Selamat Datang Para Pemimpin…

Kota Malang dan UB (Universitas Brawijaya) tak lama lagi akan menghelat pesta demokrasi untuk pemilihan pemimpin barunya. Apakah kepemimpinan petahana (Wali Kota Malang Moch. Anton dan Rektor UB Prof Dr Ir M. Bisri) masih akan berlanjut di periode kedua, ataukah Kera Ngalam dan stakeholders di Kampus Biru akan memilih sosok yang betul-betul baru?

Itu semua akan segera terjawab beberapa bulan ke depan. Kedua institusi ini memiliki roh yang sama sebagai lembaga pemerintah yang bertugas melayani masyarakat. Kota Malang fokus pada pelayanan publik, khususnya di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Sedangkan UB lebih pada pelayanan pendidikan tinggi.

Kesamaan keduanya memberikan alasan bagi Kota Malang dan UB untuk membuka ulang lembar-lembar sejarahnya, bahwa mereka perlu meningkatkan kualitas layanannya secara kontinu untuk kepentingan publik dan negara.

Visi-misi calon-calon pemimpin di kedua ranah harus clear untuk mengatasi persoalan yang tengah melekat di batang tubuh institusinya. Kota Malang dituntut segera memperkuat ikhtiarnya untuk mengentaskan kemiskinan, ketimpangan, dan pengangguran terdidik. Adapun dari arah yang sama, UB dituntut menciptakan lulusan yang bisa mengisi kebutuhan tenaga kerja berkualitas, terampil, dan berkarakter, termasuk di dalamnya pengembangan ilmu pengetahuan.

Di luar core business secara parsial, koneksitas keduanya juga bisa merajut solusi bersama atas problematika yang tampak nyata di Kota Malang: Kemacetan, genangan air dan banjir, serta pengelolaan sampah.



UB sebagai gudang ilmu sewajarnya perlu menopang Pemerintah Kota Malang serta aktif ikut menyelesaikannya. Oleh karena itu, peran pemimpin baru (lanjutan ataukah yang benar-benar baru) perlu memiliki hubungan yang saling mengisi dan membutuhkan. Kehadiran UB di tengah-tengah masyarakat, khususnya di Kota Malang, perlu lebih ”dirasakan”.

Memperkuat Daya Saing

Daya saing mulai menjadi bagian dari indikator pembangunan terkini. Daya saing muncul secara alamiah saat globalisasi, borderless state (negara tanpa batas) sudah memasuki konsep bernegara dan akhirnya memaksa negara bahkan kota di banyak belahan dunia harus bertarung dan bekerja sama. Adanya ruang bermain yang makin luas dan perpindahan faktor produksi dengan cepat antarwilayah di dalam negara maupun antarnegara menjadikan tuntutan akan kualitas layanan publik semakin terstandardisasi.

Saat ini, dengan mudahnya masyarakat akan membandingkan kualitas layanan antardaerah maupun negara. Untuk itu, sangatlah pantas gambaran akan pemimpin suatu institusi apakah pemerintahan daerah maupun perguruan tinggi dibandingkan.

Daya saing sendiri, sering kali dipakai sebagai indikator untuk mengukur sejauh mana inovasi kebijakan yang dibuat memberikan dampak positif terhadap efektivitas pelayanan publik. Para pemimpin perlu ”diadu” agar semakin kreatif dan inovatif di dalam penggunaan sumber daya yang ada dalam rangka mensejahterakan masyarakatnya.

Kota Malang dan Universitas Brawijaya, sama-sama sebagai insitusi publik, masing-masing memiliki filosofi dasar untuk menjadi sebuah institusi yang hebat. Kota Malang memiliki semboyan Malang Kucecwara sebagai fondasi kebijakan. Sedangkan UB dalam kebijakan pengembangannya akan selalu berpegangan pada prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Makna semboyan Malang Kucecwara ialah Tuhan menghancurkan yang batil, menegakkan yang benar. Dalam pandangan awam sudah cukup jelas bahwa maksud dari semboyan ini adalah mewajibkan Pemerintah (Kota Malang) untuk memberangus hal-hal yang batil (sia-sia atau tidak benar), serta menjalankan prinsip-prinsip pemerintahan yang benar (good governance).

Tri Bina Cita atau tiga pokok cita-cita masyarakat adalah menjadikan Kota Malang sebagai Kota Pendidikan, Kota Industri, dan Kota Pariwisata. Tri Bina Cita menjadi bagian dari hukum kausalitas (sebab-akibat) yang perlu dikembangkan untuk mewujudkan masyarakat yang bahagia dan sejahtera. Makna kausalitas secara sederhana bisa dipahami sebagai faktor penggerak ataupun digerakkan untuk/dari sektor lainnya. Pemimpin  yang terpilih nantinya juga harus memilih cara yang cermat dan inovatif untuk menyelesaikan permasalahan eksisting.

Permasalahan Eksisting  

Misalnya masalah genangan air. Sebagai kota di mana perekonomiannya digerakkan oleh sektor sekunder dan tersier. Badan Pusat Statistik (2017) mencatat struktur ekonomi terbesar berasal dari sektor perdagangan, industri, dan konstruksi. Perkembangan ketiga sektor yang masif ini baik untuk pencapaian pertumbuhan ekonomi, tapi ada juga trade off-nya, yakni aspek pembangunan lingkungan berkelanjutan. Pembangunan sektor jasa tersebut mengorbankan lahan yang seharusnya untuk penyerapan air terutama di musim hujan, yang akhirnya berdampak munculnya genangan air, bahkan banjir di beberapa sudut perkotaan.

