Tentang Kamus yang Tidak Pernah Sederhana

TAHUN 2019 menyuguhkan sejumlah film apik. Salah satunya dirilis pada Mei lalu, berjudul The Professor and The Madman.

Saya merekomendasikan film berdurasi 124 menit itu sebagai salah satu film penting, terutama bagi para pemerhati bahasa. Sebab, film tersebut bertutur tentang sejarah penyusunan sebuah kamus. Kamus Oxford, tepatnya.

Penyusunan kamus Oxford dipimpin James Murray dengan tim kecil dari Philological Society London. Tujuan mereka sederhana, yakni menghimpun seluruh kosakata Inggris yang digunakan sejak 1150 M.

Suatu misi yang, pada 1857, terbilang ambisius. Sebab, hampir mustahil diwujudkan. Dengan keterbatasan teknologi, nekat mengumpulkan seluruh kosakata Inggris, baik yang pernah dituturkan maupun yang dituliskan?



Mari bersepakat sejenak untuk meminggirkan sikap tak acuh lantaran film itu bukan tentang sejarah kamus bahasa Indonesia. Apa pun bahasanya, kegiatan menyusun kamus menyediakan petualangan yang menantang, menuntut pengorbanan, dan memberikan tekanan emosional yang hebat.

Sebuah adegan menggambarkan anggota tim penyusun yang frustrasi karena tidak bisa menemukan kata “approve” tertulis di dalam berbagai literatur Inggris pada abad ke-17 dan ke-18. Padahal, dia menemukan kata tersebut di dalam buku-buku abad ke-14, 15, 16, dan 19.

Ada jejak yang hilang. Sekalipun kata itu jamak digunakan, mereka tidak bisa memasukkannya ke kamus kecuali ada jejak kata di tiap abad. Padahal, mereka baru berkutat dengan kata berawalan huruf A, tapi sudah sesulit itu.

The Professor and The Madman menunjukkan bahwa dalam menyusun kamus, sekurang-kurangnya terdapat tiga tantangan. Pertama, kebutuhan akan pengetahuan yang sangat luas tentang berbagai bahasa.

James Murray (diperankan Mel Gibson) adalah lelaki putus sekolah yang secara otodidak menguasai bahasa Latin, Yunani, Romawi, Italia, Prancis, Spanyol, Catalan, Portugis, Belanda, Denmark, Flemish, Rusia, Syria, Ibrani, Aram, Arab, Koptik, dan lain-lain. Penguasaan itu penting lantaran mereka harus melacak akar sejarah setiap kata.

Murray mampu menjelaskan kata clever sebagai adopsi dari bahasa Jerman, klover. Kemudian, menjelaskan bahwa kata itu tidak merujuk pada kecakapan berpikir saja, tetapi juga jenis kecerdasan fisik.

Kedua, kebutuhan untuk membaca seluruh literatur. Genius saja tidak cukup; ketekunan membaca menjadi sangat penting dalam dokumentasi kata. Murray akhirnya menulis pamflet yang disebarkan ke seluruh negeri. Dia memohon bantuan kepada rakyat Inggris agar terlibat aktif membaca buku dan mencatat kosakata yang mereka temukan.

Syukurlah, James Murray menerima bantuan tak terduga dari genius lain bernama William Chester Minor. Yang mengiriminya bundel-bundel kosakata yang telah diurutkan dan siap “dikamuskan”. Bila tidak mendorong keterlibatan publik, kamus selesai dalam kurun ratusan tahun.

Ketiga, keinsafan bahwa kamus mereka tidak akan “selesai”. Bahasa terus berkembang karena realitas berkembang, dan tidak mungkin mengejar perkembangan itu dengan kerja dokumentatif yang lamban.

Menyadari itu, Murray sempat berada di titik terendah dari mimpinya untuk “mendokumentasikan sejarah dari segalanya, menawarkan kepada dunia sebuah buku yang mengartikan semua ciptaan Tuhan”. Seseorang meminta Murray untuk tidak menanggung beban kerja sendirian. Dia disadarkan bahwa akan selalu ada orang yang bersedia melanjutkan apa yang telah mereka mulai.

Menonton The Professor and The Madman adalah menonton riwayat kegigihan manusia dalam menghimpun apa yang telah lalu, demi mengantisipasi masa depan. Film tersebut tidak melulu tentang suasana menyusun kamus; di dalamnya juga ada tragedi dan asmara.

Bahkan, dialog ringan antara Murray dan Minor yang merapal kosakata-kosakata indah seperti alveari, louche, commotrix, atau gyre mampu menggetarkan hati. Namun, kita bisa mengarahkan perhatian utama pada kamus yang tidak pernah sederhana.

Kamus bukanlah sekadar himpunan kata dan definisinya. Menyusun kamus berarti menyelidiki kata dan sejarahnya. Kata tidak muncul dengan sendirinya. Ada realitas di balik tiap kata. Menyelidiki kata berarti “memahami realitas pada suatu masa dan cara berpikir suatu bangsa tentangnya”.

Kamus, dengan demikian, merangkum pengalaman dan pemikiran. Dulu saya selalu terpesona dengan adanya kata “merdeka”, sedangkan di saat yang sama ada kata “bebas”. Belakangan saya tahu bahwa “merdeka” berakar pada bahasa Sanskerta, yakni mahardika, yang bermakna khusus “kebebasan untuk memilih jalan yang baik”. Merdeka, ternyata, adalah kosakata moral.

Saya menanti film serupa tentang bahasa Indonesia. Bahasa kita tidak kalah indahnya, baik untuk dimaknai maupun dibunyikan. Bertualang di KBBI, menemukan kosakata antik seperti gaham, ujana, rengsa, dan munjung. Mencoba melafalkannya sungguh menyenangkan, apalagi bisa menelusuri akar-akarnya yang jauh.

Tapi, bila ada film semacam itu, tugas besarnya adalah mengaktifkan imajinasi akan kekayaan identitas, sejarah, dan pengalaman yang terekam dalam bahasa. Agar kita insaf akan diri kita sendiri. (*)

*) Pustakawan di Perpustakaan Djendela, Lombok