Saatnya Tafakur dan Ikuti Kata Hati

JawaPos.com – Pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia periode 2019-2024 pada 17 April 2019 sudah di depan mata. Hari ini pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, mengadakan kampanye akbar terakhir di Gelora Bung Karno, Jakarta. Malamnya, dihelat debat kelima capres dan cawapres di Hotel Sultan, Jakarta.

Sudahkah Anda menentukan pilihan? Semakin mantap? Pada 7 April, pasangan capres dan cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno, telah lebih dulu memutihkan stadion kebanggaan Indonesia itu dan menggelar salat Subuh berjamaah. Hari ini giliran Jokowi-Ma’ruf berkampanye dengan Konser Putih Bersatu.

Di Solo, 9 April, Jokowi yang lebih dulu menggerakkan lautan manusia berkampanye di Stadion Sriwedari. Sehari kemudian giliran Prabowo.

Kampanye di Sriwedari itu menarik untuk dicermati. Sebab, betapa pun Gelora Bung Karno lebih besar, Stadion Sriwedari lebih sakral. Didirikan oleh Susuhunan Paku Buwono X, raja Keraton Surakarta, pada 1932 atau 13 tahun sebelum Indonesia merdeka, Sriwedari adalah stadion pertama bikinan anak bangsa. Stadion itu masih satu kawasan dengan Taman Sriwedari yang didirikan raja pada 1877 di atas tanah seluas 9,9 hektare.



Sriwedari bermakna taman surga. Pada mulanya, ia bernama Talang Wangi ketika menjadi satu di antara tiga bakal pusat Keraton Surakarta, selain Desa Sala dan Bekonang, sepindah dari Kartasura pascageger pecinan. Yang menemukan titik di radius Sriwedari adalah gajah milik Paku Buwono II yang berjalan dari Kartasura, lantas berhenti di Desa Kadipala. Namun, ada isyarat yang menunjukkan agar Sala saja yang dipilih.

Seabad kemudian, radius Kadipala dijadikan bon raja yang bernama Sriwedari. Bisa jadi nama itu terinspirasi nama taman yang sama dalam Serat Arjunasasra. Selain tampan, Arjuna terkenal dengan panah Pasopati berdapur Wulan Tumanggal. Bukan keris.

Mulai dikenal sebagai dapur keris pada 230 Masehi. Disebutkan dalam Serat Pustakaraja Purwa, keris dengan dapur itu ditempa Empu Ramadi di Gunung Lawu pada masa Mataram kuno.

Arjuna diberi Pasopati oleh Batara Guru setelah menyempurnakan tirakat jiwa-raga yang berat. Panah yang setiap dilepas berubah menjadi hujan ajal bagi musuh di medan laga itu sejatinya untuk berperang melawan diri sendiri.

Di Sriwedari, taman di mana rakyat bergembira dan mengudar rasa, Pasopati telah dihunus. Bukan panah, melainkan keris. Empu Totok Brojodiningrat memberikan keris berdapur Pasopati kepada Prabowo, yang langsung mencabut dan menghunus keris bernama Garuda Yaksa itu di depan rakyat.

Di Sriwedari pula, Jokowi menghunus tiga senjata utama: kartu Indonesia pintar kuliah, kartu pra-kerja, dan kartu sembako murah. Bagi kita, pemilu seharusnya bukan perang, melainkan pesta demokrasi. Tak perlu people power, kecuali dimaknai kekuatan rakyat menentukan siapa pemimpin nasional lima tahun ke depan. Selain merujuk debat capres dan cawapres, polling, serta kampanye, kita sangat perlu memohon petunjuk Tuhan.

Berbagai peristiwa dalam setahun terakhir telah sangat cukup untuk kita jadikan bahan renungan guna memilih presiden dan wakil presiden Republik Indonesia periode 2019-2024. Tak selayaknya memberi ruang pada upaya jahat memecah belah bangsa, ujaran kebencian dan permusuhan, dusta dan fitnah, serta kemunduran dan kekalahan Indonesia. Kini saatnya tafakur, memasuki masa tenang, dan mengikuti kata hati. (*)