Sunnatullah Politik – Radar Malang Online

Kita sering mengucapkan kata ini: Sunnatullah, tapi seberapa kita memahaminya? M. Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbah menjelaskan dari segi bahasa, sunnatullah terdiri dari kata ”sunah” dan ”Allah”. Kata sunah berarti kebiasaan. Jadi, sunnatullah adalah kebiasaan-kebiasaan Allah dalam memperlakukan masyarakat (tafsir Al Misbah Vol 13).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sunnatullah didefinisikan sebagai hukum-hukum Allah yang disampaikan kepada umat manusia melalui para Rasul, Undang-Undang keagamaan yang ditetapkan oleh Allah yang termaktub di dalam Alquran, dan hukum alam yang berjalan tetap dan otomatis.

Sedangkan di dalam Ensiklopedia Islam, sunnatullah diartikan sebagai jalan, perilaku, watak, peraturan atau hukum dan hadis. Sunnatullah merupakan ketentuan-ketentuan, hukum-hukum, atau ketetapan-ketetapan Allah SWT yang berlaku di alam semesta (Ensiklopedia Islam Jilid IV).

Buya Hamka (alm), menjelaskan sunnatullah dengan mengibaratkan seperti air hilir. Pasti menuruti aturan yang ditetapkan Allah SWT, yaitu mengalir ke tempat yang lebih rendah, mengisi tempat yang kosong yang didapatinya dalam pengaliran tersebut.

Dalam perkembangannya, konsep sunnatullah ini menjelma menjadi berbagai macam pemikiran. Salah satunya adalah hukum kausalitas. Kausalitas adalah satu bentuk relasi yang menghubungkan sebuah peristiwa dengan peristiwa berikutnya. Relasi itu memberikan sebuah gambaran tentang peristiwa-peristiwa yang menjadi penyebab dan peristiwa yang menjadi akibat, di mana peristiwa yang pertama dimengerti sebagai penyebab dari peristiwa kedua. Demikian pula sebagai konsekuensinya, peristiwa yang pertama tersebut juga adalah merupakan hasil akibat dari peristiwa yang terjadi sebelumnya.



Apa yang dirumuskan dalam konsep hukum kausalitas, sesungguhnya adalah sunnatullah. Sayangnya, di dalam konsep barat, hukum kausalitas cenderung menafikan adanya kekuasaan dan kehendak Tuhan. Dengan kata lain, kausalitas didasarkan atas potensi suatu benda atau usaha manusia saja. Padahal, di dalam pandangan Islam, justru faktor di luar diri manusia dan benda itulah yang menentukan hasil akhir dari hukum kausalitas.

Di dalam politik, juga berlaku sunnatullah. Ketika tujuan berpolitik adalah ingin mendapatkan kemenangan dan kekuasaan, maka sunnatullah-nya adalah berproses. Politik adalah proses. Dan proses dalam politik, di negara yang demokratis,  adalah menyapa, menyentuh, dan bergaul dengan masyarakat. Semakin proses ini dilakukan oleh seorang politisi, maka semakin matanglah proses politiknya.

Proses di dalam politik bisa berupa ”jatuh-bangun”. Suatu saat dikalahkan, bangkit lagi, dan suatu saat baru memperoleh kemenangan. Suatu saat disingkirkan oleh lawan politik, suatu saat dirangkul lagi. Karena itu, ketika seseorang sudah memberanikan diri untuk masuk ke dunia politik, maka dia harus siap dengan ”jatuh-bangun” itu.

Proses di dalam politik, juga bisa diibaratkan menaiki anak tangga. Harus satu per satu anak tangga dilewati, hingga akhirnya mencapai anak tangga yang lebih tinggi. Suatu saat menjadi wali kota, terus menapaki panggung yang lebih besar: Gubernur, dan suatu saat menjadi presiden.

Suatu saat menjadi anggota DPRD kota/kabupaten, lalu merangkak menjadi anggota DPRD provinsi, dan akhirnya berhasil menjadi anggota DPR RI.

Di Kota Malang, jika pasangan Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko akhirnya memenangi pilkada pada 27 Juni 2018 (versi quick count), jika dirunut ke belakang, mereka berdua sesungguhnya telah menjalani sunnatullah dalam politik. Keduanya sudah berproses di dalam dunia politik selama bertahun-tahun lamanya, sebelum akhirnya berpasangan untuk menjadi calon wali kota dan calon wakil wali kota, dan akhirnya berhasil menang.

Sutiaji berproses di dalam panggung politik, mengawalinya dari menjadi anggota DPRD Kota Malang. Lalu menjadi pengurus partai.  Lalu menjadi wakil wali kota. Dan kini, tinggal menunggu waktu, untuk dilantik menjadi wali Kota Malang.

Sofyan Edi termasuk kader Golkar yang cukup lama malang melintang di panggung politik Kota Malang.  Sofyan Edi pernah merasakan kalah dalam Pilkada Kota Malang, lima tahun lalu. Juga pernah menjadi anggota DPRD Kota Malang.

Jadi, kemenangan Sutiaji-Sofyan Edi, sangat linier dengan proses yang sudah mereka jalani.  Artinya, mereka berdua sudah berproses untuk mengalami ”jatuh bangun” di dalam politik.  Dan ketika saat ini keduanya berhasil menang dalam Pilkada Kota Malang, itu adalah buah dari proses yang sudah mereka lakoni dan jalani.  Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)