Terima Kasih, Pak Penerjemah Bencana

“MBAK wartawan pertama yang saya kasih tahu bahwa saya sakit kanker paru-paru.” Kurang lebih seperti itu kalimat Sutopo Purwo Nugroho April tahun lalu. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB itu memberi tahu lewat chat di WhatsApp (WA).

Pernyataan tersebut muncul saat saya bertanya untuk menulis artikel tentang profil Sutopo.

Curhat Sutopo itu bukan karena saya wartawan yang dekat dengannya. Sebagai kepala Humas BNPB, tentu banyak sekali wartawan yang menjadikannya narasumber. Meski demikian, saya yakin seluruh wartawan yang pernah meliput kebencanaan dan menjadikan Sutopo sebagai narasumber pasti merasa dekat dengan pria kelahiran Boyolali itu. Pak Topo, panggilan wartawan untuknya, selalu melayani pertanyaan jurnalis. Meski pertanyaannya sama.

Pak Topo pernah bercerita setelah konferensi pers di gedung BNPB bahwa dirinya memiliki handphone khusus untuk media. Handphone itu tidak pernah lepas dari genggamannya. Setiap wartawan yang menyapanya lewat WA, nomornya pasti disimpan. Kemudian dimasukkan ke grup WA Medkom Bencana. Entah sudah berapa grup yang dibuat Pak Topo. Saya masuk di grup Medkom Bencana-4. Di Medkom Bencana-4 ada 247 wartawan dari berbagai media. Adminnya Pak Topo sendiri.



Bagi saya, Pak Topo adalah humas yang mengerti kebutuhan setiap jenis media. Dia tidak hanya memberikan info berita lewat tulisan. Selalu dilengkapi foto. Terkadang malah dilengkapi video yang tentu memudahkan jurnalis TV. Pak Topo juga sering merelakan waktu libur untuk jumpa pers. Misalnya, saat bencana gempa dan tsunami di Palu beberapa waktu lalu. Kala itu, akhir pekannya sering dihabiskan di kantor untuk memberikan keterangan kepada wartawan. Asal tidak sedang tidur, Pak Topo akan membalas pesan yang dikirimkan kepadanya.

Tujuannya apa? Pak Topo ingin memberikan berita yang benar. Dia paham, jurnalis merupakan penyampai informasi. Saat bencana, masyarakat resah. Belum lagi ada hoaks yang tambah membuat gelisah. Memberikan informasi saat bencana tidaklah mudah. Data sering belum pasti. Belum lagi ada yang harus disaring agar tidak salah paham. Pak Topo mampu menerjemahkan itu semua. Dia mengumpulkan data lewat BPBD dan instansi lain yang berwenang seperti BMKG, PVMBG, dan Basarnas. Sebelum menyajikan ke awak media, bapak dua anak itu mengolahnya hingga mudah dipahami. Maklum, kalau berita bencana salah, akibatnya fatal.

Kemarin pagi grup Medkom Bencana-4 penuh dengan ucapan belasungkawa. Meski tidak berbalas dari keluarga Pak Topo, ucapan itu terus mengalir. Doa dan kenangan bersama Pak Topo diuraikan rekan-rekan wartawan. Begitu juga media sosial seperti Instagram dan Twitter milik Sutopo. Lewat media sosial, bukan hanya wartawan yang turut menyatakan dukacita. Menteri hingga masyarakat pun turut berduka. Pak Topo, sang penerjemah bencana, kami semua mendoakanmu. Terima kasih, Pak Topo.