Tiong Hwa Ie Sia

Oleh Kurniawan Muhammad
Direktur Jawa Pos Radar Malang

Tiong Hwa Ie Sia (THIS artinya: Perkumpulan Tionghoa) awalnya adalah sebuah poliklinik kecil yang merintis adanya pelayanan kesehatan, yang didirikan pada 1 Oktober 1929. Awal berdirinya, THIS menempati bangunan kecil sekitar 4×4 meter, lokasinya masih menumpang di halaman Tiong Hwa Hwee (perkumpulan Tionghoa).

Saat itu di Jalan Pecinan No 58, Kota Malang. THIS adalah wujud dari sebuah kepedulian, dari etnis minoritas, yang tak lagi berpikir untuk golongannya sendiri. Melainkan berpikir untuk masyarakat luas. Terutama masyarakat tak mampu yang membutuhkan.

THIS lahir, ketika pelayanan kesehatan yang memadai, tidak bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat di Hindia Belanda, khususnya di Kotapraja Malang. Bagi masyarakat yang tak mampu, berobat ke dokter atau rumah sakit dipandang sebagai hal yang menakutkan. Maka, munculnya THIS, bisa juga dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap diskriminasi pemerintah kolonial Belanda di sektor kesehatan.



Berdasarkan data statistik penduduk Kota Malang  antara tahun 1890–1954, pada tahun 1890, jumlah penduduk di Kota Malang total ada 12.040 jiwa. Tahun 1930, sudah bertambah menjadi 86.645 jiwa. Berarti, pada tahun 1929, jumlah penduduk di Kota Malang berkisar antara 80-an ribu orang. Saat itu, Malang tercatat hanya memiliki tiga poliklinik. Yaitu Poliklinik Pemerintah di Dampit, Poliklinik Leger des Heils di Turen, dan Poliklinik Zending di Swaru.

Jumlah tiga poliklinik ini dianggap masih sangat kurang. Sehingga, koran Tjahaja Timoer, salah satu surat kabar berpengaruh saat itu, pada edisi 16 Januari 1929 mengkritik kinerja pemerintah Malang yang dianggap lambat, terutama di sektor kesehatan (makanya, kalau saat ini, kinerja pemerintahan di Malang Raya masih lambat dan buruk di sektor kesehatan, maka itu sama halnya tidak ada kemajuan, karena berarti sama dengan kondisi pemerintah Malang 90 tahun yang lalu).

Pada artikel di koran Tjahaja Timoer itu disebutkan, bahwa jika mengacu perbandingan antara penduduk dan luas wilayah Malang, maka setidaknya diperlukan tambahan sekurang-kurangnya 10 poliklinik baru. Makanya, ketika THIS muncul, saat itu dianggap sebagai sebuah terobosan penting dalam memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan di Malang.

Ketika THIS didirikan, secara terbuka para pengurus THIS menyatakan bahwa tujuan utama dari poliklinik itu adalah untuk menolong dan mengobati pasien yang kurang mampu, tanpa membeda-bedakan latar belakang personal dan finansial pasien yang ditolong.

Poliklinik THIS, disebut sebagai institusi kesehatan pertama di Malang yang dirintis dan dikelola oleh masyarakat Tionghoa. Keberadaan THIS menjadi semakin kuat, dengan bergabungnya dr Liem Ghik Djiang, yang kala itu sudah dikenal luas sebagai dokter dermawan dan punya kepedulian sosial yang tinggi terutama karena sering menangani pasien-pasien tak mampu.

THIS adalah bukti ketahanan dari berbagai hambatan, tantangan, dan kesulitan. Sejak 1929 berdiri, THIS sudah melampaui lima zaman. Di antaranya, di era sebelum kemerdekaan, era kemerdekaan, era mempertahankan kemerdekaan (paling berat ketika menghadapi Agresi Militer I Belanda), era penjajahan Jepang dan pasca pemberontakan G-30S/PKI.

THIS bahkan pernah hampir dibubarkan karena masalah finansial. Namun, kala itu para pengurusnya menolak untuk menyerah. Dan menganggap THIS adalah sebuah legacy (warisan) penting yang harus dipertahankan.

Jiwa tak kenal menyerah para pengurus THIS di awal-awal perintisan layak untuk diapresiasi. Mereka selain pengurus, juga kumpulan orang-orang yang dermawan. Akhirnya mereka mampu menggaet para dermawan yang lain untuk ikut memikirkan pengembangan THIS.

Pada Agustus 1945, para pengurus sekaligus para dermawan di kalangan Tionghoa urunan untuk empat hal: Pertama, untuk pembelian tanah di Kebalen Wetan No 8 yang rencana akan digunakan sebagai gedung rumah sakit. Kedua, biaya konstruksi dan juga reparasi. Ketiga, biaya pembelian alat-alat kedokteran, mebel, hingga tempat tidur. Keempat, biaya pembelian obat-obatan.

Gedung di Kebalen Wetan No 8 ini yang sampai sekarang masih dipertahankan bentuknya sebagai bangunan heritage. Bahwa dalam perkembangannya nama THIS berubah menjadi Panti Nirmala, itu karena kondisi sosial-politik yang mewarnainya.

Setelah meletusnya peristiwa G-30S/PKI, rezim Orde Baru mengeluarkan instruksi Presidium Kabinet Ampera RI No 14 Tahun 1967 yang melarang segala bentuk kegiatan keagamaan, adat-istiadat, hingga kepercayaan terkait orang-orang Tionghoa. Istilah ”Tiongkok” dan ”Tionghoa” yang sebelumnya lazim digunakan untuk menyebut orang-orang keturunan, justru kembali diubah menjadi Cina.

Tak cukup hanya itu, berdasarkan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera No 6 Tahun 1967 yang mendorong agar orang atau lembaga Tionghoa mengubah nama menjadi lebih terdengar Indonesia. Maka, THIS pun diubah menjadi Panti Nirmala. Secara arti (etimologis), ”panti” bermakna ”rumah”. ”Nir” bermakna ”tanpa”. Dan ”mala” berarti ”cacat” atau ”penyakit”. Jadi, bila digabungkan arti dari ”Panti Nirmala” adalah ”Rumah Tanpa Penyakit” atau ”Rumah Penyembuhan”.

Kini, 90 tahun sudah THIS atau Panti Nirmala berkiprah. Keberadaannya telah membuktikan, bahwa ada spirit ”merah putih” pada jajaran pengurusnya. Juga membuktikan, bahwa niat baik, jika terus dijaga keikhlasannya, maka akan diberikan pertolongan dan jalan keluar oleh Tuhan untuk setiap kesulitan dan kesusahan.

Selamat merayakan 90 tahun Anniversary RS Panti Nirmala. (dilengkapi dari Buku: Puji Widhi Bhakti Pertiwi; 90 Tahun RS Panti Nirmala; Sejarah, Peranan, dan Perjuangan).