Relasi Eksistensi Radio Bagi Penguatan PIPP

Sejak itu, siaran radio sangat ditunggu-tunggu penggemarnya. Bahkan mereka kerap berkumpul di Pos Kamling hanya untuk mendengarkan radio yang dipancarkan dari pusat ke daerah.

Radio berita tidak mengurangi fungsi dan perannya dalam memberikan informasi kepada khalayak saat itu.

Radio mengalami masa kejayaannya pada era tahun 80-90an di mana belum banyak media lain seperti sekarang ini.

Sebelum tahun 1990 publik sering mendengarkan beberapa siaran radio, baik siaran musik, dongeng, hingga berkirim atensi antar seseorang dan request lagu favorit. Bahkan melalui berita radio, publik dapat menerima informasi resmi yang dikeluarkan pemerintah.



Namun di era serba digital ini, siaran radio seolah tenggelam. Banyak media online bermunculan mengalahkan eksistensi radio.

Jika dilihat dari banyaknya media yang menyajikan beragam informasi dan hiburan, sepertinya radio nasibnya akan termarjinalkan.

Tapi hebatnya, ternyata radio mampu bertahan walaupun banyak gempuran dari beragam media lainnya seperti televisi, internet dan genggaman smartphone.

Di tengah menjamurnya media itulah, radio berita masih saja terus eksis. Lihatlah apa yang dilakukan Radio Swara Lima Luhak (RSLL). Radio ini merupakan satu-satunya radio milik pemerintah daerah Kabupaten Rokan Hulu, Riau.

Keberadaan RSLL diharapkan dapat menjadi media penyebar informasi seputar pembangunan di kabupaten Rokan Hulu dan sebagai sarana menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Pemerintah Daerah. 

Termasuk menjadi mitra bagi pengusaha untuk mempromosikan usahanya, dengan penyelenggaraan penyiaran radio yang bersifat independen, netral dan berfungsi memberikan layanan untuk kepentingan masyarakat.

Radio inilah yang kemudian dapat memperkuat peran strategis bagi Pusat Informasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PIPP).

Penguatan Akses Informasi

Pendapat Luciano Floridi (2014) menarik disimak. Ia menegaskan informasi sebagai fenomena yang dominan. Konsekuensinya, pemahaman tentang manusia atau masyarakat ditentukan bagaimana hubungannya dengan informasi.

Kita mesti menyadari, bahwa revolusi informasi yang dilahirkan teknologi informasi belakangan ini sebagai revolusi ke-4 sesudah revolusi Copernicus, Darwinian dan Freudian, yang sangat mengubah cara pandang manusia.

Bukankah kita secara perlahan menerima suatu fenomena bahwa kita tidak dapat menjadi entitas yang mandiri? Melainkan sudah menjadi organisme informatif, saling terhubung dan tertanam dalam sebuah lingkungan akses informasi.

Sebuah laporan tentang akses informasi oleh Laura Neuman (2002) menunjukkan bahwa, akses terhadap informasi merupakan sumber utama demokrasi termasuk bagi masyarakat lokal dalam mempertahankan kehidupan yang aktif dan mandiri.

Akses terhadap informasi juga penting untuk memberi tahu warga tentang hak mereka atas tunjangan kesejahteraan dan sumber dukungan untuk mengatasi isolasi sosial.

Informasi adalah sumber kehidupan setiap masyarakat dan penting bagi kegiatan pemerintah dan sektor swasta.

Tidak ada pemerintah yang aktif, sadar, sensitif, dan terorganisir serta serius yang ingin mengabaikan warga pedesaan.

Sebab jika pemerintah abai terhadap pembangunan, maka yang terjadi adalah meningkatnya masyarakat yang destruktif.

Indikator dari situasi ini di antaranya eksodus penghuni pedesaan ke daerah perkotaan, yang menghasilkan masalah pengangguran, kejahatan, pelacuran, ketidakamanan, penyuapan, kemiskinan, termasuk proliferasi daerah kumuh, penyebaran penyakit, dan pengurasan fasilitas dan infrastruktur di daerah perkotaan.

Setiap bangsa yang mengabaikan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat pedesaan seharusnya tidak mengharapkan fenomena seperti ini. Sungguh mengerikan.

Sebab itu pembangunan pertanian dan pedesaan merupakan basis bagi pembangunan ekonomi dan sosial secara nasional.

