Selasa Bersama Opa JK

SETIAP Selasa siang, Wakil Presiden M. Jusuf Kalla meluangkan waktu untuk wawancara isu-isu terkini sepekan terakhir. Semua bisa ditanyakan kepada JK, begitu dia biasa disapa.

Mulai soal politik, ekonomi, agama, hingga sosial budaya. Maklum, JK memang punya latar belakang untuk semua persoalan tersebut.

Jadi, tak mengherankan pula kalau jawaban-jawaban darinya kerap layak kutip. Tak sekadar normatif. Meski, itu pendek.

JK memang politikus tulen. Tak hanya dua kali menjadi wakil presiden, dia juga pernah jadi ketua umum Partai Golkar.



Cukup sering JK mengungkapkan guyonan: tiga kali maju pilpres, dua kali menang dan satu kali kalah. Sejauh ini belum ada yang menyamai capaian itu.

Dalam suatu forum pada 2017, JK pernah menyampaikan, karena penduduk Jawa paling banyak, calon dari Jawa punya kemungkinan terpilih lebih besar. Orang luar Jawa seperti dirinya mungkin baru akan terpilih seratus tahun lagi. Kondisi seperti itu pun terjadi di Amerika Serikat. Barack Obama yang berkulit hitam baru terpilih setelah 240 tahun.

Demokrasi itu memilih yang sesuai dengan kita, begitu kata JK. Kalimat yang cukup mewakili cara kerja demokrasi.

Di saat ramai Pilpres 2019, nama JK sempat kembali muncul untuk menemani Jokowi di periode kedua. JK juga menjadi pihak terkait atas gugatan ke Mahkamah Konstitusi terkait ketentuan dua periode masa jabatan wakil presiden. Dia sempat dianggap berambisi tinggi untuk jadi Wapres lagi. Belakangan gugatan itu ditolak.

JK juga seorang pebisnis kawakan. Dia pernah memimpin langsung kelompok usaha keluarga yang kini bernama Kalla Group. Bisnis keluarga itu menyentuh banyak sektor strategis. Mulai konstruksi, otomotif, transportasi, logistik, hingga energi. Dari diler utama merek otomotif sampai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Poso, Sulawesi Tengah.

Di sektor ekonomi, JK berupaya memperbaiki soal beras. Dia pernah mengkritik data produksi beras nasional yang tak sinkron antara Kementerian Pertanian dan BPS (Badan Pusat Statistik).

Tak mau urusan itu berlarut, JK mengambil kebijakan dengan memimpin sendiri rapat sinkronisasi data beras. Ada penggunaan teknologi untuk menghitung luas sawah dan produksi beras nasional. Data yang lebih akurat akhirnya didapat.

Sementara itu, kiprah JK di bidang sosial terabadikan, salah satunya, sebagai juru perdamaian. Mulai mendamaikan konflik di Aceh, Poso, hingga Ambon.

Jejak tersebut bisa dilacak dalam bukunya yang berjudul Harmoni dan Damai dalam Perbedaan (Grafindo, 2013). Satu hal yang dia ungkapkan, konflik itu tak melulu soal agama. Tapi, karena ketidakadilan. Namun jadi besar karena dibungkus agama.

Keseriusan untuk menyelesaikan persoalan hingga tuntas itu juga terlihat dalam banyak kerja yang dia tangani. Misalnya saat menjadi ketua Dewan Pembina Penyelenggara Asian Games 2018 lalu.

Pengecekan persiapan AG 2018 itu tak hanya dari laporan saja. Tapi, dia meninjau langsung kondisi atlet dan venue. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Termasuk saat pagi-pagi dia makan pisang bersama rombongannya di dekat Kali Item pinggir wisma atlet Kemayoran untuk menepis isu bau sungai yang tak sedap. Tindakan itu spontan saja. Tapi, bisa bermakna besar.

Konsistensi dalam menemukan jalan keluar atau solusi yang sederhana dan ringan itu salah satunya juga terangkum dalam buku #JK75; Cerita tentang Kalla. Buku yang ditulis wartawan yang ngepos di Istana Wapres pada 2017 lalu.

Sekaligus sebagai hadiah untuk ulang tahun ke-75 JK. Teman-teman wartawan yang ngepos di Istana Wapres itu punya panggilan opa untuk JK. Bukan semata karena usia beliau. Tapi, ada yang merujuknya pada oppa dalam drama-drama Korea yang berarti panggilan sayang untuk kakak.

Isi buku itu, antara lain, sisi lain seorang JK. Mulai rahasia stamina yang kuat pergi ke luar kota dan luar negeri dalam sehari. Hingga soal uji harga bahan pokok pasar dengan meminta bantuan asisten rumah tangganya. Termasuk soal kalkulator, rantang makan siang, hingga soal hobi bermain golf.

Karena paham lapangan, juga selalu memberi keseriusan dan perhatian penuh, jalan keluar yang dia tawarkan atau putuskan untuk berbagai persoalan kekinian itu solutif dan simpel.

Maka, saat ada waktu untuk wawancara JK, tiap Selasa itu, semua pertanyaan harus dipersiapkan dengan matang. Membaca banyak referensi dari berita-berita sebelumnya juga.

Jangan sampai terlihat bodoh dengan menanyakan yang tak semestinya ditanyakan. Meski, JK yang sumeh itu selalu bisa meredakan ketegangan. Dia hampir tak pernah lupa bertanya, ”Sudah makan, Kalean?” Kami pun kompak menjawab sudah. Dan suasana pun jadi lebih cair.

Selasa lalu (15/10) pun jadi Selasa terakhir bersama JK dalam kapasitas sebagai wakil presiden. Posisinya digantikan Ma’ruf Amin yang akan mendampingi Presiden Joko Widodo untuk periode 2019–2024.

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah bertanya, apa yang akan dia kerjakan jika kelak pensiun dari tugas-tugas kenegaraan. Tak ada rencana khusus, katanya. ”Saya cuma ingin jalan-jalan sama keluarga.” (*)


Wartawan Jawa Pos di Istana Wapres 2016–2019