Perguruan Tinggi di Era dan Generasi Milenial

DI mana dan apa posisi yang mesti dikembangkan oleh perguruan tinggi (PT) dalam menyikapi kehadiran era dan generasi milenial? Pertanyaan itu tak pelak kini menjadi tantangan yang harus dihadapi insan kampus di bawah kepemimpinan Nadiem Makarim, founder dan mantan CEO Gojek yang baru saja diberi amanah Presiden Jokowi sebagai Mendikbud di usia yang baru 35 tahun.

Mahasiswa di era milenial umumnya didominasi anak muda yang memiliki karakteristik khas. Berbeda dengan generasi mahasiswa sebelumnya yang cenderung antinegara dan terlibat dalam berbagai gerakan politik yang menentang status quo, di era kekinian kebanyakan mahasiswa cenderung bersikap apolitis, suka traveling, dan tidak tertarik untuk bekerja di perusahaan besar yang mengharuskan mereka rutin berkantor.

Mahasiswa milenial adalah sosok baru anak muda yang bercita-cita terlibat dalam berbagai pekerjaan yang anti-mainstream, yang tidak mengharuskan mereka rutin dan rigid bekerja berdasar jam kantor. Mahasiswa masa kini adalah anak muda yang bercita-cita masuk dan dapat berkecimpung di dunia start-up atau kerja-kerja yang fleksibel, bisa dikerjakan dari mana pun, entah di rumah, kafe, atau kantor yang mobile.

Komplementer

Ketika ditanya apa cita-cita anak muda di era milenial ini, jangan berharap mereka bakal menjawab ingin menjadi dokter, insinyur, atau diterima bekerja di perusahaan multinasional berskala raksasa. Idola generasi milenial adalah sosok-sosok baru seperti Atta Halilintar, Ria Ricis, atau para youtuber dan blogger lain yang mampu meraup penghasilan miliaran rupiah sembari tetap eksis karena kreativitas dan produktivitasnya.

Satu hal penting yang dipelajari generasi milenial adalah ketidakpastian kondisi perekonomian nasional maupun global yang sering kali mengancam kelangsungan perusahaan besar yang lambat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi (TI). Pengetahuan mereka tentang situasi ekonomi riil yang berasal dari berbagai situs online itulah yang membuat anak muda sekarang tidak lagi antusias untuk terlibat dalam pekerjaan konvensional. Bagi mahasiswa milenial, pintu-pintu untuk mengejar impian mereka kini makin terbuka dan terdiferensiasi –bergantung mereka siap atau tidak.

Kuliah di kampus ternama dan belajar bidang keilmuan yang mereka minati memang tetap menjadi impian anak muda milenial. Tetapi, di mata mereka, kampus atau PT tampaknya tidak lagi menjadi tangga atau eskalator satu-satunya untuk meraih impian di masa depan. Di era milenial seperti sekarang, ada kesan kuat bahwa kampus hanya memiliki fungsi komplementer yang menjadi bagian dari identitas sosial anak muda. Namun, di luar itu, kunci sukses tetap bergantung pada kreativitas tiap-tiap anak muda itu sendiri.

Mahasiswa di era milenial adalah kelompok anak muda yang telah menyadari bahwa tantangan yang mereka hadapi saat ini dan ke depan telah berubah. Sebuah kajian terbaru yang dilakukan oleh Grace dan kawan-kawan dari Future of Humanity Institute, Universitas Oxford, menyatakan bahwa salah satu ancaman serius yang dihadapi masyarakat adalah perkembangan teknologi robot dan kecerdasan buatan (AI).

Menurut 352 ahli kecerdasan buatan yang diwawancarai tim riset dari Oxford, ke depan yang terancam oleh kehadiran teknologi dan robot bukan hanya pekerjaan-pekerjaan manufaktur yang dilakukan oleh pekerja kasar. Tetapi juga pekerjaan profesional yang dilakukan oleh orang-orang berkerah putih atau para sarjana lulusan kampus.

Tim riset Oxford memperkirakan, pada 2024 robot dan kecerdasan buatan akan mampu menerjemahkan bahasa secara sempurna, pada 2026 perkembangan AI bakal mampu menulis tugas sekolah di tingkat SMA, dan pada 2027 akan mampu mengendarai truk. Lalu, pada 2031 akan mengambil pekerjaan manusia dalam ritel, menulis buku pada 2049, dan menjadi ahli bedah pada 2053.

Berbagai ancaman serius dari perkembangan teknologi informasi, AI, dan robot itulah yang bakal dihadapi mahasiswa di era milenial. Pertanyaannya: Apa yang kemudian harus dilakukan oleh PT di Indonesia dalam menyikapi berbagai perkembangan baru itu?

Tantangan PT ke Depan

Menghadapi perubahan karakteristik mahasiswa di era milenial, PT mau tidak mau harus menempatkan mahasiswa sebagai subjek atau sentral dari seluruh proses pembelajaran yang dikembangkan. Mahasiswa di era milenial bukanlah bejana kosong yang terus-menerus perlu diisi berbagai pengetahuan. Mereka harus dipahami sebagai pribadi-pribadi atau subjek yang memiliki keunikan dan kreativitas masing-masing.

Pertama, di era milenial PT tidak mungkin lagi mengandalkan metode pembelajaran yang menghomogenisasi mahasiswa. Kampus yang terjerumus lebih mengedepankan pertimbangan komersial dan mengejar target menerima mahasiswa baru dalam jumlah besar di luar pagu yang semestinya niscaya akan terjebak dalam proses pembelajaran yang klasikal, masal, dan mengabaikan potensi per satuan mahasiswa.

Kedua, PT tidak lagi cukup hanya fokus pada upaya pengembangan keterampilan profesional dan pengetahuan keilmuan mahasiswa. Kampus juga harus mampu membangun fondasi yang kukuh bagi tumbuhnya sikap kritis mahasiswa. Sebagai bagian dari net generation, mahasiswa di era milenial umumnya memiliki akses yang sangat terbuka terhadap berbagai sumber informasi, yang mana hal itu akan menjadi modal bagi pengembangan sikap kritis yang hakiki.

Ketiga, PT di era milenial juga dituntut mampu mendampingi mahasiswa untuk tumbuh menjadi sosok yang senantiasa memiliki kepekaan, kepedulian, dan empati kepada sesama agar mereka tidak tumbuh sebagai sosok-sosok yang asosial, acuh tak acuh, dan soliter.

Di bawah kepemimpinan Nadiem Makarim, tantangan yang dihadapi ke depan sesungguhnya bukan hanya bagaimana PT mampu mencetak lulusan yang profesional dan kreatif. Yang tak kalah penting adalah bagaimana menghasilkan lulusan yang memiliki kombinasi sikap kritis, kreatif, tetapi tetap memiliki hati. Bagaimana pendapat Anda? (*)