Siapa Figur Yang Dipilih Abah Anton?

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Sampai saat ini, Wali Kota Malang H. Moch. Anton masih belum menentukan siapa figur yang akan dia pilih untuk mendampinginya pada Pilkada Kota Malang tahun depan.

Sebagai incumbent, dan sebagai sosok yang punya tingkat popularitas dan juga tingkat elektabilitas cukup tinggi (berdasarkan jajak pendapat sejumlah lembaga survei), Abah Anton (AA) tentu banyak diincar oleh mereka yang ingin menjadi wakilnya.

Tapi, bola ada di tangan AA. Dialah yang akan menentukan, siapa figur yang akan digandeng.

Saya selalu meyakini, bahwa politik bukanlah Matematika. Tapi, politik adalah ilmu berhitung. Seorang politisi jika ingin memenangi sebuah pertarungan politik, maka dia harus pintar-pintar berhitung. Berhitung dengan siapa akan berpasangan. Berhitung dengan siapa akan bertanding. Dan berhitung menggunakan strategi seperti apa agar bisa memenangi sebuah pertarungan.



Jika Ilmu Berhitung ini digunakan, dan seandainya saya adalah AA, maka setidaknya ada dua tools yang akan saya gunakan untuk menghitung-hitung, siapa calon yang akan saya gandeng. Pertama, calon itu harus saya hitung, seberapa bisa chemistry dengan saya.

Chemistry tidak hanya mau diajak berpasangan. Tapi, harus lebih dari itu. Yakni saya harus yakin, selama berpasangan dengan saya, dia tidak akan ”menyalip di tikungan”. Bahwa dia tidak akan ”menggunting di lipatan”. Bahwa dia tidak akan menjadi ”musuh dalam selimut”.

Goal dari semua itu, calon tersebut jangan menjadi faktor pengganggu dan faktor yang bisa merepotkan saya.

Lebih spesifik lagi, harus bisa mendukung saya mengakhiri jabatan wali kota secara khusnul khotimah. Lebih bagus lagi, dia mau dan mampu melanjutkan kebijakan-kebijakan saya.

Kedua, calon itu harus bisa memperkuat atau menambah ”amunisi” saya. Jika sebuah perhelatan pilkada diibaratkan medan pertempuran, maka ”amunisi” sangatlah dibutuhkan untuk memenangi pertempuran.

Nah, dua tools itulah yang bisa jadi saat ini digunakan AA menghitung-hitung siapa figur yang tepat untuk mendampinginya.

Sulit. Memang tidak mudah. Terutama mencari figur yang cocok dengan pertimbangan pertama. Sulit mencarinya. Dan kalaupun ada, sulit untuk mengukurnya.

Karena itu, jika sampai saat ini belum ada tanda-tanda AA menjatuhkan pilihan, bisa jadi, karena dia masih sedang menghitung-hitung secermat-cermatnya.

Dari sejumlah nama tokoh yang mengemuka, setidaknya ada dua kemungkinan untuk figur yang akan dipilih AA. Pertama, figur yang digandeng adalah ketua partai. Terutama partai yang bisa melengkapi batas persyaratan AA untuk maju.

PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang diketuai AA saat ini punya 6 kursi di DPRD Kota Malang. Berarti, masih butuh minimal 3 kursi lagi agar bisa mendapatkan tiket untuk maju pilkada.

Jika pertimbangan ini yang digunakan, maka nama-nama ketua partai yang memenuhi syarat untuk dipilih antara lain Sofyan Edi Jarwoko, ketua DPC Partai Golkar. Karena partai yang dia pimpin punya 5 kursi. Atau paling tidak adalah partai yang punya minimal 3 kursi seperti Partai Hanura yang dipimpin Ya’qud Ananda Gudban. Bisa juga Ketua DPC Gerindra Kota Malang Moreno Soeprapto, karena Gerindra punya 4 kursi. Lalu, Ketua DPD PAN Kota Malang Pujianto, karena PAN punya 4 kursi. Termasuk Ketua DPD PKS, atau PPP yang masing-masing partai tersebut punya 3 kursi.

Kemungkinan kedua, figur yang digandeng adalah bukan dari partai. Untuk kemungkinan ini, figur tersebut bisa dari kalangan pengusaha (kaitannya dengan ”amunisi”), akademisi, maupun dari sosok yang selama ini sudah sangat dikenal oleh AA dan AA sangat yakin bahwa sosok itu sangat loyal kepadanya. Siapa dia? AA yang paling tahu jawabannya.

Jika kemungkinan ini yang dipilih AA, dia bisa menjelaskan, bahwa ini demi menjaga kesolidan partai-partai yang mengusungnya. Penjelasannya begini. Bisa jadi, nanti akan ada beberapa partai yang mengusung AA untuk maju pilkada. Supaya adil, dan supaya tidak ada kisruh di antara partai-partai itu, maka AA memilih pendampingnya dari jalur nonpartai. Artinya, tidak ada satu pun representasi dari partai-partai itu. Sosok inilah yang bisa jadi bukan politisi.

Cara seperti ini pernah dilakukan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika memutuskan untuk memilih Boediono sebagai wakilnya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009. Saat itu, ada 25 parpol yang mengusung SBY. Di antaranya selain PD ada PKB, PKS, PAN, PBB, dan PBR. Dan Boediono bukanlah kader dari 25 parpol itu. Boediono juga bukan politisi.

SBY saat itu memilih Boediono, bisa jadi karena dianggap sosok yang dihitung bisa sangat loyal dengannya. Dan bisa mengamankan dia. Dan terbukti, Boediono bisa menjadi sosok yang diharapkan SBY. Soal popularitas dan elektabilitas, bukanlah menjadi soal. Karena popularitas dan elektabilitas SBY saat itu masih cukup tinggi.

Apakah pola seperti ini akan dilakukan AA pada Pilkada Kota Malang tahun depan? Tentu jawabannya hanya ada dua. Bisa iya. Bisa juga tidak. Sekali lagi, bola ada di tangan AA. Tulisan ini hanyalah kumpulan dari berbagai kemungkinan. Sekadar untuk mengira-ngira jawaban atas pertanyaan: Siapa kelak yang akan dipilih AA menjadi pendampingnya? (Instagram: kum_jp)