PIPP, Jembatan Komunikasi Lembaga Riset dengan Masyarakat Pertanian

Dia heran, sebagai kampus pertanian paling berpengaruh di Indonesia, lulusannya lebih banyak berkarier di perbankan. Pun di sejumlah perusahaan pelat merah alias milik pemerintah. Jokowi mengklaim banyak berasal dari IPB.

“Maaf, Pak Rektor, mahasiswa IPB banyak yang bekerja di bank. Saya cek direksi-direksi perbankan. BUMN itu yang banyak dari IPB, manajer-manajer tengah banyak berasal dari IPB. Terus yang ingin jadi petani siapa ini,” kata Jokowi saat menghadiri acara Dies Natalies ke-54 Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kritikan tersebut harus dijadikan momentum untuk berbenah. Secara tersirat, Jokowi sejatinya menaruh harapan besar pada para mahasiswa untuk bisa berperan dalam mengembangkan sektor pertanian di Indonesia. Sehingga, misi mulia pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan dapat direalisasikan.

Urgensi Keberadaan PIPP

Ketika jumlah penduduk Indonesia sudah menembus angka 200 juta lebih, pemerintah hingga saat ini belum bisa mencukupi ketersediaan pangan. Sejumlah komoditi yang notabene menjadi kebutuhan utama masyarakat, sebut saja daging sapi, masih harus mengekspor.

Pertanyaan yang konstruktif ini harus dijawab oleh para akademisi dan mahasiswa yang banyak belajar terutama di bidang pertanian serta stakeholder/pemangku kepentingan terkait pembangunan pertanian ini.

Hal tersebut yang mendasari para petani berharap besar pada inovasi dan hasil riset yang dilahirkan dari mahasiswa maupun para akademisi serta peneliti apalagi yang sudah menghasilkan HAKI. Namun petani kita belum merasakan betul manfaatnya terhadap tranformasi inovasi dan teknologi pertanian yang lebih modern.

Banyak hasil-hasil riset mahasiswa dan dosen di kampus atau lembaga-lembaga penelitian, belum disebarkan secara optimal ke masyarakat.

Penyebabnya belum adanya lembaga atau pusat informasi yang secara khusus mendiseminasikan informasi pembangunan pertanian ke masyarakat.

Kalaupun ada, jumlahnya terbatas dan belum menjangkau ke pelosok-pelosok desa, yang menjadi basis pertanian kita. Salah satu solusi yang bisa ditempuh adalah mengoptimalkan keberadaan PIPP (Pusat Informasi Pembangunan Pertanian) yang notabene sudah menjadi kebutuhan.

Ketia zaman orde baru, program diseminasi ini sudah ada dan sudah berjalan dengan baik seperti Kelompencapir (kelompok pendengar, pembaca dan pirsawan), sekalipun memang sifatnya masih top down.

Tetapi sejak reformasi model-model komunikasi seperti ini dihilangkan yang ada tinggal penyuluh di lapangan yang kurang melakukan inovasi dan update terhadap perkembangan informasi dan teknologi pertanian. Perlu sinergi dalam berbagai bentuk antara penyuluh dengan lembaga-lembaga penelitian dan kampus pertanian sebagai lembaga pendidikan

PIPP adalah sebuah lembaga independen yang bertugas sebagai jembatan komunikasi antara lembaga-lembaga riset ilmiah dengan masyarakat di pedesaan.

PIPP diperlukan untuk menyediakan informasi pembangunan secara berkelanjutan, mendukung modernisasi pertanian dalam menggunakan teknologi baru, hingga aspek pengembangannya ke petani melalui sumber yang dapat terjamin oleh petani (Lionberger dan Gwin, 1982).

Keberadaan PIPP sebagai pusat informasi pembangunan pertanian sudah seharusnya bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat pedesaan. Tidak hanya dimanfaatkan tetapi diberikan kemudahan dalam mengakses informasi.

Apalagi dengan trend perkembangan teknologi komunikasi sekarang seharusnya petani bisa mengakses dengan mudah dan cepat tanpa adanya kendala. Selain itu keberadaan Cyber extention juga bisa dioptimalisasi. Jangan sampai PIPP ada namun dalam mengakses informasi saja sulit untuk dilakukan.

Menurut Pakar Komunikasi Pembangunan IPB Dr. Ir. Amirudin Saleh, MS, fungsi utama PIPP antara lain selalu mempunyai hubungan dengan berbagai macam informasi yang aktual, seleksi informasi agar akurat, kredibel, aksesibilitas dan melakukan interpretasi hasil riset sesuai dengan kebutuhan petani.

Jenis PIPP secara umum yakni media cetak, media siaran, media sosial digital sebagai sarana pusat informasi. PIPP juga berfungsi sebagai jembatan antara lembaga riset dan masyarakat lokal, selalu berhubungan dengan sumber riset, melakukan interpretasi terhadap hasil-hasil riset supaya dapat dipahami oleh masyarakat, melayani kepentingan komunitas dan mendidik serta mensejahteraan rakyat.

Peran Strategis PIPP Dalam Riset dan Inovasi

PIPP lahir didasari oleh pemikiran agar informasi-informasi baru dari hasil riset ilmiah dapat memberikan manfaat kepada masyarakat. Lembaga ini akan lebih baik bersifat non partisan dan non profit.

Selama ini di masyarakat berkembang anggapan bahwa kampus sebagai salah satu lembaga riset seperti menara gading. Sepertinya tidak ada konektifitas antara hasil-hasil riset ilmiah dengan kebutuhan masyarakat.

Masyarakat berharap pengetahuan ilmiah itu harus berguna bagi masyarakat. Kehadiran PIPP diharapkan dapat menjadi jembatan antara kebutuhan masyarakat akan pengetahuan baru (novelty) dengan peneliti yang melakukan riset-riset di lembaga riset maupun di berbagai perguruan tinggi.

Jadi secara umum PIPP berfungsi sebagai lembaga yang menangani penyebaran informasi pengetahuan kepada khalayak masyarakat pedesaan.

Inovasi adalah segala perubahan yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh masyarakat yang mengalaminya (Havelock 1973). Dalam proses penyebarluasan inovasi pertanian harus memperhatikan unsur-unsur utama, yaitu: Pertama, adanya suatu inovasi. Kedua, yang dikomunikasikan melalui saluran tertentu. Ketiga, dalam suatu jangka waktu tertentu. Keempat, diantara para anggota suatu sistem sosial.

Berdasar uraian di atas dapat dikatakan bahwa segala sesuatu, baik dalam bentuk ide, cara-cara, ataupun objek yang dioperasikan oleh seseorang sebagai sesuatu yang baru, maka dapat dikatakan sebagai suatu inovasi.

Tidak semua informasi berbasis riset disebarkan kepada masyarakat pedesaan oleh PIPP. Hanya informasi yang tepat dan berdaya guna dan dibutuhkan masyarakat yang didesiminasikan.

PIPP pada hakekatnya adalah lembaga komunikasi yang membantu lembaga-lembaga riset ataupun sumber-sumber lainnya untuk mengolah lebih lanjut informasi yang dihasilkan agar menjadi lebih jelas dan dapat dipahami oleh khalayak.

Dalam menjalankan tugasnya, PIPP nantinya membutuhkan saluran. Saluran yang digunakan adalah media massa baik cetak maupun elektronik.

Untuk media massa cetak, PIPP dapat memanfaatkan media massa dengan menerbitkan sendiri atau melakukan kerjasama dengan surat kabar lokal.

Sedangkan untuk media massa elektronik dapat memanfaatkan keberadaan radio komunitas atau televisi komunitas yang independen dan non profit. Serta menggunakan media sosial berbasis online.

Untuk itu keberadaan PIPP bisa berperan sebagai agent of change, agen perubahan masyarakat. Perubahan yang dikehendaki dalam pembangunan tentunya perubahan ke arah yang lebih baik atau lebih maju dari keadaan sebelumnya.

Oleh karenanya peranan komunikasi dalam pembangunan harus dikaitkan dengan arah perubahan tersebut. Artinya kegiatan komunikasi harus mampu mengantisipasi gerak pembangunan.

Dikatakan bahwa pembangunan adalah merupakan proses, yang penekanannya pada keselarasan antara aspek kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah.

Dengan demikian pembangunan pada dasarnya melibatkan minimal tiga komponen, yakni komunikator pembangunan pertanian, bisa aparat pemerintah ataupun masyarakat, pesan pembangunan pertanian yang berisi ide-ide atau pun program-program pembangunan pertanian, dan komunikan pembangunan pertanian, yaitu masyarakat pertanian di pedesaan.

*) Mahasiswa Program Doctoral (S3) Program Studi Komunikasi pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB


(mam/JPC)