Polri Harus Berada di Tengah

JawaPos.com – Korps Bhayangkara diterpa isu miring terkait netralitas. Pengakuan seorang perwira menengah dari Polda Jawa Barat cukup mengagetkan banyak pihak. Padahal, lewat berbagai cara, Polri sudah berusaha menunjukkan netralitas mereka.

Tentu perlu ada tindak lanjut dari pengakuan tersebut. Itu penting untuk membuktikan benar tidaknya pengakuan yang disampaikan perwira menengah Polri tersebut. Sebab, pengakuan dari satu orang saja tidak cukup untuk menunjukkan bahwa ada perintah yang sangat jelas bertentangan dengan aturan.

Apakah memang demikian atau tidak, kita tidak tahu. Kalau betul, wajib ada tindakan tegas untuk oknum yang terlibat. Karena itu, pendalaman melalui tindak lanjut harus dilakukan. Polri harus mengklarifikasi semua pihak yang disebutkan mendengar perintah terlarang itu.

Dalam suasana pemilu, Polri memang kerap menjadi komoditas politik. Untuk itu, mereka harus profesional. Polri harus berada di tengah-tengah. Haram bagi Polri memihak. Mereka harus tetap menjalankan tugas pokok melindungi masyarakat. Juga menunjukkan bahwa mereka tidak memihak kubu mana pun. Dengan begitu, masyarakat percaya dan tidak ada yang curiga kepada Polri.

Sejauh ini saya melihat komitmen Polri sangat kuat. Tidak hanya lewat seruan yang disampaikan setiap saat. Kapolri juga sudah mengeluarkan telegram khusus untuk memastikan seluruh anggotanya netral.

Perintah itu tegas dan berlaku untuk seluruh jajaran kepolisian. Harus dan wajib dilaksanakan tanpa kecuali. Di daerah maupun pusat. Artinya, dalam hal ini Polri memang menginginkan betul tidak ada personelnya yang memihak. Kalau masyarakat melihat ada pelanggaran, segera laporkan. Supaya Polri bisa cepat menindaklanjuti.

Memang tidak mudah mengatur ratusan ribu personel yang tersebar di seluruh Indonesia. Potensi pelanggaran oleh oknum bisa saja terjadi. Tapi, yang paling penting, pimpinan Polri sudah menyampaikan perintah khusus untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Artinya, mereka betul-betul ingin seluruh anggotanya netral. Itu yang paling penting. 

*) Direktur eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia dan anggota Kompolnas 2012-2016

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (disarikan dari wawancara Sahrul Yunizar/c9/fal)