Sedangkan informasi merupakan hal yang penting sebagai bahan utama dalam proses pembangunan (Okiy, 2003).

Pembangunan hanya bisa efektif jika penduduk pedesaan memiliki akses terhadap informasi yang beragam dan relevan untuk kegiatan mereka.

Termasuk upaya yang harus dilakukan untuk memberi akses pengetahuan dan informasi kepada yang nir-melek huruf, yang mayoritasnya merupakan penduduk pedesaan.

Masyarakat di daerah pedesaan apakah melek huruf atau tidak harus memiliki akses terhadap segala jenis informasi yang akan membantu mereka menjadi mampu dan produktif dalam bidang sosial dan politik.

Mereka berkewajiban untuk menjadi warga negara dengan informasi lebih baik secara umum.

Asumsi ini pernah diperkuat Diso (1994: 143) yang berpendapat bahwa informasi harus menjadi prioritas kebijakan sekaligus sebagai sumber dasar pembangunan.

Bila struktur ingin bertahan lama, harus disediakan untuk akses dan pemanfaatan yang efektif, yang mencakup pengumpulan informasi, koordinasi, pengolahan, dan diseminasi.

Maka kehadiran PIPP di daerah seperti Rokah Hulu atau wilayah pemekaran lainnya di Indonesia, dapat menjadi instrumen penting guna terlaksananya komunikasi pembangunan.

Pada saat yang sama, kondisi ini harus ditunjang dengan semakin banyak inovasi yang melibatkan penggunaan media komunikasi, baik cetak maupun elektronik.

Ditambah dengan meningkatnya kesadaran media di tingkat warga, membuat warga cepat menyadari dan memanfaatkan berbagai saluran komunikasi untuk memecahkan masalah, memenuhi kebutuhannya, dan memaksimalkan potensinya.

Terbukti, kehadiran radio RSLL dapat mempercepat diseminasi informasi pembangunan pedesaan di wilayah pemekaran Kabupaten Rokan Hulu, Riau, di mana penduduknya sangat beragam dan heterogen.

Namun seiring proses pembangunan infrastruktur pemerintahan daerah baru, untuk melakukan diseminasi informasi secara efektif masih terdapat berbagai permasalahan.

Di sinilah, mungkin, pertaruhan eksistensi radio untuk memenuhi kebutuhan diseminasi informasi agar lebih membumi.

Reposisi PIPP

Seperti diketahui, PIPP merupakan salah satu lembaga implementasi jaringan kerjasama dengan lembaga-lembaga pemerintah, swasta dan LSM yang terkait dalam pembangunan (Mulyandari, et.al, 2010).

Dengan performa seperti itu, PIPP diharapkan dapat mengembangkan jaringan sosial di kalangan khalayak yang hendak dicapai terutama untuk memperkuat produktivitas sebagai inti connecting people (Kindon et.al, 2010).

Kehadiran PIPP diperlukan untuk menyediakan informasi pembangunan secara berkelanjutan.

PIPP juga mendukung modernisasi pertanian secara khusus dalam penggunaan teknologi baru yang dapat menjangkau para petani (Lionberger dan Gwin, 1982).

Sebagaimana fungsi utama PIPP adalah; mempunyai hubungan dengan berbagai macam informasi; seleksi informasi agar akurat, kredibel dan aksebsibilitas; serta melakukan interpretasi hasil riset sesuai dengan kebutuhan petani.

Sementara itu, radio sebagai media siaran dapat memperkuat sekaligus mereposisi PIPP.
Namun tantangan yang dihadapi radio, di samping sebagai satu-satunya lembaga penyiaran publik yang ada di suatu daerah, perlu penguatan fungsi diseminasi informasi pembangunan.

Apalagi distribusi informasi pedesaan untuk wilayah pemekaran dan daerah terpencil harus menjangkau seluruh pedalaman, sebagai basis perkampungan penduduk.

Untuk itu dibutuhkan peran radio rakyat dalam percepatan pembangunan dan pengembangan insfrastruktur informasi yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Termasuk menjangkau seluruh area pedesaan secara merata, terutama di kawasan perkebunan dan tanaman industri.

Belum lagi dibutuhkannya peningkatan kinerja pelayanan dan penyiaran, sesuai fungsi kerja penyiaran yang efektif, guna terwujudnya connecting people yang baik.(*)

*Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (KMP)Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB)


(mam/JPC)