Masalah kemacetan, secara umum adalah dampak banyaknya para pendatang, khususnya dari luar Malang dan trennya menunjukkan angka yang terus meningkat signifikan. Belum lagi ditambahkan dengan pertambahan kepadatan ketika weekend atau musim liburan. Bahkan, berdasarkan survei lembaga internasional Inrix (2017), kemacetan di Kota Malang termasuk yang terparah di Asia.

Kota Malang menempati urutan keempat di Asia di bawah Bangkok, Jakarta, dan Bandung. Dalam setahun rata-rata waktu yang terbuang oleh pengendara sebesar 39,3 jam untuk menghabiskan kemacetan di Kota Malang. Penyebab lain, bisa juga disebabkan oleh pembangunan infrastruktur kalah cepat dengan pertumbuhan volume kendaraan.

Masalah lain yang ada, adalah tingkat ketimpangan pendapatan penduduk dan jumlah pengangguran terdidik. Tingkat ketimpangan Kota Malang yang diukur berdasarkan indeks gini rasio 2016 merupakan yang tertinggi keempat di Jawa Timur. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) tahun 2016 di Kota Malang juga tidak kalah tingginya dengan menempati urutan kedua se-kabupaten/kota di Jawa Timur. Berdasarkan jumlah pencari kerja terdaftar, sebagian besar pengangguran justru lulusan pendidikan SMA/SMK sederajat dan perguruan tinggi. Populasinya mencapai 89,57% dari total pencari kerja.

Permasalahan tersebut di atas merupakan permasalahan publik yang harus diselesaikan Pemerintah Kota Malang dan masyarakat (perguruan tinggi). Pelibatan publik dari kalangan perguruan tinggi, tokoh masyarakat, ormas, termasuk para pengusaha, untuk mendesain sebuah kebijakan yang fundamental dan strategis sangat penting di masa mendatang, mengingat permasalahan tersebut bukan hanya bersumber dari pemerintah, tapi ada di dalamnya masalah budaya, perilaku, serta tata nilai masyarakat.

UB sebagai salah satu kampus terkemuka perlu urun rembuk untuk ikut menyelesaikan permasalahan sosial di Kota Malang. Apalagi dalam semboyan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satu pokok kebijakannya ialah terkait pengabdian (UB) kepada masyarakat. UB perlu mendukung Pemkot Malang untuk mengidentifikasi solusi atas masalah-masalah pembangunan yang ada. Namun, UB sendiri jangan melupakan wewenang utamanya untuk menyediakan SDM-SDM berkualitas tinggi untuk kepentingan pembangunan jangka panjang bagi negeri ini.

UB sendiri perlu memenuhi target mendasarnya. Misalnya terkait progres program internasionalisasi, mendorong jumlah mahasiswa asing, serta peningkatan publikasi, jumlah guru besar, dan jumlah doktor. Daya saing UB secara nasional yang sempat melemah pada 2017 perlu digenjot lagi pada tahun-tahun berikutnya.

Indikator daya saing terendah yang dimiliki UB ialah faktor SDM yang tahun lalu berada di peringkat 26–27 secara nasional. Perbaikan yang dilakukan tentu bukan hanya pada satu aspek akademik saja atau beban pimpinan universitas, kerja sama konstruktif antara rektor, dekan, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa sangat krusial untuk menghasilkan kebijakan yang fundamental dan strategis bagi pengembangan UB  yang lebih baik.

Kolaborasi dan Networking

Dalam usaha mencapai tujuan dengan menyelesaikan segala permasalahan tersebut, kedua institusi diharapkan mampu untuk bisa berkolaborasi yang saling menguntungkan semua pihak. Di sini peran pemimpin kedua institusi menjadi sangat krusial sebagai pembuka jalan membawa transformasi/perubahan di masing-masing institusi.

Kita berharap sangat bahwa calon pemimpin yang tengah berkontestasi bisa beradu gagasan dengan sehat dan lugas. Karena penulis meyakini bahwa setiap figur yang mengikuti tahap pemilihan, merupakan orang-orang terbaik dengan kapasitas yang tinggi, serta memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan kinerja institusinya. Kemampuan berkolaborasi dengan segala segmen, tidak partisan, fleksibel, serta kemampuan membangun jejaring (networking) akan memperkuat dan mempermudah jalannya kepemimpinan yang terpilih nantinya. Selain itu, integritas pemimpin sangat penting dan mendasar, saat integritas terganggu, bisa dipastikan segala yang dibangun susah payah akan tiada arti dan bisa dipastikan tidak berkelanjutan.

Selamat datang pemimpin baru! Apakah petahana atau sosok baru, kita dukung semua proses yang ada. Dan kita semua berharap terwujudnya proses demokrasi yang sehat dan santun. Semoga kemajuan akan senantiasa terwujud di Kota Malang dan Universitas Brawijaya yang kita cintai dan banggakan. Salam satu jiwa, Ker!!!. (c2/abm)

Prof Dr Candra Fajri Ananda
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya