Perlu Atur Ritme dan Jaga Stabilitas Performa

JawaPos.com – Debat kedua capres sudah terlaksana Minggu (17/2). Berdasar hasil olah data Speaktograph, ada beberapa kesimpulan yang kami hasilkan. Secara umum, para capres perlu menjaga stabilitas performa di semua sesi. Khusus untuk Prabowo, tampak all-out di awal, tapi kekurangan ide pada sesi III, IV, dan V. Sehingga kata-kata yang terucap masih bersifat general dan normatif.

Sedangkan Jokowi perlu mengontrol performa, terutama pada sesi awal, yaitu sesi I dan II. Saat itu konsentrasi Jokowi terpecah sehingga sempat blank di awal. Karena itu, ada baiknya kedua capres mempertimbangkan beberapa hal.

Pertama, kontrol diri dan ketenangan emosi dibutuhkan untuk mampu menguasai debat. Kedua, emosi sering berdampak salah ucap sehingga dapat menjadi bumerang. Ketiga, penguasaan materi dibutuhkan melalui pemahaman kuat terhadap isu strategis dan terkini. Adu gagasan yang berbasis data dibutuhkan untuk meyakinkan penonton agar opini yang tersampaikan bukan terlihat sekadar klaim.

Melihat performa Prabowo yang all-out di awal, tapi kekurangan ide pada sesi III, IV, dan V, ada baiknya Prabowo mengurangi menyerang Jokowi dalam hal capaian kerja. Prabowo sebaiknya tidak mengkritik, kecuali mempersiapkan counter. Sebab, jawaban Jokowi merujuk pada data. Karena itu, Prabowo sebaiknya mempersiapkan pembacaan data tersebut. Jika merasa lemah di persaingan data, Prabowo dapat menguatkan konsep dan gagasan.



Pada pemaparan visi-misi, Prabowo dan Jokowi cukup berhasil memulai debat dengan gaya dan ritme masing-masing. Prabowo membuka pemaparan dengan ritme cepat. Capres nomor urut 02 itu memaparkan programnya dengan padat. Angka rasio jeda hanya 1,5 persen. Prabowo menekankan pentingnya swasembada pangan dan energi hingga memperhatikan kehidupan petani. Sedangkan Jokowi menekankan pentingnya penegakan hukum dan kebijakan energi yang ramah lingkungan.

Ketidaklancaran dialami Jokowi saat sesi kedua. Jeda hingga 14,5 persen terjadi karena Jokowi sempat terdiam sesaat, terutama pada bagian pertanyaan soal infrastruktur. Sedangkan Prabowo masih tampil dengan ritme cepat sehingga jedanya hanya 0,5-3,0 persen.

Di sesi III, Prabowo tercatat mengalami penurunan performa. Manajemen tenaga yang kurang baik mengakibatkan ketidakstabilan sehingga angka jeda sebesar 15 persen. Di sesi pembahasan lingkungan dan agraria, Jokowi terlihat stabil dalam menjawab pertanyaan dengan jeda 8 persen.

Dari catatan frekuensi pengulangan kata, Jokowi ingin menegaskan kepada audiens tentang capaiannya dalam pembagian sertifikat tanah. Sedangkan Prabowo sering mengulang kata yang berkaitan dengan masalah perusahaan dan lingkungan.

Di sesi IV, performa Prabowo kembali menurun. Itu terlihat dari sedikitnya jumlah kata yang terucap dari Prabowo jika dibandingkan dengan Jokowi. Sedangkan pada sesi V, keduanya terlihat stabil lagi dari segi jeda dan penyampaian. Angka jeda Jokowi 7,5 persen dan Prabowo 4 persen. Di sini, kata kunci pembicaraan Prabowo berkaitan dengan masalah pemerintah dan perusahaan. Sedangkan Jokowi menekankan pada kekayaan laut dan pemfungsian bank untuk mengatasi kemiskinan nelayan.

Dari lima sesi itu terlihat, Jokowi memiliki gaya bicara stabil dengan jeda 7-8 persen. Sedangkan Prabowo memiliki stabilitas di kisaran 0-4 persen. Kami juga mencatat, penurunan performa dialami Jokowi pada sesi kedua bagian pertama. Sedangkan Prabowo mengalami hal tersebut pada sesi III dan IV. Dari segi pernyataan yang berbasis data, Jokowi mengungguli Probowo.

Dari jumlah pernyataan yang berbasis data, Jokowi mengungguli Probowo dengan angka 30 berbanding 16. Ketika Prabowo melemparkan kritik dengan mengeluhkan kondisi Indonesia, capres petahana mampu menyajikan data untuk meresponsnya. Akan jadi lebih menarik jika Prabowo telah menyiapkan kemungkinan data yang akan dirujuk Jokowi dan melakukan telaah kritis.

Kesamaan debat kali ini dengan sebelumnya terdapat pada segi kecenderungan. Prabowo meng­angkat tema keluhan dan kritik. Hal itu semula menjadi andalan untuk menyerang petahana. Namun, di debat kedua, petahana telah memperkirakan strategi lawan dan menyiapkan counter. Kritik dan keluhan tersebut -berdasar jumlah pernyataan berbasis data- justru berhasil dimanfaatkan oleh Jokowi untuk menyampaikan capaian-capaiannya selama menjadi presiden. (*)

Editor           : Ilham Safutra