Show of ”Wani Piro” – Radar Malang Online

Saat-saat inilah, satu per satu fakta di balik kasus korupsi ”berjamaah” yang melibatkan eksekutif dan legislatif di Kota Malang, diungkap dalam persidangan di Pengadilan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) Surabaya.

Saling mencokot, saling membantah, dan saling memojokkan, antar terdakwa, antara terdakwa dan saksi, serta antara saksi yang satu dengan saksi lainnya, mewarnai jalannya persidangan tersebut. Dari awalnya kasus suap APBD, saat ini mulai merembet ke kasus-kasus lain.

Terungkap di Pengadilan Tipikor itu, ternyata ada fee 1 persen yang harus dibayar oleh eksekutif kepada legislatif jika ingin pos anggarannya lolos dalam pembahasan APBD. Angka 1 persen itu diambil dari total pos anggaran di setiap OPD (organisasi perangkat daerah) di dalam APBD.

Terungkap juga di Pengadilan Tipikor, ternyata ada ”seger-segeran” yang dibagi-bagikan kepada para anggota DPRD Kota Malang, di balik proyek penanganan sampah.



Untuk fakta-fakta di atas yang diungkap dalam persidangan itu, mungkin membuat kita prihatin, seprihatin-prihatinnya. Bisa jadi juga membuat kita jengkel, sejengkel-jengkelnya. Bagaimana tidak. Uang rakyat, dibuat bancakan begitu mudahnya oleh para wakil rakyat. Uang rakyat begitu mudahnya dibagi-bagikan oleh para pejabat negara.

Kita pun menjadi semakin terbelalak, bahwa praktik-praktik dalam penyelenggaraan pemerintahan di Kota Malang, semisal proses penyusunan dan pengesahan regulasi, proses penyusunan dan pengesahan APBD, sarat dengan praktik-praktik yang kolutif dan koruptif. Praktik-praktik yang kolutif dan koruptif tersebut, di masyarakat termanifestasi dalam sebuah habit ”wani piro”.

Jika eksekutif ingin anggarannya mulus dibahas dan disahkan dalam APBD, maka legislatif akan memancing dengan kalimat: ”Wani piro”. ”Ada fulus mulus, tak ada fulus, mamfus”.

Kasus korupsi ”berjamaah” yang melibatkan eksekutif dan legislatif di Kota Malang yang saat ini perkaranya sedang disidangkan di Pengadilan Tipikor Surabaya, sesungguhnya adalah pertunjukan (show) dari habit ”wani piro” tadi.

Disebut sebagai show, karena memang siapa pun bisa menyaksikan jalannya persidangan tersebut. Sebagai penonton, kadang kita dibuat bingung. Karena antar saksi yang dimintai keterangan saling membantah. Kepada majelis hakim, si A mengaku sudah memberikan uang kepada si B. Tapi pengakuan si A dibantah si B.

Si C mengaku sudah membagikan uang kepada beberapa anggota kelompoknya, kepada si D, si E, dan si F. Tapi, ketika si D, E, dan F ditanya hakim, mereka kompak tidak mau mengakuinya.

Kita juga menyaksikan, bagaimana para anggota DPRD Kota Malang yang berstatus tersangka dan saat ini sedang menjalani tahanan itu, saat ini sedang mencari ”selamet” sendiri-sendiri. Sedang berusaha keras menyelamatkan nasibnya sendiri-sendiri. Dan itulah manusia.

Menyaksikan show dalam persidangan kasus korupsi di Pengadilan Tipikor itu, kita seperti diingatkan oleh Tuhan. Bahwa kelak di hari kiamat, ketika manusia diadili oleh Tuhan, maka pada saat itu, manusia akan mencari ”selamet” sendiri-sendiri. Manusia akan sibuk menyelamatkan nasibnya sendiri-sendiri.

Walakhir, kasus korupsi ”berjamaah” yang melibatkan para pejabat di eksekutif dan legislatif, pada satu sisi mungkin membuat kita prihatin dan jengkel. Tapi, pada sisi lainnya, sesungguhnya kasus itu adalah ”ayat” bagi kita untuk belajar banyak hal. Belajar tentang hakikat dari sebuah amanah, belajar tentang kejujuran dan hati nurani, dan belajar tentang konsistensi sebuah persahabatan. (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)