Siapa Menang Pilwali Malang? – Radar Malang Online

”Siapa kira-kira yang menang di Pilwali (Pemilihan Wali Kota) Malang?”, pertanyaan ini terlalu sering saya terima dari teman-teman dekat, saudara, dan kolega. Baik yang ada di Malang maupun yang ada di luar Malang.

Dan saya selalu menjawab dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan. Misalnya, jika…….ini yang terjadi, maka si …….yang akan menang. Jika tidak terjadi ……….maka yang akan menang adalah …….. Jika yang terjadi adalah……maka yang diuntungkan adalah……

Dengan memberikan berbagai kemungkinan itu, maka saya berharap, mereka yang bertanya bisa membuat jawabannya sendiri.

Pada kesempatan ini, saya akan singgung mengenai berbagai kemungkinan itu.



Pada setiap perhelatan pilkada, secara garis besar, hasil akhirnya akan berupa data-data seperti ini: Yang menang adalah si A. Suara terbesar kedua adalah si B. Dan selisih antara suara si A dan si B adalah X %. Data selanjutnya, adalah tentang jumlah orang yang tidak memberikan suaranya alias golput (golongan putih).

Mereka yang golput ini, jika ditanya alasannya mengapa golput, maka kemungkinan jawaban-jawabannya sebagai berikut:

  • Karena nggak ada calon atau figur yang dianggap layak.
  • Siapa pun yang jadi wali kota, yakin nggak akan banyak bikin perubahan.
  • Karena pas hari H pilkada tanggal merah, sehingga lebih baik liburan ke luar kota ketimbang harus mencoblos.
  • Karena ke TPS harus antre; dan lain-lain, dan lain.

Dari pengalaman empiris setiap pilkada, mereka yang golput ini, kebanyakan adalah pemilih rasional. Mereka yang golput ini, kebanyakan adalah dari kelas menengah. Salah satu ciri dari kelas menengah adalah, well inform. Artinya, mereka cukup melek media. Dengan kata lain, media bisa menjadi faktor penggerak, apakah cukup alasan bagi mereka untuk menggunakan suaranya atau tidak.

Sedangkan yang tidak golput, kebanyakan adalah pemilih ideologis dan pemilih fanatik. Bisa ideologis dan fanatik kepada agama, paham isme-isme tertentu, partai politik, ormas keagamaan, atau ideologis dan fanatik kepada figur. Pemilih ideologis dan fanatik ini ada di mana-mana. Di negara maju, negara berkembang, ataupun di negara yang masih miskin sekalipun.

Jika angka golput di Pilkada Kota Malang tinggi (di atas 50 persen), maka hampir bisa dipastikan, mereka yang menggunakan hak pilihnya itu adalah para pemilih ideologis atau fanatik. Para pemilih ideologis dan fanatik, sering diidentikkan dengan grass root (akar rumput).

Nah, pertanyaannya di sini adalah, siapa paslon (pasangan calon) yang punya akses dan punya keterikatan paling besar kepada grass root? Untuk melihat paslon ini, bisa dilihat dari kekuatan figurnya, atau bisa juga dilihat dari kekuatan partai politik pengusung atau pendukungnya.

Maka, pada Pilkada Kota Malang jika angka golputnya tinggi, maka paslon yang punya akses dan punya ikatan emosional paling kuat kepada grass root, paslon itulah yang sangat mungkin akan menang.

Apakah kasus hukum yang membelit paslon nomor urut 1 dan 2 akan berpengaruh terhadap kemenangan mereka? Pertanyaan ini juga sering saya terima. Dan saya menjawab, bahwa di dalam politik, berlaku ”ketidakpastian”.  Yang pasti dalam politik adalah ”ketidakpastian”.

Ketika paslon nomor 1 dan nomor urut 2 calon wali kotanya sama-sama berstatus tersangka, dan sama-sama ditahan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), apakah ini akan berdampak pada menang atau tidaknya mereka? Jawabannya: Sangat tergantung. Tergantung pada, seberapa besar paslon itu mempunyai pemilih ideologis dan pemilih fanatik, dan seberapa kuat paslon itu dicintai para pemilih ideologis dan pemilih fanatiknya.

Ingat, pemilih ideologis dan pemilih fanatik, bukanlah pemilih yang mengedepankan aspek rasionalitas dalam menggunakan hak politiknya. Mereka lebih mengedepankan aspek emosional. Lebih mengedepankan aspek proximity (kedekatan). Sehingga mereka tidak akan terpengaruh dengan hiruk pikuk berita di media massa soal keterlibatan para calon wali kota nomor 1 dan 2 dalam kasus korupsi.

Dari beberapa kali ngobrol dengan kawan-kawan, di mana mereka ini saya identikkan sebagai pemilih rasional, rata-rata mereka tidak bergairah untuk memberikan suaranya pada Pilwali 27 Juni mendatang. Bagi mereka, tidak cukup ada alasan yang kuat, untuk menggerakkan mereka menggunakan hak suaranya.

Semua calon bagi mereka, ibaratnya adalah 11-12. Tidak ada yang benar-benar layak untuk didukung. Ini membuat mereka apatis terhadap Pilwali Malang. So, jika suara kawan-kawan saya ini dianggap mewakili suara pemilih rasional atau pemilih dari kelas menengah, maka berarti, faktor penentunya adalah masyarakat grass root. Masyarakat yang diidentikkan sebagai pemilih ideologis dan pemilih fanatik. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)