Semangat walau Suhu Nol Derajat

JawaPos.com – Pemilihan umum di Moskow kemarin berjalan dengan sangat baik dan lancar. Partisipasi juga tinggi. Dari 507 orang yang terdaftar di daftar pemilih tetap, 315 orang memberikan hak pilih. Jumlah itu lebih dari 60 persen. Dan ini tentu melewati target yang sudah dicanangkan sejak awal.

Kalau secara total ditambah dengan pemilih tambahan dan khusus, jumlah total pemilih di Rusia mencapai 370 orang.

Latar belakang pemilih di Rusia itu bermacam-macam. Ada yang karyawan, mahasiswa, kelompok profesional, dan keluarga besar KBRI Moskow. Ada juga warga Indonesia yang bekerja sebagai terapis spa. Mereka datang dari Bali.

Suhu di Rusia kemarin masih sangat dingin, yakni nol derajat. Di luar KBRI masih ada salju. Suhu memang drop, entah mengapa. Padahal, seharusnya pada saat-saat ini sudah memasuki musim semi dengan suhu belasan derajat Celsius. Namun, ternyata hujan salju itu tidak menyurutkan antusiasme pemilih.



TPS di KBRI Moskow kami buka pada pukul 08.00. Saat itu sudah ada 40 orang yang datang. Sebanyak 30 orang bekerja sebagai terapis di rumah spa itu tadi. Mereka mendapatkan izin untuk memilih pagi dari tempatnya bekerja. Untuk mereka, kami menyediakan bubur ayam sebagai sarapan.

Setelah kami melakukan peragaan dan lain sebagainya, situasi pemilihan mulai mengalir dengan lancar. Suasananya sangat ceria. Karena ini masih hari libur, selain adanya pemilihan, kami juga mengadakan bazar yang diinisiasi Dharma Wanita. Itu bazar yang sangat menarik.

Paling cepat ludes terjual itu mi instan. Sebab, di Rusia baru tersedia yang cup. Sedangkan yang paket belum ada. Jadi, orang-orang agak rebutan. Selain itu, dijual bumbu-bumbu instan, lalu kecap dan lain-lain. Ada pula yang berjualan makanan kecil dan kue-kue kering. Itu semuanya juga ludes.

Pemilihan bagi kami yang tinggal di Rusia adalah peristiwa yang menyenangkan. Semacam menjadi ajang silaturahmi. Kemarin saya bertemu dengan dua orang dari Kazan. Mereka datang ke Moskow, naik kereta api selama 13 jam.

Saya tanya kepada mereka mengapa tidak mengeposkan suaranya saja. Padahal, jarak Moskow ke Kazan cukup jauh. Mereka menjawab bahwa mereka ingin bertemu dengan teman-teman yang tergabung dalam grup WhatsApp. Jadi, memang peristiwa pemilu menjadi arena silaturahmi juga. Seperti kopi darat.

Jumlah warga Indonesia di Rusia mencapai 1.020 orang. Namun sebetulnya, secara umum mencapai 1.300 orang. Sebab, banyak yang tidak mendaftar dan tidak memberitahukan keberadaan mereka kepada kami. Mereka umumnya adalah pekerja-pekerja profesional yang tergabung dari agen satu ke agen yang lain.

Kami menutup proses pemilihan pada pukul 18.00. Walau TPS sudah ditutup, masih ada warga Indonesia yang bertahan di KBRI. Kami juga terus menyediakan makanan untuk warga yang datang.

Tidak banyak catatan dalam pemilu di Rusia. Satu-satunya adalah kami menolak lima orang. Mereka ini statusnya memang turis dan hanya membawa formulir C6 dan paspor. Mereka tidak membawa formulir A5 yang merupakan surat pemberitahuan pemilih tambahan atau pemilih yang pindah TPS. Secara peraturan, itu tidak boleh. Sebab, bisa saja mereka nyoblos dua kali. Satu di sini, satu di Indonesia. Namun, ada tiga orang yang bisa memilih karena mereka membawa A5. Soal itu sudah kami jelaskan, tidak ada masalah.

Soal kejadian di negara-negara yang lain yang agak chaos, menurut saya, karena banyak pemilih yang tidak mendaftar sejak awal. Mereka cukup bermodal paspor. Padahal, mungkin saja kertas suara tidak mencukupi untuk memenuhi kuantitas di negara yang memiliki WNI banyak. Ini menurut dugaan saya.

Memang menurut aturan KPU, jumlah surat suara yang tersedia adalah sesuai DPT dan ditambah dua persen. Itu semua sudah tercatat di pusat. Kalau di Moskow, ada 38 orang yang datang sebagai pemilih khusus, satu jam sebelum TPS ditutup. Jadi, surat suaranya mencukupi. Bahkan, ada kelebihan. Sisa surat suaranya, menurut peraturan, sudah kami musnahkan.

Secara umum, situasi pemilihan di Moskow happy-happy. Antusiasme dan partisipasinya juga meningkat jika dibandingkan dengan Pemilihan Presiden 2014. (*)

*) Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus