Sampah – Radar Malang Online

Sampah adalah simbol peradaban. Jika sebuah peradaban belum bisa mengatasi problem sampah secara lebih canggih, maka berarti peradaban itu masih primitif.

Jika merunut sejarah bangsa-bangsa di dunia, persoalan sampah adalah persoalan yang sangat klasik. Regulasi persampahan pun juga sudah ada sejak dulu. Pada abad ke-12, Philippe Auguste dari Prancis adalah raja pertama yang memerintahkan pengumpulan sampah yang mengotori jalanan kota.

Hukum pertama tentang pencemaran yang dikeluarkan pada 1388 oleh Parlemen British, adalah melarang membuang sampah ke jalan dan sungai. Jika ada yang melanggar, maka akan dilaporkan oleh masyarakat sekitar kepada sekretaris pribadi raja.

Pada masa awal era industrialisasi abad ke-19, persoalan sampah begitu parahnya. Industri metalurgi, besi, dan baja mencemari tanah, air, dan udara. Hal ini sempat digambarkan dalam novel Charles Dickens dan tulisan Friedrich Engels yang menggambarkan polusi di London. Saat itu, tepatnya pada 1930, 63 orang meninggal karena polusi di Lembah Mosa, Belgia. Keadaan di London, tahun 1952, bahkan lebih parah. Sebanyak 4.000 orang meninggal karena penyakit saluran pernapasan bagian atas karena polusi udara.



Jika sampah dianggap sebagai simbol peradaban, maka sebuah bangsa disebut canggih peradabannya ataukah masih primitif, salah satunya adalah dilihat dari seberapa bagus penanganan sampah oleh bangsa itu.

Kita lihat Swedia, misalnya. Negara ini begitu canggih teknologi pengelolaan sampahnya. Mayoritas sampah rumah tangga di negara itu bisa didaur ulang. Setiap tumpukan sampah di Swedia punya dua pilihan nasib: Didaur ulang atau diubah menjadi energi. Dari seluruh sampah di Swedia, sekitar 50 persen didaur ulang, 49 persen diolah menjadi energi, dan kurang dari 1 persen dari pembakaran energi yang dikubur dalam tanah.

Teknologi penanganan sampah untuk diubah menjadi energi di Swedia telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Mengutip seperti ditulis The Huffington Post, Swedia menerapkan manajemen sampah dengan konsep WTE (waste-to-energy). Di sini, limbah rumah tangga diolah melalui proses pembakaran. Selanjutnya uap panas yang dihasilkan oleh proses pembakaran dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Setelah itu listrik didistribusikan ke rumah-rumah di seluruh pelosok negeri. Pembangkit listrik berbahan bakar sampah di Swedia telah memasok kebutuhan panas bagi 950 ribu rumah tangga dan memenuhi kebutuhan listrik bagi 260 ribu rumah tangga di seluruh Swedia.

Begitu canggihnya penanganan sampah di Swedia untuk diubah menjadi energi, sampai-sampai Swedia saat ini kekurangan sampah untuk dijadikan bahan bakar pembangkit energinya. Swedia kini mengimpor 800 ribu ton sampah per tahun dari negara-negara tetangganya di Eropa. Mayoritas sampah ini berasal dari Norwegia.

Apakah berarti Swedia membayar ke Norwegia untuk impor sampah tersebut? Tidak. Justru Norwegia-lah yang harus membayar kepada Swedia, karena Swedia membantu Norwegia menangani masalah sampah di negaranya.

Dengan canggihnya teknologi penanganan dan pengelolaan sampah, Swedia sudah tidak seberapa butuh TPS (tempat pembuangan sementara) dan TPA (tempat pembuangan akhir) seperti yang masih kita jumpai di sini. Kalaupun ada TPA di Swedia, pemerintah di sana menentukan tarif pajak yang tinggi untuk setiap sampah yang dibuang di TPA. Regulasi ini dibuat agar pembuangan sampah di TPA seminim mungkin. Sebab, sampah yang ditumpuk di suatu area atau lahan tertentu, dapat mengurangi kualitas tanah, air dan udara di daerah tersebut.

Nah, kita pasti iri, jika membandingkan antara teknologi penanganan sampah di negara kita dengan Swedia. Kapan kira-kira kita bisa meniru Swedia? Maaf, saya harus menyatakan, bahwa rata-rata penanganan sampah kita masih primitif. Hampir di setiap kota atau daerah, selalu ada TPS dan TPA. Dan pada hari-hari tertentu, sampah bisa begitu banyaknya hingga menumpuk di TPS selama berhari-hari. Di Kota Malang, beberapa minggu lalu, sampah pernah sampai tidak terangkut ke TPS dari setiap rumah. Ini terjadi di beberapa kelurahan di beberapa kecamatan.

Lahan yang dipergunakan sebagai TPA, kita sadari atau tidak, sudah berubah menjadi lebih buruk lingkungan tanah, air dan udaranya. Di Kota Malang, kawasan Supiturang menjadi lokasi TPA. Akan menjadi seperti apa kawasan Supiturang lima tahun ke depan, 10 tahun ke depan atau 20 tahun ke depan? Sampai kapan kita mampu meniru seperti Swedia? 10 tahun lagi? 15 tahun lagi? Atau 20 tahun lagi? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp).