Pilot Harus Bebas Narkoba

Bayangkan apa jadinya kalau pilot menerbangkan pesawat dalam kondisi ”fly”. Ratusan nyawa penumpang menjadi taruhannya. Memang, pesawat terbang adalah moda transportasi yang dilengkapi teknologi canggih. Fitur-fitur keamanan sangat detail dan lengkap. Tapi, tetap saja ada pilot yang bertanggung jawab atas keselamatan penerbangan. Kalau pilotnya nggak bener, nyawa ratusan penumpang terancam.

Tidak mudah menjadi pilot. Harus melewati pendidikan yang ketat. Seleksinya pun tidak main-main. Ketika naik pesawat, pilotlah tumpuan harapan untuk membawa kita ke tempat tujuan dengan selamat. Karena tanggung jawabnya yang begitu besar, seorang pilot diganjar bayaran tidak sedikit. Maskapai penerbangan pun menempatkan pilot sebagai karyawan paling penting.

Pilot Maesa bisa jadi hanya oknum. Masih banyak pilot yang hebat dan bersih dari narkoba. Yang pasti, semua instansi terkait harus bertindak mencegah kejadian serupa. Pihak maskapai harus memastikan bahwa pilot-pilot mereka dalam kondisi fit ketika bertugas. Pemeriksaan kesehatan secara rutin wajib dilakukan secara serius. Bukan sekadar rutinitas untuk menggugurkan kewajiban.

Regulasi tes kesehatan pasti ada di setiap maskapai. Masalahnya, apa hal itu sungguh-sungguh dijalankan? Bisa jadi memang dijalankan, tapi tidak maksimal. Bisa jadi memang dilakukan tes kesehatan, tapi ala kadarnya. Celakanya adalah bila pemeriksaan kesehatan kepada pilot dan kru penerbangan itu ternyata sering diakali. Seharusnya enam bulan sekali, misalnya, dijalankan hanya setahun sekali.

Ingat, ada nyawa yang dipertaruhkan dalam setiap rute penerbangan. Pengawasan terhadap kru pesawat harus ekstraketat. Utamanya kepada pilot. Kalau pihak maskapai tidak memiliki iktikad baik untuk memeriksa kesehatan krunya, pemerintah harus turun tangan. Badan Narkotika Nasional (BNN) wajib turun gunung. Kalau penumpang saja diperiksa sedemikian ketat sebelum naik pesawat, hal yang sama harus dilakukan kepada pilot dan kru yang lain.


(*)