Semua Anak Panah Gibran – DI’S WAY

 

Oleh: Dahlan Iskan

Semua orang tua. Semua. Mestinya membaca sajak Khalil Gibran ini. Yang jauh-jauh saya datangi makamnya. Yang juga museumnya. Di pegunungan bersalju: Lebanon Utara.

Semua orang tua mestinya jadi busur untuk anaknya. Bukan berebut jadi anak panahnya.

Saya kutipkan puisi Khalil Gibran itu. Satu. Dari begitu banyak pilihan. Versi Indonesianya. Saya pinjam saja yang dari ‘’Candu Membaca’’. Yang kelihatannya orang Riau penerjemahnya. Atau bukan orang Riau. Yang menggunakan kata ‘dia’ dengan huruf kecil. Bukan ‘Dia’ dengan huruf besar.



*

ANAK

Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dakapan dadanya berkata,
Bicaralah pada kami perihal Anak.

Dan dia berkata:
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu

Kerana mereka memiliki fikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka

Kerana jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu

Kerana hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak- anak panah itu dapat meluncur
dengan cepat dan jauh.

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan

Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

*

Saya baca puisi berumur 100 tahun itu. Di teras museum Khalil Gibran. Di tebing gunung. Yang menghadap kota kecil Bhasarre. Kota kelahirannya. Yang tampak di bawah sana.

Saya baca keras-keras puisi terbanyak dibaca di dunia itu. Hanya disaksikan tiga orang. Di udara dingin 7 derajat. Sambil sesekali melirik puncak pegunungan bersalju.

Saya baca satu lagi puisinya. Tentang cinta yang agung. Yang juga sudah diterjemahkan ke banyak bahasa. Lebih 100 negara. Yang bisa Anda cari sendiri bait-baitnya.

Dan pasti Anda sukai isinya. Anda renungkan maknanya. Terutama dua bait pertama. Dan bait terakhirnya.

Saya nikmati kunjungan ini. Setelah tiga hari di Beirut. Bergelut dengan keruwetan pikiran. Tentang banyaknya ideologi. Tentang banyaknya keyakinan. Tentang banyaknya kesenjangan.

Khalil Gibran membawa ketenangan.

Tapi tidak ada kendaraan umum menuju Bhasarre. Saya sewa mobil. Dengan sopirnya. Yang juga belum pernah ke sana.

Inilah pertama kali saya ke luar kota. ‘Kota’ yang saya maksud adalah Beirut. Satu-satunya kota besar di Lebanon. Yang begitu besarnya.

Saya ke arah utara. Menyusuri pantai. Tidak putus-putusnya rumah. Dan rumah. Di sisi pantainya. Di sisi gunungnya.

Saya lewati daerah Harissa. Saya tengok lautnya. Saya longok gunungnya. Saya amati lalu-lalang cable carnya. Yang menuju puncak Harissa. Yang ada patung bunda Marianya. Yang di dunia ini tertinggi letaknya.

Tapi saya sudah ke patung Yesus Memberkati. Di puncak gunung Rio de Jaenero. Di Brazil.

Hati saya kan di Khalil Gibran.

Saya ingin cepat sampai di Bhassare. Meski harus mampir dulu ke hutan pohon Cedar. Pohon langka. Yang ada di tengah-tengah bendera Lebanon itu.

Setelah satu jam menyusuri pantai tibalah. Di persimpangan. Yang ada penjagaan tentaranya. Itulah persimpangan ke arah gunung.

Naik. Berliku. Naik lagi. Berliku lagi. Tidak habis-habisnya. Nikung di tebing sini. Muter di tebing sana.

Indah. Menakjubkan. Meski masih kalah dengan Yellow Stone di Wyoming.

Semua tempat kelihatannya dekat. Menjalaninya ternyata jauh. Tidak sampai-sampai.

Sopir memaksa saya ke hutan Cedar dulu. Yang lebih tinggi: 2.500 meter. Suhu: 4 derajat. Ia juga ingin tahu. Sudah selalu melihatnya. Di bendera nasionalnya. Belum pernah melihat pohon aslinya.

“Pohon ini sudah berumur 5000 tahun,” ujar pemilik restoran yang menempel di pohon itu. Dalam bahasa Arab. Beragama Kristen Maronite. Hampir semua orang Kristen di Lebanon dari aliran Manorite. Yang tidak dikenal di Indonesia.

Saya percaya saja kata-katanya. Tentang umur pohon itu.
Saya memang mengaguminya. Lihatlah foto pohonnya. Jangan foto wajah saya. Yang bersama sopir. Di instagram dahlaniskan19.

Saya heran. Kok boleh ada restoran yang menempel di pohon begitu langka. Tidak mungkin restoran itu juga sudah berumur 5000 tahun.

Tidak lama saya di situ. Meski daging gibas bakarnya harum sekali sekali aromanya. Gurih sekali rasanya.

Hati saya di Khalil Gibran. Yang juga Manorite. Yang agak di bawah sana.

Museum Gibran ini unik sekali. Bukan sekedar di lereng, tapi di tebing. Tebing gunung berwarna coklat.

Tampak lubang-lubang di tebing itu. Dari jauh. Itulah teras museum. Yang dari teras itu bisa memandang jauh. Ke lembah. Ke gunung. Ke puncak yang lebih tinggi.

Saya segera membeli karcis: Rp 200 ribu. Petugas pun menyilakan saya masuk. Tapi saya keluar lagi. Ke teras. Ingin membaca puisi dulu. Khawatir keburu hujan.

Lihatlah videonya. Yang masih sulit dikirim. Karena agak berlebihan panjangnya. Atau pejamkan saja mata. Membayangkannya. Seperti difatwakan dalam sajak ‘pejam mata’ karya Khalil Gibran lainnya.

“Dalam tiga tahun terakhir, Anda orang kedua yang membaca sajak di sini,” kata penjaga museum itu.(Dahlan Iskan)