Takut Anak Kena Affluenza | JawaPos.com – Azrul Ananda

Bukan, bukan influenza. Melainkan A-F-F-L-U-E-N-Z-A. Istilah yang diberikan kepada anak/seseorang yang tidak sadar atas akibat dari tindakan/perbuatannya, karena dia begitu terlindungi secara finansial atau perlakuan.

***

Ada cerita yang terus berulang dalam sejarah negara kita. Anak pejabat atau dari keluarga berada, kehilangan kontrol saat mengemudikan mobil, lantas menimbulkan korban jiwa.

Dan ceritanya sering berlanjut sama: Anak tersebut mendapatkan perlakuan yang lebih istimewa, apabila dibandingkan dengan orang kebanyakan yang melakukan perbuatan sama.



Kemungkinan besar karena kemampuan finansial atau kemampuan pengaruh keluarganya dalam memengaruhi dampak/sanksi akhir yang dia dapatkan.

Eh ternyata, di Amerika juga ada cerita seperti itu.

Ketika liburan akhir tahun yang baru berakhir, hampir setiap hari berita yang muncul di TV atau koran adalah tentang kasus anak ’’affluenza’’ asal Texas bernama Ethan Couch.

Pada Juni 2013 lalu, saat masih berumur 16 tahun, Couch mengemudikan mobil secara ilegal (SIM-nya masih punya batasan), ngebut, plus dalam kondisi terpengaruh alkohol. Dia kehilangan kendali, menabrak sekelompok orang. Empat orang tewas, dan total sembilan orang cedera.

Datang dari keluarga berada, tim pembela Couch mampu menyuguhkan argumentasi hebat di persidangan. Pengacaranya bilang Couch tidak perlu dipenjara, cukup harus menjalani rehabilitasi.

Alasannya: Couch punya masalah ’’affluenza’’. Tidak bisa memahami konsekuensi atas perbuatannya, akibat terlalu dimanja dan dilindungi orang tuanya.

Misalnya, Couch sudah nyetir sendiri ke sekolah saat masih berusia 13 tahun. Ketika kepala sekolahnya menegur, orang tua Couch malah mengancam balik. Bahkan mengancam akan membeli sekolahnya!

Pada akhirnya, hakim hanya menjatuhkan hukuman rehabilitasi. Keputusan yang mengundang reaksi keras dari berbagai penjuru Amerika.

Couch juga harus menjalani masa percobaan selama sepuluh tahun, di mana dia dilarang mengonsumsi narkoba, alkohol, plus tidak boleh mengemudikan mobil.

Selesai? Tidak.

Akhir 2015 lalu, Couch terekspos via media sosial sedang berpesta dan mengonsumsi alkohol. Kalau bukti itu diterima pengadilan, dia pun terancam penjara sepuluh tahun.

Apa yang terjadi kemudian? Bukannya diserahkan ke yang berwajib, ibu Couch, Tonya, malah membantunya melarikan diri ke Meksiko. Pada 28 Desember lalu, keduanya tertangkap di Puerto Vallarta, Meksiko. Sang ibu sekarang sudah diterbangkan balik ke Amerika untuk menjalani proses hukum, sedangkan Couch masih di Meksiko menunggu proses selanjutnya.

Berbagai cerita muncul dari pelarian ibu dan anak di Meksiko itu. Bahkan kabarnya, sang ibu tetap memanjakan sang anak, dengan membayar segala tingkah lakunya, termasuk mengunjungi klub tari telanjang.

***

Cerita Ethan Couch itu rasanya familier ya?

Minimal membuat saya banyak berpikir, mengingat saya punya tiga anak yang superaktif. Mereka masih kecil-kecil, tapi mereka punya potensi besar untuk terkena affluenza.

Kalau kena influenza, paling pusingnya sebentar. Kalau kena affluenza ini yang bisa modiar.

Apalagi melihat sekeliling, ada banyak anak lain di lingkungan mereka yang punya potensi besar mengidap affluenza. Dan ada banyak cerita bagaimana para orang tua itu begitu overprotective terhadap anaknya, dan itu sangat mungkin mengakibatkan affluenza.

Mungkin sudah ada yang tahu dan melihat sendiri, bagaimana ada anak –masih SD– sudah datang ke sekolah dengan pengawalan khusus. Ya, kita tahu orang tuanya super berpengaruh. Tapi, bukankah itu agak berlebihan?

Tidak sedikit cerita orang tua anak melabrak guru atau sekolahnya, gara-gara anaknya merasa dimarahi berlebihan (bisa iya, sangat bisa juga tidak).

Dan sangat mudah menemukan anak orang mampu berucap dengan nada tidak sopan, bahkan merendahkan, kepada orang lain.

Kalau sudah begitu, mungkin anak itu sudah mengidap affluenza. Karena dia tidak sadar atas konsekuensi dari tindakan/perbuatannya.

Dan kalau dipikir-pikir, affluenza ini mungkin juga tidak sekadar melanda anak orang mampu. Walau pada level yang agak beda.

Ayah angkat saya waktu SMA di Amerika dulu pernah menunjukkan perbedaan itu saat berkunjung ke Indonesia.

Dia melihat ada anak kecil di sini menjatuhkan gelas di atas meja, mengakibatkan air tumpah. Apa kata sang anak? ’’Eh, gelasnya jatuh.’’

Kata ayah angkat saya, kalau kebanyakan di Amerika, anak seusia yang sama akan mengucapkan kalimat yang berbeda. Kalau dia menjatuhkan gelas, maka dia akan bicara: ’’Oops, I dropped the glass.’’ Artinya: ’’Ups, saya menjatuhkan gelas.’’

Dua ucapan itu sangat berbeda dasarnya. Yang satu hanya bilang gelasnya jatuh dan tidak merasa bersalah. Sedangkan yang satu lagi langsung mengakui kalau dia menjatuhkan gelas.

Aduh, jangan-jangan itu juga tanda-tanda affluenza…

Dan mungkin, masih banyak tanda-tanda lain. Silakan mengambil napas sejenak, melihat kondisi sendiri dan sekeliling. Adakah tanda-tanda affluenza lain di lingkungan Anda? (*)