Post Truth – Radar Malang Online

La Nyalla Mattaliti baru-baru ini membuat pengakuan yang menghebohkan. Kepada para wartawan, dia mengakui, bahwa dialah yang dulu ikut menyebarkan berita Presiden Joko Widodo terindikasi PKI. Sebelumnya, Ratna Sarumpaet juga membuat pengakuan yang lebih menghebohkan. Di depan para wartawan pula, dia mengatakan bahwa berita yang menyebut dia dikeroyok orang hingga babak belur, adalah bohong.

Kita masih belum lupa, bahwa berita yang menyebut Joko Widodo terindikasi PKI, saat itu (antara 2013–2014) begitu gencarnya di media sosial. Bahkan kala itu, ada sebuah tabloid yang membuat liputan khusus tentang penelusuran seputar keterkaitan antara Joko Widodo dan PKI. Begitu juga berita tentang pengeroyokan Ratna Sarumpaet, waktu itu sangat deras di media sosial, hingga akhirnya berita itu diralat sendiri oleh Ratna.



Media sosial (medsos) memang telah merasuki hidup dan kehidupan kita. Era medsos seakan menjadi babak baru dalam melihat dan menilai sebuah peristiwa. Masyarakat sering dibuat langsung percaya, begitu membaca berita tentang peristiwa yang dikabarkan di medsos. Terlepas apakah berita itu benar-benar objektif, ataukah berita itu sudah dicampuri dengan opini dan perasaan emosional dari yang memproduksi berita.

Ketika masyarakat di medsos sudah tak peduli dengan keobjektifan sebuah berita. Ketika masyarakat di medsos sudah menganggap tidak penting tentang kesahihan sebuah berita. Dan ketika masyarakat di medsos sudah abai terhadap bagaimana seharusnya berita diklarifikasi serta dicek-ricek. Maka sesungguhnya kita sedang berada di era post truth.

Kamus Oxford mendefinisikan post truth sebagai sebuah situasi di mana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan fakta-fakta yang objektif. Di tahun 2016, “post truth” dijadikan Kamus Oxford sebagai “word of the year”. Menurut editor Kamus Oxford, penggunaan kata “post truth” pada 2016 meningkat 2.000 persen dibandingkan 2015. Penggunaan istilah “post truth” merujuk pada dua momen politik paling berpengaruh di tahun 2016. Yakni keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit) dan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Banyak pihak menyebut, dua momen besar itu terjadi karena masyarakat lebih mengedepankan pertimbangan emosional ketimbang fakta objektif. Dalam situasi seperti ini, informasi-informasi berbau hoax punya pengaruh yang jauh lebih besar ketimbang fakta yang sebenarnya.

Anthony Clifford Grayling, filsuf asal Britania membuat analisis sangat tajam tentang post truth. Penulis 30 buku filsafat itu menyebut adanya gejala “korupsi integritas intelektual” akibat adanya praktik-praktik penyebaran informasi dalam era post truth. Kegaduhan medsos menurut Grayling merupakan salah satu muatan kunci dalam budaya post truth.

Sehingga, dalam hal ini, opini lebih kuat dan menenggelamkan bukti atau fakta. Fenomena post truth dapat dilukiskan dalam kalimat: “Pendapatku lebih berharga daripada fakta-fakta”.

Dalam pandangan Grayling, era post truth bukan saja penuh aroma narsistik, tapi sekaligus narsistik yang mengerikan. Ketika medsos dapat dipakai untuk mengirim pesan yang lebih menonjolkan opini ketimbang fakta, dan setiap orang bisa memublikasikan opininya sendiri. Maka fakta apa pun akan tenggelam oleh kerasnya suara pengirim pesan.

Setiap orang dapat menerbitkan opininya. Setiap orang menawarkan tafsirnya sendiri terhadap fakta. Dan ini yang paling repot, setiap orang mengklaim bahwa tafsirnya yang paling benar. Opini inilah diangkat sebagai kebenaran, bukan faktanya.

Jika masyarakat berdiri di atas fakta-fakta yang dimanipulasi, dipermak, disembunyikan, dilepaskan dari konteksnya, dan kemudian pendapat individu atau kelompok lebih ditonjolkan sebagai kebenaran, maka masyarakat ini sesungguhnya rapuh. Bagaikan bangunan kartu domino yang dengan satu sentuhan saja seluruh bangunannya runtuh.

Bisa jadi, “rapuh” adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan kondisi masyarakat kita sekarang. Beberapa cirinya antara lain: mudah diadu domba, rendahnya budaya literasi, menurunnya spirit untuk melakukan klarifikasi, dan kehilangan selera humor.

Yang terakhir inilah (kehilangan selera humor), yang membuat para elite politik kerap bertengkar hanya gara-gara masalah (yang sebenarnya) sepele. Hanya gara-gara disebut sebagai “politisi sontoloyo”, maka ada pihak-pihak tertentu yang kebakaran jenggot. Lalu marah-marah karena tersinggung. Hanya gara-gara disebut sebagai “tampang Boyolali”, maka ada pihak-pihak tertentu yang mencak-mencak karena merasa dilecehkan. Padahal, semua itu bisa disikapi sebagai sebuah humor yang cerdas. Humor yang cerdas adalah ketika bisa menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan tertawaan. Ini cara introspeksi yang paling menyegarkan: mampu menertawakan diri sendiri.

Jadi, era post truth adalah era sekarang ini. Era ketika orang begitu mudahnya dan begitu cepatnya menerima berita. Dan begitu cepat dan mudahnya percaya. Begitu cepat dan mudahnya berita itu di-share (tanpa harus merasa penting untuk diklarifikasi). Selanjutnya, begitu cepat dan mudahnya direspons serta direaksi. Begitu viral, maka ini langsung disebut sebagai opini publik. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp).