Petunjuk Memilih Presiden

JawaPos.com – Kapankah kegaduhan suasana menjelang pemilihan umum presiden dan wakilnya ini akan berlalu?. Hari pencoblosan 17 April 2019 memang tidak lama lagi. Tapi, sudah terlalu lama hari-hari ini dibiarkan dijadikan ajang adu domba, menyingkap aib, menyebarkan ujaran kebencian dan permusuhan, serta melampiaskan dendam masa lalu.

Siapa yang sebaiknya kita pilih? Aturlah napas sejenak, lalu dengar kata hati berbicara. Ikutilah ia. Hati selalu lebih dulu tahu kita akan diajak pada kebaikan atau keburukan.

Kita terlampau sedikit merenung dalam keheningan dan lebih suka diombang-ambing kesimpangsiuran yang ingar-bingar sehingga mudah hanyut terbawa arus. Memang, siapa pun boleh memberi pengaruh, sebagaimana kita juga punya kebebasan menerima atau menolaknya. Karena itulah, alangkah baiknya jika kita mulai memberi porsi pada diri untuk mendengar kejernihan suara dari dalam.

Letakkan telepon pintar Anda beberapa saat. Juga matikan televisi sejenak. Ambil jarak dari media sosial dan pemasok opini yang semakin tidak keruan menumpahkan hal-hal yang bahkan tidak kita perlukan.



Kian lama kita kian brutal mengambil informasi. Tidak lagi secukupnya, tapi sepuasnya. Sampai kita muak dan muntah gara-gara keserakahan kita sendiri meladeni ego harus tahu segala hal tentang dunia dan dunia harus tahu segala hal tentang kita.

Kita tidak memberi ruang pada rahasia, misteri, kegaiban, dan keajaiban. Segala hal saat ini seolah harus masuk akal dan serba terukur. Calon presiden dan wakilnya seakan semata-mata harus dilihat dari program-programnya. Bukan lagi pada sosoknya. Padahal, tanpa disadari, itu mengarahkan perjalanan bangsa menjauh dari jati diri. Kita menoleh ke barat, padahal timurlah cakrawala semesta bagi matahari terbit.

Kita, yang diarahkan para elite politik, menuntut kedua pasangan calon presiden dan wakilnya memaparkan program-programnya, bahkan dalam debat. Tapi, kita tetap saja lebih gemar menghakimi sosoknya. Menyematkan nama-nama buruk sebagai bahan olok-olok. Tidak adil dan beradab sejak dari pikiran sehingga program-program apa pun dari lawan politik dicap sebagai serangan musuh.

Padahal, lebih dari sekadar euforia politik, pemilihan pemimpin nasional seharusnya kita jadikan momentum sakral untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebab, siapa pun yang terpilih sebagai presiden, ia menentukan masa depan Indonesia tak hanya dalam masa lima tahun ke depan. Entah sampai kapan kita akan masih saja meminta petunjuk hanya dari pakar politik dan lembaga survei, bukan dari Tuhan.

Kita, anak bangsa Timur ini, tidak lagi suka membaca tanda-tanda alam dan bahasa tubuh yang ditampakkan pada sosok para calon pemimpin nasional. Kita tidak mau lagi melihat kedalaman dan oleh karena itu mudah ditipu oleh hal-hal artifisial, permukaan yang terus-menerus dipoles dengan alibi dan klaim kebenaran. Di Jawa, misalnya, kini barangkali sudah benar-benar dianggap kuno membahas wahyu keprabon.

Mitos wahyu keprabon adalah keyakinan betapa Tuhan berkehendak memberikan kekuasaan kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Pendekatan rohaniah itu bukan tanpa dasar. Dalam Islam diajarkan pula, Allah memberikan kerajaan dan kemuliaan kepada siapa pun yang Dia kehendaki (QS Ali Imran [3]:26-27). Lalu, entah mengapa masih ada saja yang menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan.

Di sisi lain, di antara riuh rendah dukung-mendukung pasangan calon 01 dan 02, ada pula suara yang menghendaki tidak memilih dua-duanya. Tidak memilih juga pilihan. Tapi, teori itu tak berlaku di toko baju mana pun.

Siapa yang tak memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya, ia tak mendapat hak-hak pembeli. Ia hanya menambah panjang antrean di kamar pas. Betulkah tak ada demokrasi di toko baju? Tapi, benarkah tak ada spiritualitas dalam demokrasi?

Jika agama saja diibaratkan baju, agama ageming aji, agama adalah pakaian untuk kemuliaan, maka menentukan pemimpin bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara adalah bagian dari pelaksanaan ajaran agama. Jika baju yang kita pilih itu cocok, niscaya ia memperbagus keadaan dan keberadaan kita. Tapi, apakah mereka yang tidak memilih baju bisa disebut lebih memilih tak berbaju? Adakah makna lain?

Alangkah arif dan bijaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangku Negara IV tatkala berpetuah dalam Serat Wedatama. Segala yang kita pilih dan pakai saat ini seyogianya menjauhkan kita dari keburukan dan menjadi teladan bagi masa depan. Pun harus dibingkai dalam kehalusan budi pekerti agar apa yang kita lakukan itu menjadi pelajaran luhur, sebagaimana ajaran agama.

Pada Pupuh Pangkur bait pertama, Sang Raja berpesan, “Mingkar mingkuring angkara, akarana karenan mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinurba sinukarta, mrih kretarta pakartining ngelmu luhung, kang tumrap ning tanah Jawa, agama ageming aji.” Kurang lebih, maknanya semoga telah tersampaikan di atas. Sekarang marilah meminta petunjuk kepada Allah untuk memilih pemimpin kita. (*)

Editor           : Ilham Safutra