Sadar Kapan Harus Berubah (Seri 1) | JawaPos.com – Azrul Ananda

Halaman DetEksi telah merevolusi bagaimana koran mendekati pembaca muda. Halaman DetEksi telah mengantarkan Jawa Pos menjadi koran dengan pembaca terbanyak di Indonesia. Halaman DetEksi bahkan telah mengantarkan Jawa Pos meraih penghargaan sebagai koran terbaik di dunia.

Karena itulah DetEksi –dan halaman anak muda lain di koran-koran Jawa Pos Group– sudah waktunya ditutup.

Selamat tinggal DetEksi. Selamat datang Zetizen.

***



Tanggal 26 Februari 2000, halaman DetEksi kali pertama terbit di koran Jawa Pos. Halaman untuk anak muda, dikerjakan sepenuhnya oleh anak muda.

Protes bermunculan dari pembaca. Banyak yang bilang halaman ini tidak berguna. Banyak orang tua yang takut anak-anaknya bakal terpengaruh.

Apalagi, tema-tema yang diusung waktu itu tergolong ”berani” dan ”terbuka” untuk masyarakat yang belum terbiasa dengan kebebasan dan keterbukaan baru anak mudanya.

Tidak hanya diprotes. Didemo juga pernah! Oleh sebuah universitas, yang merasa DetEksi terlalu mengungkap kehidupan anak muda.

Aneh, universitas kan tempat untuk mengantarkan pelajar/anak muda ke dunia nyata. Lha ini universitas malah tidak mau menerima kenyataan dunia!

Sejak hari itu, saya berjanji tidak mau menerima lulusan universitas itu untuk bekerja di tempat saya. Wkwkwkwk…

Tahun 2000 itu (saya masih 22 tahun waktu DetEksi pertama terbit), kalau ditanya DetEksi untuk apa, ya saya jawab untuk masa depan.

Syukur alhamdulillah, pada 2006, yang kami harapkan jadi kenyataan. Survei Nielsen waktu itu untuk kali pertama (dalam sejarah!) menyatakan Jawa Pos sebagai koran dengan pembaca terbanyak. Sesuatu yang unik, karena untuk kali pertama koran dari luar Jakarta menjadi nomor satu.

Berarti Jawa Pos telah berhasil meregenerasi pembaca, di saat koran-koran lain terus menua bersama pembacanya.

Kebijakan punya pembaca muda ini pun diterapkan di koran-koran lain di grup Jawa Pos. Dengan berbagai bentuk, nama, dan pola.

Banyak yang sukses luar biasa di wilayah masing-masing. Seperti Xpresi di Kaltim Post, KeKer di Fajar Makassar, dan lain-lain.

Koran-koran Jawa Pos Group di berbagai wilayah itu, banyak yang masing-masing punya tiras dan pembaca lebih besar daripada koran-koran di Jakarta yang mengaku sebagai koran nasional!

Tidak lama setelah DetEksi terbit, rupanya juga ”menginspirasi” koran-koran kompetitor, yang mencoba punya halaman muda dengan berbagai bentuk, nama, dan pola.

Bangga juga rasanya ditiru kompetitor! Apalagi ketika ada yang mencoba meniru sama persis dengan DetEksi!

Benar juga bunyi kutipan lama: Imitation is the sincerest form of flattery (cari sendiri artinya ya…).

Buntut dari DetEksi juga panjang. Lahir DBL, liga basket SMA se-Indonesia yang aslinya bernama ”DetEksi Basketball League”. Lahir banyak event lain yang melibatkan puluhan ribu, bahkan ratusan ribu, anak muda.

Pada 2011, Jawa Pos pun dinobatkan sebagai koran terbaik di dunia untuk pembaca muda, dalam kongres koran sedunia WAN-IFRA di Wina, Austria.

Mengalahkan koran-koran terbesar dunia seperti Yomiuri Shimbun (Jepang) dan USA Today (Amerika Serikat).

Dari semua buntutnya, yang paling penting mungkin bukan dampak bisnis untuk Jawa Pos atau penghargaan yang didapat. Yang paling penting mungkin adalah dampaknya untuk pribadi-pribadi yang membacanya.

Antara 2000 hingga 2015, entah berapa juta anak muda yang pernah merasakan efek DetEksi, langsung maupun tidak langsung.

Belakangan, entah berapa kali saya bertemu orang yang mengaku pernah menjadi bagian dari DetEksi, pernah ikut acara DetEksi, pernah merasakan dampak positif karena baca DetEksi, dan lain sebagainya.

Senang? Iya.

Di sisi lain, itu juga mengingatkan kalau sudah tiba waktunya untuk menutup DetEksi.

Eksekusinya pada 26 Februari 2016.

Di hari ulang tahunnya yang ke-16. Untuk halaman yang didedikasikan untuk anak muda, DetEksi tidak pernah merasakan ulang tahun Sweet Seventeen…

***

Bandara Internasional Juanda Surabaya di Sidoarjo (duh panjangnya), tidak lama lalu.
Ketika hendak boarding pesawat, ada seorang cewek menyapa dari belakang. ”Mas Azruuuul…”

Lalu dia bilang: ”Masih ingat saya, Mas? Dulu pernah juara kompetisi jurnalis DetEksi.

”Saya lalu bertanya balik: ”Kuliah di mana sekarang?”

Jawabannya: ”Lho, saya sudah jadi dokter sekarang, Maaas…”

Glodaaaakkkk!!!!

Bunyi alarm di kepala berbunyi nyaring. Sama rasanya seperti waktu kali pertama dipanggil ”Oom”, walau tidak semenyakitkan dipanggil ”Oom”.

Mungkin, detik itulah muncul keputusan DetEksi harus ditutup. Masalahnya, kalau DetEksi ditutup, lalu gantinya apa?

Walau generasinya sudah banyak berubah, pembaca/pengikutnya sekarang sudah tidak tahu/kenal sejarahnya zaman dahulu kala (tahun 2000), DetEksi tetap punya pembaca/pengikut yang cukup fanatik.

Buktinya, pada 26 Februari 2016 lalu, begitu banyak yang mengontak kantor, mengeluh kenapa halaman DetEksi sudah tidak ada. Malah ada penelepon (anak SMA) yang marah-marah dan ngambek, memaksa-maksa DetEksi tidak boleh diganti Zetizen.

”Kembalikan DetEksi-ku!” teriaknya ke kru kami hari itu.

Apalagi, di Jawa Pos tanggal 26 Februari lalu memang cukup ”kejam”. Tidak ada pengumuman apa-apa. Tiba-tiba ganti jadi Zetizen. Bukan hanya itu. Mulai Senin, 7 Maret kemarin, puluhan koran lain di Jawa Pos Group –dari Aceh sampai Papua– juga punya halaman Zetizen.

Kenapa begitu? Ya kenapa tidak!

Penjelasannya baca besok ya… Wkwkwkwkwk… (bersambung)