Tolong, Jangan Ada Rantis di Antara Kita

DULU saya tak pernah melihat pemandangan ini: pemain datang ke stadion naik kendaraan taktis (rantis). Begitu pula halnya ketika pemain pulang dari stadion.

Bukan hanya di Surabaya. Tapi juga di Malang, Bandung, dan Jakarta.

Dulu saya melihat pemain Arema Malang datang ke Gelora 10 Nopember, Surabaya, naik bus. Saya juga ikut rombongan bus pemain Persebaya Surabaya saat bermain di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, pada 2007.

Beberapa kali saya menyaksikan pemain Persib Bandung melawat ke Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, naik bus. Pun demikian, saya melihat pemain Persija Jakarta berangkat ke Stadion Siliwangi, Bandung, dengan bus.



Tapi, kenapa itu semua kini berubah? Pemain dari empat kesebelasan tersebut datang ke stadion justru naik rantis. Ini sepak bola. Bukan perang. Meski memang harus diakui, kata “perang” sering digunakan dalam berita sepak bola. Tapi, itu lebih karena untuk menggambarkan keseruan. Bukan tentang adu fisik untuk melontarkan serangan kekerasan dan “saling bunuh”. Betapa tidak nyamannya para pemain harus datang dan meninggalkan stadion dengan naik kendaraan militer itu. Bukan saja soal kenyamanan fisik, tapi juga psikis.

Melihat fenomena itu, rasanya PSSI harus lebih tegas membuat dan menerapkan aturan. Jika ada pemain dari suatu kesebelasan dipaksa berangkat ke stadion naik rantis, mereka (tim itu) harus berani menolak. Penolakan tersebut harus dijamin PSSI dengan kemenangan WO (walkover) bagi kesebelasan tamu. Sebab, panpel tuan rumah bisa dianggap gagal memberikan pelayanan yang nyaman bagi kesebelasan tamu.

Panpel juga harus berbenah. Mereka harus benar-benar memberikan pelayanan yang semestinya kepada kesebelasan tamu. Tak terkecuali memberikan jaminan keamanan dalam perjalanan ke maupun dari stadion dengan kendaraan yang memanusiakan para pemain.

Dan ini yang tak kalah penting: teman-teman suporter harus lebih dewasa menyikapi setiap pertandingan. Terlebih pertandingan yang melibatkan kesebelasan kesayangan dengan rival.

Tak sepatutnya mereka menyerang pemain kesebelasan lawan. Termasuk menyerang bus pemain kesebelasan lawan. