Politik Hablumminallah

JawaPos.com – Pernah suatu ketika, seorang jamaah majelis merapat untuk perlahan bertanya, “Sampean kok tidak pernah kelihatan salat, Gus?”

Lalu, dengan setengah berbisik, saya menjawab, “Mas, periksa ulang catatanmu, apakah syarat sah salat harus kelihatan?”.

Dia tertegun, kemudian berkata, “Benar juga ya.”

Betapa salat seharusnya untuk menghadap Allah, mengapa justru kita merasa perlu menghadapkan wajah kepada selain Dia? Lagi pula, bukan saya tidak pernah kelihatan salat. Namun, dia yang tidak selalu melihat saya salat.



Atau, lebih tepatnya, saya tidak selalu kelihatan berada di masjid untuk salat berjamaah. Atau, kalau mau lebih presisi lagi, saya tak selalu salat berjamaah di masjid.

Kalaupun anggap saja selalu berjamaah, tidak selalu di masjid yang sama. Baiklah, kalau memang benar-benar harus menjawab penanya, begini ya, “Sampean tidak selalu bersama saya.”

Ini terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Tak dimungkiri, ini bahkan terjadi di rumah kita. Belum dianggap salat jika belum kelihatan salat. Apakah salah? Tidak.

Tidak salah selama kita bermaksud baik untuk saling berwasiat pada kebenaran dan kesabaran (QS Al Ashr [103]:3). Tidak salah jika ini kita ikhtiarkan untuk hablumminannas, saling berhubungan sebagai sesama manusia. Memang kita tidak bisa berkehidupan tanpa budi baik liyan.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Salatlah kau sebagaimana kau melihat aku salat (Hadis Riwayat Bukhari).” Hadis itu bukan tentang Nabi memperlihat-lihatkan salat, melainkan tentang mendirikan salat berdasar tuntunan. Lantas, mengenai salat itu sendiri, sejak niat hingga salam, seluruhnya hendaklah lillahi ta’ala, karena Allah semata. Kuhadapkan diri, kuserahkan salat, ibadah, hidup, dan matiku hanya kepada-Nya.

Itulah hablumminallah, yang sifatnya personal. Urusan-urusan pribadi kita dengan Tuhan ialah kesalehan personal. Urusan-urusan sosial kita dengan sesama makhluk, khususnya sesama manusia, ialah kesalehan sosial. Satu sama lain bisa serasi dan harmoni, hablumminallah yang sekaligus hablumminannas. Tapi bisa ternodai, bahkan rusak, jika diniatkan selain lillahi ta’ala. Insya Allah aman jika bukan karena selain Allah.

Namun, hari-hari ini semakin sulit meneliti hati kita sendiri, apakah masih terjaga dalam iman ataukah sudah tercampur dengan kepentingan duniawi. Masihkah memusatkan pandangan kita pada Tuhan ataukah selain-Nya?

Pertanyaan tersebut semakin menemukan momentum ketika kedua kubu pasangan calon presiden-wakil presiden, baik petahana maupun penantangnya, masih menggunakan tema agama dalam percakapan dan perilaku politik. Menjadi sangat penting siapa salat Jumat di mana. Bahkan, dirasa perlu menyebar pamflet, memasang pengumuman, atau menginstruksikan pengerahan massa.

Pun sebaliknya, menjadi sangat penting mempertanyakan siapa salat Jumat di mana, bahkan dengan merundung dengan tagar di media sosial supaya menjadi topik yang mendunia. Entah siapa sebetulnya yang sedang memolitisasi hablumminallah.

Menjadi semakin menggelisahkan ketika kubu-kubu politik berkembang menjadi kubu-kubu sosial yang memisahkan masyarakat berdasar pilihannya pada calon presiden dan wakilnya. Masjid dan tempat ibadah lain memang telah dinyatakan dilarang untuk digunakan kampanye politik. Namun, tidak sedikit yang menyesalkan adanya sisipan ujaran politis dalam khotbah.

Sesungguhnya manusiawi belaka jika manusia menjadikan Tuhan sebagai sandaran, termasuk dalam urusan politik. Tapi, menjadi tidak relevan lagi, bahkan kebablasan, jika isu agama bahkan dijadikan amunisi. Bahkan, seorang Gus Mus sampai mengatakan, “Jangan mengajak Allah berkampanye. Allah itu bukan juru kampanye,” seperti yang dikutip Mahfud MD. Alangkah politik telah mengaburkan pandangan kita.

Saling mengingatkan untuk salat, terlebih salat berjamaah, tentulah sangat baik. Akan menjadi lebih baik jika bukan hanya pada masa-masa pemilihan umum presiden, melainkan sepanjang masa hidup kita.

Lebih baik lagi jika masih berlanjut meski kubu yang dibela kalah dan calon yang dipilih tidak menang. Hablumminallah dirajut dengan hablumminannas dalam untaian kasih sayang silaturahmi sesama insan, lillahi ta’ala.

Kita mengharapkan politik yang dewasa. Namun, kita tidak bisa terlalu banyak berharap kepada para politikus untuk mendewasakan perpolitikan. Kita sendiri yang harus bergerak ke arah kedewasaan dalam berpolitik.

Di antara kegaduhan ini, masih harus selalu ada, atau kita usahakan untuk ada, ruang hening untuk hablumminallah. Dan jika manusia terbaik adalah dia yang bermanfaat bagi sesama, jadikanlah politik bermanfaat bagi kemanusiaan. (*)

Editor           : Ilham Safutra