Resolusi Bersyukur Tidak Bisa Menang – Azrul Ananda

Terima kasih, Anda begitu antusias membaca Happy Wednesday. Terima kasih, ribuan orang mengirimkan email hanya dalam beberapa hari, menerima tantangan menuliskan resolusi simple 2016 yang bermanfaat untuk banyak orang.

Benar-benar butuh manajemen untuk menyaring dan memilah-milah ribuan email itu. Pertama, karena saya sedang liburan keluarga di luar negeri, dengan perbandingan jam yang berbalikan (di Indonesia siang, di tempat saya malam). Plus saya pindah-pindah kota setiap beberapa hari.

Jadi, para redaktur yang menyaring harus mengelompokkannya, mengirimnya kepada saya dalam beberapa bagian setiap hari. Saya menerima dan membacanya sebelum tidur, dan setelah bangun tidur sebelum beraktivitas.

Lumayan, karena ternyata liburan juga bisa membosankan! Email-email Anda membantu saya tetap ’’sibuk’’ dan tetap ’’bekerja’’ di saat liburan akhir tahun ini.



Jangan khawatir, keluarga saya (istri, anak, ayah, ibu, adik, dan keluarga) tidak terganggu kok. Karena saya mencicil ’’pekerjaan’’ ini saat mereka sudah tidur atau saat pagi sebelum bangun…

Total, ada lebih dari 3.000 email yang saya terima. Entah berapa lagi yang tidak lolos saringan redaktur, entah karena isinya tidak sesuai, kepanjangan, atau tidak menyertakan identitas.

Kadang lucu juga, mengikuti tantangan berhadiah, tapi kok tidak menyertakan identitas!

Untuk memilih pemenang, mengerucutkannya dari 3.000 lebih hingga hanya 20, saya juga harus sistematis. Sudah nonton film Inside Out? Kalau belum, Anda melewatkan salah satu film terbaik 2015, salah satu film paling smart yang pernah saya tonton!

Kalau sudah, sistem pengelompokannya kurang lebih seperti di dalam film itu. Email yang saya suka saya kelompokkan di ’’Pulau A’’. Yang agak saya suka saya taruh di ’’Pulau B’’. Lalu, ada ’’Pulau C’’ untuk email-email yang bikin saya geleng-geleng kepala (belum tentu karena positif!).

Sisanya, langsung masuk ’’memory dump’’.

Tentu saja, ada banyak email bertema sama. Karena penasaran, para redaktur Jawa Pos saya minta untuk mengelompokkan ribuan email yang masuk berdasar tema. Saya penasaran, tema resolusi apa yang paling populer, yang paling banyak dipikirkan peserta tantangan Happy Wednesday ini.

Lalu, yang mana yang saya pilih? Kalau temanya sama, ya saya pilih yang ketika dibaca paling ’’mengena’’ di hati saya. Kalau tidak terpilih, tidak boleh tersinggung, karena jurinya memang hanya satu wkwkwkwkwk…

Dan saya harus mengingatkan terus hukum public relations nomor satu: Bahwa ’’total objectivity is impossible to attain’’ alias ’’tidak mungkin untuk bisa objektif 100 persen’’.

Anggap saja kalau temanya sama, tapi tidak terpilih, sebagai ’’nasib’’ atau ’’apes’’ wkwkwkwk…

Dari ribuan email yang saya baca, memang hampir semua mencoba berpikir sederhana, memikirkan resolusi yang bisa diterapkan dengan mudah oleh semua.

Resolusi yang saya suka adalah yang konkret dan spesifik, yang bisa dilakukan siapa saja, yang bisa memberikan dampak cepat untuk sesama.

Karena tetap saja ada yang mungkin cara berpikirnya tidak bisa spesifik. Misalnya: Menyatakan bahwa resolusi 2016 adalah ’’bahagia’’. Lha mau bahagia bagaimana? Dan bagaimana mau bahagia kalau tidak ada tindakan konkret dan spesifiknya?

