Percakapan di Meja Makan

Saya mengenal tortilla bertahun-tahun lalu dari novel John Steinbeck Dataran Tortilla tetapi belum pernah merasakannya dan, ketika ia tersaji di hadapan saya, saya tidak tahu prosedur memakannya. Mereka mempersilakan saya dan saya meminta Jacob, anak mereka yang duduk di kelas III SD, untuk mengambil lebih dahulu. ’’Saya akan menirumu, Jacob,” kata saya.

Mengikuti anak kecil itu, saya mengambil selembar tortilla, membubuhinya dengan adonan kacang merah dan daging, lalu irisan mentimun dan sayur-sayuran. Jacob tidak mengambil sambal, saya membubuhkan tiga sendok kecil.

Selesai makan lembaran pertama, kami bercakap-cakap sebentar. Lalu, Johannes mengambil selembar tortilla lagi dan mempersilakan saya sekali lagi. Kali ini saya berniat memberi mereka atraksi. ”Boleh sambalnya saya habiskan?” tanya saya. Silakan, kata mereka.

Jacob dan adik perempuannya, yang masih kelas I, melihat saya dengan rasa ingin tahu apa yang bakal terjadi pada saat saya menghabiskan semangkuk sambal, yang menurut mereka sangat pedas tetapi menurut saya tidak sama sekali. Mereka terlihat takjub seperti sedang menyaksikan atraksi sulap yang baru sekali itu mereka jumpai seumur hidup.

Ketika saya mulai mengunyah tortilla saya, mereka berempat menanti –dengan harap-harap cemas– apakah mulut saya akan terbakar dan wajah saya memerah oleh rasa pedas. Dan apa yang mereka tunggu tidak terjadi. Seperti tidak ada efeknya sama sekali, kata Johannes.

Saya mengangguk dan menyatakan senang sekali ketika Maija menanyakan apakah saya senang di Finlandia. Saya menyukai kesunyiannya, saya menyukai ketenteraman yang dihadirkan oleh alam yang sunyi, tetapi yang paling saya sukai adalah orang-orangnya. ”Saya menikmati percakapan dengan setiap orang di tempat ini,” kata saya.

Bagaimanapun, saya datang dari tempat dengan manusia yang padat dan riuh, bisa mendengar suara motor dan orang jualan yang melintas tak putus-putus, dan tiap lima menit bisa bersenggolan bahu dengan orang-orang lain.

Mereka menanyakan Gunung Agung yang mengeluarkan asap dan debu. Beberapa hari sebelumnya Johannes menanyakan kebakaran pabrik kembang api di Tangerang yang menewaskan 48 orang dan melukai lebih dari 40 lainnya. Berita kebakaran itu saya ketahui dari orang-orang yang menanyakannya kepada saya; saya sendiri tidak banyak membaca berita dari Indonesia. Waktu saya di Finlandia hanya tiga bulan; saya tidak ingin mengganggu waktu yang pendek itu dengan berita-berita yang terlalu riuh dan komentar-komentar yang berisik.

Namun, mereka membaca, mungkin untuk mendekatkan diri dan mendapatkan topik pembicaraan yang mereka pikir dekat dengan saya. Dan kebakaran pabrik kembang api di Tangerang itu rupanya menjadi berita cukup penting bagi media-media online besar luar negeri. Mereka menjadi tahu bahwa gaji buruhnya sangat kecil dan orang-orang itu kehilangan nyawa untuk pekerjaan yang memberi mereka gaji sangat kecil.

Kabar buruk itu memberikan perasaan agak kikuk dan saya hanya menanggapi singkat: Apinya sudah padam dan sekarang orang-orang sedang tuding-menuding saling menyalahkan.

Ketika mereka menanyakan situasi politik dan orang-orang beragama yang sibuk berpolitik di Jakarta, saya mengatakan bahwa secara umum kami baik-baik saja dan situasi politik jauh lebih baik ketimbang di masa Orde Baru.

”Kami sekarang tidak dibungkam untuk menyuarakan apa saja,” kata saya. ”Memang ada beberapa orang fanatik yang suka bersuara keras, tetapi yang seperti itu juga terjadi di tempat-tempat lain, dan di tempat kami jumlahnya tidak banyak. Kami punya dua ratus juta orang lebih dan beberapa orang itu artinya sedikit sekali.”

Tentu jumlah mereka cukup banyak untuk memenuhi layar televisi dan suara mereka menarik bagi wartawan yang memburu sensasi dan kegaduhan. Sementara jumlah mayoritas, yakni orang-orang yang beragama untuk menjadi orang yang baik bagi sesama manusia, lebih banyak diam. Wartawan tidak menulis berita tentang orang-orang yang diam dan ingin hidup baik-baik saja.

Sebetulnya saya akan lebih senang menceritakan ketua parlemen yang mengalami banyak kesialan: tersangkut kasus korupsi e-KTP, jantungnya mengalami masalah, mobilnya menabrak tiang listrik, dan mungkin akan ada lagi masalah lainnya. Namun, saya tidak ingin membuat mereka heran bagaimana mungkin ada ketua parlemen seperti itu.

Selain itu, saya tidak ingin ditanya kenapa memilih ketua parlemen yang seperti itu, meskipun mudah menjawabnya: O, bukan kami yang memilih dia, melainkan Tuhan. Tuhan yang menakdirkannya menjadi ketua parlemen.

Jacob dan adiknya terlihat mulai mengantuk saat kami bercakap-cakap. Maija membawa mereka ke kamar; saya mengucapkan selamat tidur dan salam perpisahan: ’’Setidaknya kalian bisa mengingat seumur hidup bahwa pada suatu malam kalian pernah duduk semeja makan dengan seorang paman dari Indonesia dan ia menghabiskan semangkuk cabai. Semoga mimpi kalian indah malam ini.’’ (*)


(*Peserta program residensi kepenulisan di Finlandia 2017)