Pertemuan dan Perpisahan, Retorika Sebuah Perjalanan Hidup

Deka Adrianto Utomo

Dalam sebuah kehidupan yang berjalan dan dinamis, setiap pertemuan pasti diakhiri dengan perpisahan. Kenyataannya memang seperti itu. Pertemuan terkadang menjadi sebuah hal yang tidak mengenakkan. Kenapa harus berpisah?

Entah kenapa, ketika mendengar kata berpisah raut wajah selalu berubah berkerut dan terkadang membuat air mata selalu ingin tumpah keluar. Perasaan sedih mengalir dan datang begitu saja ketika kata berpisah itu terucap. Tapi, kita sebagai manusia atau individu yang memiliki rasa sosial bisa apa? Semua harus seperti itu, perpisahan itu memang harus terjadi.

Berpisah sudah menjadi hal yang lumrah terjadi dalam hidup. Ketika lulus sekolah kita mesti berpisah dengan teman-teman sekelas. Bahkan jika ada yang memilih kuliah di luar kota juga mesti harus berpisah dengan keluarga. Ketika bekerja seringkali kita dihadapkan dengan beberapa pilihan yang menuntut kita harus mengambil keputusan berpisah dan memilih resign, tentu perpisahan memang sebuah retorika perjalanan hidup dan pilihan yang memang harus dijalani.

Perpisahan itu tak perlu disesali. Perpisahan tidak menutup jalan untuk tetap melakukan komunikasi, melakukan hubungan silahturrahmi satu dengan yang lainnya.

Lantas bagaimana dengan rasa yang sempat tertumpah? Apakah harus begitu saja hilang?



Perpisahan memang merupakan hilangnya wujud suatu benda atau orang sehingga kita tak bisa lagi melihat dengan jelas bagaimana rupa dan wajah orang tersebut sebagaimana yang sering kita lihat ketika sebelum terjadinya perpisahan. Namun, sebuah perasaan tak bisa dibohongi, perasaan itu akan selalu tetap melekat sampai kapanpun walaupun dipisahkan oleh jarak, ruang waktu bahkan dipisahkan oleh dunia yang berbeda.

Sebagai makhluk sosial dan dibekali oleh akal dan pikiran mengenang mungkin hal yang pantas dilakukan untuk kembali membangun perasaan itu. Bagaimana mencoba mengingat kembali kenangan saat-saat bersama, ketika sama-sama tertawa, sama-sama menangis. Kenangan tersebut akan memberikan kekuatan baru untuk bertemu dengan perpisahan. Mengenang juga akan menimbulkan perasaan rindu.

Perasaan rindu itu pula lah yang membuat perpisahan menjadi semakin lebih berarti. Ketika kita pernah mempunyai perasaan rindu berarti telah membuat berpisah menjadi suatu hal yang yang tidak menyakitkan lagi. Sebab, rindu akan membangkitkan kembali rasa yang tertinggal.

Namun, apakah rindu harus dibayar dengan pertemuan? Mungkin tidak, sebab ketika pertemuan tidak berhasil maka kita bisa kembali pada rencana awal yaitu mengenang dan selalu akan tertancap kenangan itu di hati dan perasaan.

Bagaimanapun itu kita harus menyadari bahwa itu sudah menjadi garis dan kodrat dari hukum alam bahwa jika perpisahan itu harus terjadi dan memang harus dilaksanakan. Hanya saja, kita harus percaya jika semangat atau rasa itu suatu saat bisa tumbuh kembali oleh ruang dan waktu yang berbeda.

Sebuah perpisahan hanyalah suatu masa atau jenjang waktu yang terputus agar kita dapat menyerahkan dan mengingat perasaan yang sempat ada dan sempat atau terjadi dalam proses kehidupan kita yang sudah berjalan.

Penulis : Deka Adrianto Utomo