Saatnya Menagih Landasan Pacu Ganda

JawaPos.com – Musim hujan seperti hari-hari ini bukan hanya musim jalan berlubang. Nasib yang sama dialami landasan pacu bandara. Misalnya, yang terjadi di Bandara Juanda kemarin pagi (7/2). Aspal di landasan itu terkelupas. Pengoperasian bandara internasional itu pun sempat dihentikan selama hampir tiga jam. Petugas teknik buru-buru menambalnya.

Rasanya bukan kemarin saja landasan pacu mengalami hal seperti itu. ”Teror” di runway kerap terjadi. Bahkan setiap tahun. Terutama saat cuaca dianggap tidak bersahabat. Karena itu, jangan heran bila hujan selalu menjadi kambing hitamnya. Yang saya tahu, belum ada skenario untuk mengantisipasi kejadian tersebut. Setidaknya agar penerbangan tetap berlangsung normal. Dan tak ada cerita penumpang pesawat dirugikan.


Ilustrasi runway bandara (Muhammad Ali/Jawa Pos)

Misalnya, dengan mengoperasikan dua landasan pacu. Double runway Juanda sebenarnya mimpi yang nyaris terealisasi. Tepatnya saat awal-awal Presiden Joko Widodo menjabat pada 2014.



Ketika itu, Kementerian Perhubungan di bawah komando Ignasius Jonan membuat infrastruktur perkeretaapian maupun perhubungan laut dan udara lebih bergeliat. Banyak bandara yang dimekarkan. Di antaranya, Sepinggan, Balikpapan; Ngurah Rai, Denpasar; dan Ahmad Yani, Semarang. Bandara Adisutjipto Jogja pun dimekarkan sampai Kulonprogo dengan nama New Yogyakarta International Airport.

Khusus di Juanda, agenda membangun terminal 3 (T3) ketika itu dimatangkan. Lokasinya sudah ditetapkan. Tepatnya di sebelah timur lokasi bandara sekarang. Landasan pacunya didesain menghadap laut. Pemerintah daerah seperti Sidoarjo dan Surabaya maupun Pemprov Jatim sudah diajak berembuk. Mereka menyatakan siap mendukung. Bentuknya membebaskan lahan untuk T3 dengan double runway-nya.

Begitu pula TNI-AL yang bertanggung jawab dalam pengamanan objek vital bandara. Dalam konsep bandara di pangkalan militer, idealnya, dua terminal (T1 dan T2) Juanda didukung satu paket landasan yang terdiri atas landasan parkir (apron), landasan penghubung (taxiway), dan runway. Bila tetap satu runway, tentu pesawat harus bergiliran terbang maupun mendarat.

Kondisi itu membuat waktu pesawat yang antre terbang maupun antre mendarat di Juanda kurang efisien. Bayangkan, dalam sehari, lebih dari 400 pesawat take off dan landing di satu-satunya runway tersebut. Beban permukaan landasan berbahan aspal konsentrat bakal berat. Apalagi setiap hari harus didarati ratusan pesawat yang bobotnya berton-ton.

Pemikiran Juanda punya dua runway sebenarnya bukan hal baru. Sejak bandara itu dibangun ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia, sekarang TNI-AL) menjadi Pangkalan Udara AL (Lanudal) pada 1963, pembangunan Juanda semula tidak direncanakan untuk penerbangan sipil. Namun, perancang teknik asal Prancis mengusulkan kepada Djoeanda Kartawidjaja, perdana menteri Indonesia kala itu, agar pangkalan dimanfaatkan bersama untuk penerbangan sipil.

Maksudnya adalah membangun double runway. Di selatan runway militer untuk pertahanan keamanan dan runway utara untuk penerbangan sipil. Sayang, ide era Orde Lama tersebut belum kunjung terealisasi sampai kini. Karena itu, lantaran musim hujan periode tahun ini masih berlangsung, siap-siap saja menghadapi ”teror” di runway lagi. (*)

Editor           : Ilham Safutra