Ada juga yang menuliskan bahwa resolusi 2016-nya adalah ’’menikah’’. Nah, untuk yang ini, saya hanya punya satu pesan: Kasihan deh loe…

Lalu, banyak yang menuliskan resolusi ’’bersyukur’’. Pertama, ini harus dihargai, karena ini adalah sesuatu yang memang harus kita lakukan setiap waktu. Mensyukuri segala yang kita miliki, yang kita dapatkan, dan lain sebagainya.

Tapi, kalau resolusinya ’’bersyukur’’, lalu tidak berbuat dong? Karena itu, maaf seribu maaf, yang resolusinya sekadar ’’bersyukur’’ atau sekadar ’’berdoa’’ saya coret. Karena bukan perbuatan yang konkret dan spesifik.

Berdoa? Yes! Namun, jangan lupa berbuat dan berusaha!

Kemudian, ada resolusi yang mungkin konkret dan spesifik, tapi rasanya penerapannya tidak bisa meluas. Mungkin karena yang membuat berpikirnya kurang luas.

Yaitu, resolusi untuk ’’menabung 20 persen dari penghasilan’’. Apakah ini usulan baik? Yes! Lalu, apa kelemahannya? Usulan ini baik ketika penghasilan mencapai angka tertentu. Lha kalau gajinya di atas Rp 200 juta, lalu yang ditabung hanya Rp 40 juta? Ya boros dong!

Oh ya, masih ada juga yang mengirimkan resolusi yang rasanya tidak simple. Yang kejauhan di langit ketujuh. Plus tidak konkret dan tidak spesifik. Misalnya: Resolusi 2016 adalah bebas dari korupsi…

Lalu, resolusi apa yang menang?

Anda bisa membaca 20 resolusi pilihan saya di bagian lain harian ini. Pengirimnya dari berbagai kalangan, dari berbagai usia, dan dari berbagai wilayah di Indonesia (karena kolom ini juga dimuat di koran-koran lain di Jawa Pos Group).

Dari 20 itu, ada yang bisa langsung kita terapkan. Ada juga yang diterapkannya dengan modifikasian, disesuaikan dengan lingkungan tempat kita berada, yang mungkin berbeda dengan lingkungan penulisnya.

Dan setelah membaca, Anda mungkin merasakan apa yang saya rasakan: Ternyata harapan-harapan kita untuk hidup lebih baik sangatlah sederhana.

Kita tidak butuh jalanan yang supermulus, hanya butuh perilaku di jalan yang lebih baik.

Kita tidak butuh solusi yang spektakuler, hanya butuh perbuatan yang sangat elementer.

Sedih juga, karena pada abad sekarang ini, perilaku yang dituliskan harus diubah masih seperti menggambarkan perilaku di abad sebelum ’’peradaban’’.

Jangan membuang sampah sembarangan.

Jangan menerobos lampu merah.

Jangan parkir melebihi garis.

Jangan lupa mematikan lampu apabila tidak digunakan.

Jangan lupa mematikan keran air apabila sudah selesai menggunakan.

Jangan lupa menyiram ’’hasil sumbangan’’ di toilet!

Jangan meludah di sembarang tempat.

Jangan menyerobot antrean.

Jangan lupa tersenyum, meminta maaf, dan berterima kasih.

Jangan terlambat!

Pemakaian gadget yang mengganggu interaksi dengan sesama juga menjadi sorotan banyak pengirim.

Plus lain sebagainya.

Baca saja 20 resolusi pilihan saya [Klik: Inilah 20 Resolusi Simple 2016 Pilihan Happy Wednesday]. Tema-temanya tidak jauh dari itu, walau ada beberapa yang lebih menggelitik dan spesifik serta agak berbeda.

Kalau sudah begitu, jangan-jangan kita tidak butuh revolusi mental. Karena itu terlalu jauh di awan. Yang kita butuhkan adalah pelajaran back to basic… (*)