Sabar – Radar Malang Online

 

Saya punya pengalaman kurang menyenangkan dengan Batik Air. Yakni ketika Senin lalu (03/12) ke Jakarta. Waktu boarding pukul 05.30. Dari Malang saya berangkat ke Juanda pukul 02.00. Awalnya saya mengira on time. Tiba di ruang tunggu, sesuai jadwal, kami dipersilakan masuk ke pesawat. Kali ini saya merasa agak aneh. Tak biasanya, kami masuk ke Batik Air dengan bus menuju ke tempat parkir pesawat, yang jaraknya lumayan jauh (untuk ukuran shuttle bus menuju ke pesawat). Padahal, sebelum-sebelumnya, setiap kali naik Batik Air, saat boarding saya selalu langsung melalui tangga belalai atau garbarata. Ada apa ini?

Seperti biasa, ketika penumpang sudah hampir memenuhi isi pesawat, pramugari berkeliling untuk menghitung jumlah penumpang. Pilot pun sudah menyapa penumpang. Mesin pesawat sudah menderu. Video penjelasan tentang seputar kondisi pesawat dan situasi kedaruratan juga sudah diputar. Ketika semua ”ritual” di dalam pesawat itu sudah dilaksanakan, pesawat tak kunjung bergerak. Ada apa ini? Kembali saya bertanya-tanya di dalam hati.



Akhirnya pertanyaan-pertanyaan saya tadi terjawab. Salah seorang pramugari mengumumkan bahwa pesawat tak memungkinkan terbang. Para penumpang dimohon turun lagi dari pesawat, dan menuju ke ruang tunggu. ”Huuuuuu”… demikian teriak spontan para penumpang, termasuk saya. Maka, berantakanlah jadwal saya ke Jakarta. Hari itu, saya seharusnya tiba di Kementerian Komunikasi dan Informasi, untuk memenuhi undangan dari Komisi Informasi Pusat, pukul 09.30. Seharusnya saya tidak terlambat. Makanya, saya memilih jadwal dengan Batik Air pukul 05.30. Tapi, dengan kejadian delay ini, saya pasti terlambat.

Kami bersama para penumpang, dengan wajah kecewa, balik lagi ke ruang tunggu. Saat itu, kami belum mendapat kepastian jam berapa kembali terbang. Ada yang menarik, selama perjalanan kami menuju ke ruang tunggu. Di antara penumpang, ternyata ada yang saling menghibur. ”Nggak apa-apa, lebih baik penerbangan ditunda. Daripada dipaksakan terbang, nanti malah jatuh (pesawatnya),” ucapan seorang penumpang yang umurnya kira-kira di atas 60 tahun ini, membuat penumpang lain tak lagi ada yang mengumpat dan menggerutu. Saya lantas teringat, bagaimana tragisnya pesawat Lion Air JT 610 saat terjatuh di Karawang beberapa waktu lalu.

Pembaca, dalam keseharian mungkin kita pernah mengalami kejadian-kejadian tak menyenangkan yang tak terduga. Seperti pengalaman saya di atas. Ketika kita dihadapkan pada situasi seperti itu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Saya memilih ini: Sabar. Tak ada artinya mengumpat. Tak ada artinya menggerutu. Betapa pun kita mengumpat. Betapa pun kita menggerutu, toh pesawat tetap saja ditunda keberangkatannya.

Untuk bisa bersikap sabar, memang tidak mudah. Sabar adalah tentang kebiasaan. Sabar adalah tentang cara hidup dan kerangka berpikir. Sabar juga sebuah proses, yang akan sangat menentukan hasil.

Ilmuwan penemu gaya gravitasi, Isaac Newton pernah mengatakan: ”Jika saya berhasil membuat sebuah penemuan yang berharga, hal tersebut lebih merupakan hasil kesabaran saya dibandingkan dengan keahlian lain yang saya miliki,”. Kutipan terkenal Newton lainnya soal sabar adalah: ”Genius is patience,”.

Dalam Islam, sangat dianjurkan bersikap sabar. ”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,” (QS 2: 153).

Dalam hidup berdemokrasi, agar bisa menikmati demokrasi, kuncinya adalah sabar. Dahlan Iskan pernah mengatakan, inti dari demokrasi adalah sabar. Sabar menerima perbedaan. Sabar dalam mendengar kritikan dan hujatan. Sabar dalam menerima pemimpin yang tidak disukai. Dan sabar dalam mengendalikan sikap dan hawa nafsu.

Terjadinya intrik, polemik hingga konflik antar elite politik dewasa ini, hulunya sebenarnya adalah sikap sabar. Di kubu pemerintah, kurang sabar dalam menghadapi manuver, kritikan, dan hujatan dari kubu oposisi. Dari kubu oposisi, juga kurang sabar dalam bermanuver. Lebih tepatnya kurang wise dalam berpolitik.  Sehingga, terkesan hanya mencari-cari kesalahan pemerintah.

Dalam menghadapi konflik antar elite politik seperti itu, kita sebagai rakyat, harus sabar. Dengan bersikap sabar, kita bisa menikmati konflik itu sebagai sebuah proses dalam belajar berdemokrasi.

Jujur saja, saya termasuk yang merasa terhibur, ketika menyaksikan perdebatan panas para elite politik yang berseberangan di televisi.  Misalnya, perdebatan antara Fadli Zon dari kubu oposisi dan Adian Napitupulu dari kubu pemerintah. Mereka beradu data. Beradu argumen. Saya menikmati perdebatan itu. Terkadang saya sampai tertawa. Bagaimana bisa berbeda ya, yang dilihat objeknya sama, tapi ketika masing-masing kubu ngomong tentang data, bisa berbeda hasilnya. Ketika yang ngomong data adalah Fadli Zon, maka kebijakan pemerintah tidak ada yang baik. Tidak ada yang benar. Ketika yang ngomong data adalah Adian, maka pemerintah terkesan tak ada cacatnya. Inilah yang membuat saya tertawa. Semakin jelaslah bahwa data itu sangat tergantung pada siapa yang membaca dan menggunakan data itu.

Wal akhir, saya menawarkan satu kalimat sebagai penutup, berharap bisa menjadi bahan perenungan: Jangan-jangan, sebagai bangsa, kita ini sudah semakin hilang kesabarannya. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp).