Teori Nudge dan Problem di Kota ini

 

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Ketika Anda membeli suatu barang, pertimbangan apa yang membuat Anda membeli barang itu? Ketika Anda sudah memutuskan untuk membeli barang tertentu, apakah Anda merasa keputusan Anda sudah rasional? Jika ditanya seperti ini, kebanyakan dari Anda pasti menjawab: sudah rasional.
Anda merasa sudah rasional karena Anda merasa sudah mengumpulkan banyak informasi dan data, sebelum akhirnya membeli barang itu.

Tapi, sadarkah kita, bahwa ketika kita membeli sesuatu atau memutuskan untuk membeli sesuatu, tidak semuanya didasarkan karena alasan rasional. Tapi, lebih karena adanya sebuah dorongan. Dan dorongan ini tidak selalu dikendalikan oleh hal-hal yang rasional. Bisa irasional, bahkan bisa juga emosional.

Adanya dorongan manusia untuk melakukan sesuatu inilah yang menjadi objek pengamatan dan penelitian Richard Thaler, seorang profesor ekonomi dari University of Chicago. Tak tanggung-tanggung. Pengamatan dan penelitian Thaler itu dia lakukan selama hampir 40 tahun. Dan hasil dari penelitian dan pengamatannya tentang ”dorongan” itu dia tulis dalam buku yang diterbitkan pada 2008, berjudul: ”Nudge: Improving Decisions about Health, Wealth, and Happiness”. Berbagai pemikiran Thaler di dalam buku ini populer disebut dengan Nudge Theory (Teori Dorongan).

Dan berkat Nudge Theory, Thaler pada tahun ini mendapatkan hadiah nobel di bidang ekonomi.
Lantas, apakah yang dimaksud dengan Nudge Theory? Nudge didefinisikan sebagai ”sesuatu hal” yang secara efektif mampu memengaruhi keputusan yang diambil oleh individu, kelompok, atau masyarakat, tanpa adanya paksaan. Atau bahkan tanpa imbauan. Kekuatan Nudge adalah pada pendefinisian arsitektur pilihan sehingga secara psikologis orang akan terdorong memilih yang terbaik, tanpa merasa disuruh.

Contoh yang sederhana adalah ketika menyuruh orang membuang sampah pada tempatnya. Cara pertama, bikin tulisan: ”Dilarang Membuang Sampah Sembarangan”. Cara kedua, menyediakan tempat sampah di banyak tempat. Kira-kira cara mana yang lebih mudah membuat orang membuang sampah pada tempatnya? Kebanyakan cara kedua yang lebih efektif. Cara kedua itulah yang disebut ”nudge”.

Di dunia ritel, Teori Nudge ini sebenarnya sudah diterapkan. Misalnya, jika kita ingin meningkatkan penjualan suatu jenis barang, maka cara yang termudah adalah dengan meletakkan barang-barang itu di rak yang paling terlihat oleh mata pembeli. Karena cara itulah yang paling mudah mendorong pembeli untuk mengambil barang. Pembeli lebih cenderung memilih atau mengambil barang yang paling mudah dijangkau atau dilihat. Meskipun, sebenarnya barang yang paling mudah dilihat itu barang yang tidak bagus untuk kesehatan.

Contoh, hampir semua orang percaya bahwa mengonsumsi junk food itu tidak baik untuk kesehatan. Tapi, karena letak junk food paling mudah dijangkau, maka junk food itulah yang dipilih. Inilah nudge. Jadi, nudge lebih bersifat pada pengaturan pilihan saja, lebih mudah dijangkau atau lebih sulit.
Nudge pada umumnya juga tidak bersifat naratif atau pun paksaan. Sifatnya lebih pada menggugah melalui alam bawah sadar.

Richard Thaler pernah menyelesaikan masalah pajak dengan menggunakan Teori Nudge ini. Thaler dan timnya menemukan kalimat yang tepat untuk meningkatkan pembayaran pajak di suatu kota. Kalimat itu adalah: ”Anda adalah sejumlah kecil minoritas dari kelompok orang-orang yang tidak membayar pajaknya tepat waktu”.
Kalimat ini ternyata cukup ampuh. Tak lama berselang, pembayaran pajak di kota itu meningkat sebesar 5 persen.

Mengapa cara ini efektif? Karena sadar atau tidak sadar, banyak orang tidak ingin menjadi bagian dari minoritas.
Pendekatan ala Thaler ini memengaruhi keputusan Pemerintah Inggris. Pada 2010, Inggris sampai membentuk Behavioral Insight Team yang kemudian disebut sebagai Nudge Unit. Unit ini menciptakan kebijakan untuk mendorong warga Inggris membuat pilihan lebih baik yang bisa menghemat uang negara. Di unit ini, Thaler diangkat sebagai penasehatnya.

Pemikiran Thaler juga membuat pemerintahan Obama waktu itu menerbitkan perintah presiden pada 2015 yang disebut Using Behavioral Science Insights to Better Serve the American People. Perintah ini mendorong departemen pemerintahan dan lembaga federal untuk mengidentifikasi kebijakan, program, dan operasional untuk menggunakan ilmu perilaku sehingga menghasilkan perbaikan substansial dalam kesejahteraan publik dan memangkas biaya.

Nah, sebenarnya Teori Nudge ini bisa diadopsi di sini. Pendekatan Nudge bisa digunakan dalam memecahkan persoalan-persoalan di Kota Malang. Persoalan kemacetan lalu lintas, problem revitalisasi pasar tradisional, seperti Pasar Blimbing yang bertahun-tahun mangkrak, Terminal Hamid Rusdi yang juga tak termanfaatkan secara optimal, dan lain-lain.

Kemacetan lalu lintas terjadi karena semakin banyak orang yang membeli kendaraan bermotor. Setiap keluarga rata-rata punya 3-4 motor. Belum lagi mahasiswa yang ada di Kota Malang yang rata-rata bawa motor. Belum lagi ditambah mobil.

Revitalisasi pasar tradisional di Blimbing belum kunjung dimulai, salah satunya karena para pedagang masih alot. Belum ada titik temu antara paguyuban pedagang, investor, dan pemerintah kota.

Terminal Hamid Rusdi terlihat seperti tidak terpakai karena sulitnya mengatur para sopir mikrolet dan sopir bus untuk mau masuk ke terminal. Jadi, hampir semua persoalan itu muncul karena problemnya ada pada manusianya. Pada masyarakat atau sekelompok masyarakatnya. Maka, Teori Nudge ini sebenarnya bisa menjadi pendekatan baru. Sebab, Teori Nudge, pilihan untuk melakukan sesuatu tetap berada di tangan individu. Selain itu, Teori Nudge sifatnya memberikan arahan tentang sesuatu yang sebaiknya dipilih melalui sentuhan psikologis terhadap alam bawah sadar. Menggugah orang tanpa harus memberi arahan atau paksaan.
Bagaimana menurut Anda? Salam Hope 313!!! (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)