Presiden, Temuilah Mahasiswa

DEMONSTRASI yang marak terjadi saat ini memperlihatkan bahwa komunikasi politik tidak berlangsung dengan baik antara pemerintah dan mahasiswa. Utusan pemerintah selama ini tidak membuat komunikasi bertambah lancar atau efektif.

Mengapa tidak lancar? Sebab, selama ini posisi pemerintah merasa lebih ”di atas” dan tidak berposisi sejajar atau equal. Komunikasi efektif, salah satunya, mensyaratkan adanya kesejajaran antara komunikator dan komunikan atau penerima pesan. Komunikasi ideal bersifat dyadic atau dua arah. Maka, komunikator dan komunikan berposisi bergantian.

Dalam hal ini, pemerintah tidak harus selalu sebagai penyampai pesan. Namun, juga harus bisa menjadi pendengar atau penerima pesan. Keadaan itulah yang membuat adanya kebuntuan komunikasi.

Dalam keadaan buntu, jika tidak ada yang ”mengalah”, akan lahir krisis komunikasi. Saat ini krisis komunikasi itu bisa berdampak tidak bagus bagi bangunan kepercayaan ke pemerintahan Presiden Joko Widodo.



Solusinya, Jokowi harus mengambil alih langsung. Itu jurus pemungkas. Pucuk kekuasaan harus legawa mau menemui dan berkomunikasi dengan para mahasiswa.

Dalam komunikasi antara pihak yang hubungannya agak ”berseteru”, diperlukan peran mediasi. Di sinilah forum rektor, budayawan, dan rohaniwan dapat menjadi mediator. Menjadi jembatan penghubung dua kepentingan.

Tanpa adanya kemauan saling mendengarkan, saling memahami, krisis komunikasi ini hanya akan melahirkan sikap menang-menangan. Ujungnya, akan terjadi keretakan interaksi sosial. Hal tersebut tidak bagus bagi bangunan demokrasi di Indonesia.

Saat ini dibutuhkan mediator yang memiliki kualitas dan kredibilitas yang memadai. Mediator bisa diambil dari toko-tokoh daerah, para rektor, dan budayawan.

Inti dasarnya, kesediaan Jokowi berkomunikasi langsung dalam situasi sebagai ”ayah” akan meneduhkan kondisi politik yang memanas sekarang ini. Hal itu menjadi langkah awal memperbaiki relationship. Ya, memang untuk bisa benar-benar membangun komunikasi yang efektif, diperlukan tahap-tahap teknis komunikasi lebih mendalam.

Itu sebenarnya chance atau peluang bagi Jokowi untuk meneguhkan posisinya sebagai kepala negara. Hal itu menjadi kesempatan bagus jika ingin meningkatkan kepercayaan di mata mahasiswa.

Saat ini Jokowi memang dihadapkan pada pilihan yang rumit. Namun, melihat solidaritas mahasiswa dan mereka sebagai pemilik masa depan, sudah seharusnya Jokowi lebih memilih jalan pikiran masa depan kaum muda. Setidaknya mau mendengarkan dulu sebelum membuat keputusan.

Keberhasilan komunikasi sangat bergantung pada kesediaan para pihak untuk mau mendengarkan. Sebab, pemimpin yang baik sangat ditentukan dari kualitasnya sebagai orang yang mau mendengarkan. Dalam hal ini suara mahasiswa dan masyarakat sipil.


*) Suko Widodo, Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga

Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Septinda Ayu P.