Seperti Menghantamkan Bola ke Tembok

JawaPos.com – Dalam novel Tiba Sebelum Berangkat karya Faisal Oddang, umpatan tailaso dari tokoh bekas bissu yang mengalami siksaan dalam penculikan menguatkan kesukuannya. Menunjukkan kegeraman dalam ketakberdayaannya.

Atau dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, umpatan-umpatan kasar oleh tokoh-tokoh, yang tidak dianggap tabu, menegaskan keterbelakangan dalam beberapa unsur dari penduduk dukuh kecil dan terpencil itu. Baik keterbelakangan ekonomi maupun ilmu pengetahuan.

Kalau kita mau becermin pada karya sastra, prosa khususnya, kata-kata umpatan memang memiliki peran cukup penting dalam menguatkan karakter (penokohan). Juga, menegaskan latar (setting) dan menunjukkan kultur meliputi unsur ekstrinsik.

Begitulah, di negara yang dihuni banyak suku dan kaya bahasa, umpatan turut mewarnai keragaman tersebut. Kerap kali tak sekadar menjadi refleksi kemarahan dan kegeraman, atau kekalahan dan ketakberdayaan, tetapi juga mampu menunjukkan identitas kesukuan si pengumpat.



Misalnya, jancuk menunjukkan ke-Jawa-annya. Sundala’, suntili’, sikulu’ menunjukkan ke-Makassar-annya. Tailaso menunjukkan ke-Bugis-annya. Lapet, kimbek lah menunjukkan ke-Medan-annya. Pate’, carembu’na, calatthong menunjukkan ke-Madura-annya.

Baik diumpatkan dalam konteks-konteks tertentu, dengan faktor spontanitas atau tidak, kata umpatan sering tak lepas dari bahasa daerahnya (native language). Sebagaimana ungkapan Ferdinand de Saussure, bahasa adalah ciri pembeda, demikian juga dengan umpatan.

Dalam berinteraksi sosial yang bersinggungan dengan berbagai suku, umpatan berbahasa daerah tak jarang dijadikan senjata tersembunyi hingga menumbuhkan sikap pengecut. Ketika terjadi perselisihan dengan orang berbeda suku sampai mengundang kekesalan, memaki dengan bahasa umpatan suku sendiri agar tidak dimengerti merupakan hal yang cukup sering terjadi.

Hal itu paling sering dilakukan para perantau dalam berinteraksi sosial dengan penduduk setempat maupun sesama perantau, atau sebaliknya. Setelah itu, dia bisa saja tersenyum menang karena telah berhasil memaki lawan. Padahal, sejatinya tengah membanggakan kekerdilan.

Pada dasarnya, ketika memuntahkan umpatan, orang seperti menghantamkan bola ke tembok. Tak sekadar mengenai tembok itu sendiri, hantaman berikut justru kembali kepada dirinya. Ada feedback.

Memaki orang dengan umpatan “goblok”, misalnya, sebenarnya dia tak lebih pintar dari orang yang diumpati. Sebab, hanya orang bodoh yang bersedia menjatuhkan harga dirinya di hadapan orang yang dianggap goblok.

Memaki orang dengan umpatan “anjing”, berarti dia sudah menunjukkan kebinatangannya sendiri. Sebab, hanya manusia yang memanusiakan manusia. Memaki orang dengan umpatan “sundal”, secara otomatis dia sudah melacurkan kehormatannya sendiri, minimal kepada orang yang diumpati.

Ketika memaki orang dengan umpatan “calatthong” (kotoran sapi), sebenarnya dia tidak lebih dari lubang pantat hewan bertanduk itu. Sebab, hanya lubang pantat sapi yang mengeluarkan calatthong. Ketika memaki dengan umpatan cabul, dia telah menelanjangi diri.

Kata umpatan memang tak selalu merepresentasikan kemarahan kendati bersifat makian (negatif). Kadang justru menjadi bahasa keakraban, kebercandaan (positif). Bahkan, sekadar umpatan latah di saat terkejut.

Menurut Nur Syarif Ramadhan, dalam artikel Sebuah Kajian So­siolinguistik tentang Sundala’, umpatan tersebut secara sosial kadang beralih fungsi menjadi nomenklatur perekat ikatan dan penanda keakraban di antara kerumunan manusia yang terlibat dalam konteksnya. Dengan keberadaan kata sundala’, yang terjadi bukanlah keretakan sosial, melainkan sebaliknya; kerekatan sosial.

Demikian juga di Madura. Umpatan-umpatan cabul seperti pala’, peller, maupun umpatan kasar semacam pate’, carembu’na, dan calatthong kadang bagai secangkir kopi dalam harmonisasi kebersamaan. Penjungkirbalikan nilai tersebut terjadi dalam segmen kebercandaan yang kental hingga tidak menimbulkan ketersinggungan.

Tentu terkecuali bagi kalangan anak-anak. Dalam konteks apa pun, anak-anak dilarang mengumpat meski mereka adalah recorder suara-suara yang didengar di sekitarnya, terutama dari orang tua.

Tidak lepas dari konteks harmonisasi kebersamaan, mengumpat dengan kata-kata kasar maupun cabul tetap menjadi takar nilai dalam tatanan kehidupan sosial (moral). Bahkan, dalam konteks mengkritisi sekalipun, ketika umpatan dan makian sudah mencemari gagasan yang berakibat “menjatuhkan” orang lain, sebagai kritikus, dia bisa mengalami disabilitas nilai. Baik nilai-nilai moralitas maupun intelektualitasnya. Hantaman bola yang berbalik arah seakan mengenai wajah yang bersangkutan. Sebab, mengkritisi memang tak harus menjatuhkan, bukan? Apalagi dengan umpatan-umpatan.

Pada masa-masa sekarang ini, ketika umpatan sudah menjadi kebiasaan, apakah hal tersebut selalu merupakan refleksi kemurkaan dalam keadaan geram atau tak berdaya? Atau efek dari unsur keterbelakangan? Sepertinya, kebiasaan sering tidak membutuhkan alasan untuk melakukannya. Sebagaimana orang latah tidak membutuhkan rasa terkejut. (*)

Editor           : Ilham Safutra