Resolusi Toleh Kanan-Kiri | JawaPos.com – Azrul Ananda

BANYAK orang menyongsong tahun baru dengan resolusi baru. Ada yang ingin lebih kurus, ada yang ingin lebih rajin bekerja, ada yang ingin lebih perhatian pada keluarga.

Saya sih biasanya nggak punya resolusi apa-apa. Tapi punya beberapa harapan untuk semua orang pada 2016 nanti.

Kenapa saya tidak punya resolusi khusus? Mungkin karena pada dasarnya saya orangnya niat Maksudnya, kalau lagi fokus ke sesuatu, akan dikejar sampai dapat atau sampai tuntas.

Jadi percuma punya resolusi, karena keseringan penasaran dan punya kebanyakan minat. Mungkin gara-gara sehari-hari di dunia koran harian, yang setiap hari selalu ada hal baru yang mengundang rasa penasaran…



Lalu apa harapan untuk semua orang pada 2016?

Seperti biasa, saya selalu melihat hal-hal sederhana. Simple things.

Percuma berpikir besar, kalau tidak bisa mengerjakan yang kecil-kecil.

Percuma memikirkan proyek jalan tol atau antarprovinsi yang spektakuler, kalau menambal jalan yang sudah ada saja lupa.

Percuma memikirkan pendidikan untuk generasi 2045, kalau menentukan jadwal ujian nasional untuk 2016 saja tak kunjung pasti.

Percuma memusingkan mental bangsa, kalau kebiasaan-kebiasaan kecil diabaikan.

Bagi yang mengumpulkan tulisan Happy Wednesday ini, baik dalam bentuk kliping atau yang lain, mungkin ingat dulu saya pernah menulis tentang kebiasaan-kebiasaan kecil yang diabaikan banyak orang. Seperti mencuci tangan setelah “setoran kecil maupun besar” di toilet.

Tulisan ini kurang lebih sama lah.

Pada dasarnya, saya berharap, pada 2016 nanti, kita semua jadi lebih sadar pada sekeliling. Bahwa apa yang kita lakukan, sekecil apa pun, ada efeknya pada orang lain di sekeliling.

Di mal, misalnya, ada beberapa habit yang saya harap berkurang pada 2016.

Satu, ketika pesan makanan di kasir food court, tolong jangan memegang telepon, apalagi menelepon. Yang jelas, ini menunjukkan bahwa Anda kurang respek kepada orang lain, khususnya sang petugas kasir yang juga manusia dan harus melayani sebaik dan secepat mungkin.

Berkomunikasi tatap muka saja belum tentu baik, apalagi kalau harus multitasking dan berkomunikasi tatap muka SAMBIL berkomunikasi dengan orang lain lewat telepon.

Selain itu, Anda tidak respek kepada orang lain yang antre di belakang. Karena Anda memperlambat proses pemesanan untuk semua orang, termasuk Anda sendiri.

Beberapa hari lalu, ada bapak-bapak memesan makanan sambil menelepon di depan saya. Jadinya lamaaa sekali. Pengin rasanya menjitak kepala bapak itu!

Habit lain di mal: Jangan memaksakan mencari parkiran mobil terdekat dengan pintu, karena Anda bisa menciptakan unnecessary jam. Parkir agak jauh dikit tak apa lah, jalan sedikit kan lebih sehat.

Jangan berdiri ngobrol di depan pintu masuk, atau di ujung awal maupun akhir eskalator. Sama, ini tidak menghargai orang lain karena menciptakan halangan tak penting.

Sama parahnya dengan memaksakan diri masuk ke dalam lift sebelum yang di dalam bisa keluar…

Harapan saya yang lain adalah untuk mereka yang merokok.

Seratus persen hak seseorang untuk merokok, kebetulan saya tidak. Dan sebenarnya, saya tidak keberatan dengan orang merokok, karena konsekuensi dan lain-lainnya toh dia tanggung sendiri.

Saya hanya minta tolong, semoga yang merokok menghindari tempat di mana terdapat banyak anak kecil. Beberapa kali saya pergi ke taman bermain, banyak orang merokok. Padahal, di sebelahnya ada anak kecil, bahkan bayi.

Celakanya, kadang yang merokok itu bapaknya sendiri saat sedang menggendong sang anak, bahkan bayi.

Saya bukan dokter, saya bukan pakar kesehatan, tapi saya tahu dampak secondhand smoke. Silakan konsultasi ke Mbah Google soal itu.

Pada 2016, tolong juga jangan merokok saat mengendarai motor. Kita semua pengguna jalan membutuhkan 100 persen konsentrasi Anda saat berkendara. Kita punya dua tangan, dan pada dasarnya sepuluh jari. Sebaiknya semua difungsikan untuk memegang setir dan mengoperasikan gas dan rem secara optimal.

Kepada pengendara mobil, dan khususnya motor, ada satu lagi harapan saya untuk 2016 dan seterusnya.

Ingat waktu kita kecil, kita selalu diingatkan untuk menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum menyeberang jalan.

Nah, ketika akan menikung, please oh please menolehlah dulu ke arah kanan dan atau kiri. Pastikan tidak ada pengendara lain sedang melaju ke arah yang sama, di lajur yang sama.

Sepertinya sepele, tapi saya tahu hampir kita semua pernah mengumpat ketika tiba-tiba ada motor atau mobil yang membelok ke kiri tanpa memperhatikan jalan di kanannya.

Kebetulan, kita tinggal di negara di mana aturan lalu lintasnya tidak memberlakukan “stop sign” di setiap tikungan. Sehingga orang dengan mudah bisa nyelonong menikung begitu saja.

Kalau di banyak negara maju biasanya ada stop sign, sehingga pengendara dibiasakan untuk berhenti dulu beberapa saat sebelum menikung.

Entah berapa banyak kecelakaan terjadi karena lupa menoleh ke kanan atau ke kiri ini. Entah berapa korban jiwa melayang hanya karena lupa ajaran masa kecil untuk menoleh ke kanan dan ke kiri.

Dan kalau sudah begitu, kita tidak bisa menyebutnya sebagai musibah. Karena musibah itu terjadi kalau kita sudah berupaya optimal menghindari masalah, tapi tetap terjadi masalah. Kalau kita tidak menoleh, tancap gas, lalu mengalami kecelakaan, mungkin namanya lawan kata dari “kepintaran”.

Harapan-harapan saya simpel, bukan? Tapi, dampaknya akan luar biasa kalau hal-hal kecil itu tiba-tiba bisa menjadi habit bersama.

Selamat datang 2016, semoga yang ingin kurus bisa kurus. Semoga yang ingin rajin jadi rajin. Semoga yang ingin sukses jadi sukses. Yang penting jangan lupa untuk berusaha, tidak sekadar berdoa.

Dan saya minta tolong sekali lagi: Jangan lupa menoleh ke kanan dan ke kiri… (*)