencari cara dan strategi untuk menyelesaikannya. Sehingga, para pelajar kita bisa lebih memanfaatkan waktu luangnya dengan membaca buku.

Kedua, pihak sekolah wajib memiliki komunitas literasi sebagai salah satu bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Beragam kegiatan yang menarik dapat dilakukan, antara lain pelatihan menulis, mendongeng, mengunjungi museum, membuat blog dan sebagainya. 

Pihak sekolah juga harus peka terhadap hari-hari besar isu literasi, seperti Hari Aksara Internasional 8 September, Hari Kunjung Perpustakaan 14 September, Bulan Bahasa dan Sastra diperingati pada bulan Oktober, dan sebagainya.

Sedapat mungkin, pada momen-momen tertentu, pihak sekolah menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan orangtua, misalnya lomba pidato, lomba baca puisi, lomba menulis cerita, lomba mendongeng, atau pameran karya siswa dan sebagainya.

Ketiga, pihak sekolah bisa membuat aksi kolaboratif bersama komunitas dan masyarakat sekitar sebagai wujud tanggung jawab sosial dan pendidikan untuk peningkatan kemampuan literasi di sekitarnya. Pihak sekolah tidak hanya ‘peduli’ pada anak didiknya saja, melainkan juga masyarakat sekitar, yang secara simultan, sejatinya telah mengajarkan kepedulian para siswa kepada lingkungan.

Kalau sekolah sudah ‘getol’ berliterasi, maka kita juga harus menghadirkan nuansa literasi yang senafas di rumah bagi anak-anak kita. Jangan sampai, antara sekolah dan rumah, memiliki perbedaan yang tajam, sehingga literasi hanya akan menjadi slogan, bukan kebutuhan.

Untuk itu, perlu kiranya bagi para orangtua melakukan berbagai upaya, agar anak-anak mencintai literasi. Pertama, membiasakan diri dan keluarga untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan membaca. Misalnya saat antre, saat menunggu, atau saat berada di transportasi umum. 

Kedua, biasakan anak-anak ‘seakrab’ mungkin dengan buku. Bisa mengajaknya untuk mengunjungi perpustakaan atau toko buku di akhir pekan, membacakan dongeng setiap malam, atau memintanya menceritakan kembali buku yang sudah dibacakan. Untuk anak, yang lebih penting adalah pembiasaan dan nuansa mencintai kegiatan literasi oleh para orangtuanya sebagai teladan.

Ketiga, buka perpustakaan ‘mini’ di rumah. Ajak teman-teman dari anak kita untuk membaca bersama. Ini perlu juga berkomunikasi dengan orangtua lain, agar memiliki visi yang sama sehingga program literasi bisa berjalan di skala yang lebih luas, yaitu di lingkungan tempat tinggal kita.

Semoga ikhtiar kecil ini, menjadi awal kesadaran untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang bersaing di masa depan.

 

Editor           : Kuswandi