Rekonsiliasi – Radar Malang Online

Salah satu contoh terbaik dalam melakukan rekonsiliasi, adalah seperti yang dilakukan Nelson Mandela, bapak bangsa Afrika Selatan. Mandela seakan menjadi ”dewa” bagi bangsanya. Tidak hanya tindakannya yang sekelas ”dewa”. Tapi juga hatinya.

Anda mungkin sudah banyak yang tahu, bagaimana Mandela dan rakyatnya, warga kulit hitam di Afrika Selatan, menjadi korban diskriminasi melalui penerapan politik apartheid yang dijalankan oleh penguasa kulit putih.

Selama puluhan tahun, rakyat kulit hitam yang merupakan penduduk asli Afrika Selatan dijajah kulit putih yang merupakan warga pendatang. Warga kulit hitam tidak hanya dijajah. Tapi juga diperlakukan secara sewenang-wenang. Mandela sebagai tokoh yang melakukan perlawanan terhadap apartheid pun dikerangkeng, disiksa, dan diperlakukan seperti hewan, selama 27 tahun.

Pada 1990, Mandela baru dibebaskan, setelah Afrika Selatan diembargo dan dikucilkan dunia internasional. Akhirnya, apartheid pun tumbang, dan selanjutnya, Mandela berhasil menjadi presiden melalui pemilu yang demokratis.



Dan ketika menjadi presiden, dia memaafkan tindakan zalim warga kulit putih terhadap warga kulit hitam. Padahal, kalau mau membalas dendam, itu sangat mungkin bisa dilakukan. Tapi, Mandela malah mengajak rakyatnya memaafkan kesewenang-wenangan yang pernah dilakukan warga kulit putih terhadap warga kulit hitam. Dalam pemerintahannya pun, Mandela tidak hanya melibatkan warga kulit hitam. Tapi juga mengajak warga kulit putih ikut dalam pemerintahan.

Ketika menjadi presiden pun, Mandela tidak mau ”aji mumpung”. Dia hanya bersedia dan mau menjadi presiden selama satu periode saja: 1994–1999. Padahal, kalau dia mau, sangat bisa dia menjadi presiden seumur hidup. Tapi, Mandela lebih memilih menjadi presiden satu periode saja, hanya untuk meletakkan dasar-dasar pemerintahan yang demokratis, dan berbasis rekonsiliasi. Selanjutnya, pemerintahan diserahkan kepada generasi berikutnya.

Dengan tindakannya yang sangat luhur, dengan hatinya yang sangat mulia, dengan jiwanya bak malaikat, Mandela dijuluki ”madiba” oleh rakyatnya. Madiba adalah nama seorang raja (kepala thembu) di Transkei (jauh sebelum Afrika Selatan ada) yang pernah memimpin pada abad ke-18.

Saya pernah bertugas di Afrika Selatan selama 40 hari, saat meliput Piala Dunia 2010. Saya pun bisa merasakan betapa Mandela begitu dicintai dan dipatuhi oleh rakyatnya. Bagi rakyat Afrika Selatan, Mandela seperti ”nabi”.

Ajaran-ajaran Mandela masih dilakoni dan dipatuhi rakyat Afrika Selatan. Misalnya dalam hal melindungi dan mengayomi warga kulit putih. Meski Mandela tiada, tapi warga kulit putih masih diayomi dan dilindungi di Afrika Selatan. Dalam banyak kesempatan, saya menyaksikan, antara warga kulit putih dan kulit hitam sudah sangat membaur. Dan sudah sangat cair.

Apa yang dilakukan Mandela, adalah contoh terbaik dari rekonsiliasi. Untuk saat-saat ini, ketika kita baru saja tercerai berai secara sosial-politik akibat dampak dari perhelatan pilkada, rekonsiliasi adalah sebuah keniscayaan.

Calon yang menang dalam pilkada, atas nama rekonsiliasi, harus bisa mengajak calon yang kalah untuk bersama-sama membangun daerah. Setelah pilkada, lupakanlah tim sukses. Lupakanlah kubu-kubuan. Dan lupakanlah dendam.

Gus Ipul (Saifullah Yusuf), calon Gubernur Jatim, saat debat terakhir yang diadakan KPU Jatim pada 23 Juni lalu, telah memberikan contoh yang baik ketika menyampaikan closing statement. Saat itu Gus Ipul mengatakan, ”Kalau nanti Bu Khofifah yang menang, saya akan titipkan konsep saya kepada beliau. Tapi kalau saya yang menang, saya akan mengajak Bu Khofifah bersama-sama membangun Jawa Timur.

Kabeh sedulur kabeh makmur”. Pernyataan ini sesungguhnya adalah pintu masuk untuk sebuah rekonsiliasi. Dan pada akhirnya, Gus Ipul sudah mengakui kekalahannya (versi quick count) pada Pilgub Jatim, dan dia juga sudah mengucapkan selamat kepada Bu Khofifah. Dan kita tentu berharap, Bu Khofifah langsung melakukan rekonsiliasi secepat-cepatnya.

Di Kota Malang, Pak Sutiaji dan Pak Sofyan Edi Jarwoko (pasangan Sae) akhirnya yang menjadi pemenang Pilkada Kota Malang. Pada Kamis lalu (5/7), Pak Sutiaji memimpin rombongan kepala OPD (organisasi perangkat daerah) untuk bersilaturahmi kepada Abah Anton (H. Moch. Anton, wali kota nonaktif). Pada kesempatan itu, Pak Sutiaji meminta dukungan dan restu kepada Abah Anton. Inilah yang juga disebut sebagai rekonsiliasi. Jika di tingkat elite sudah melakukan rekonsiliasi, harapannya, di tingkat bawah akan mengikutinya.

”Jika jahat dibalas kejahatan, maka itu adalah dendam. Jika kebaikan dibalas kebaikan, maka itu adalah perkara biasa. Jika kebaikan dibalas kejahatan maka itu adalah zalim. Tapi jika kejahatan dibalas kebaikan, itu adalah mulia dan terpuji.” (Francois de la Rochefoucauld, penulis dari Perancis 1613–1680). (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)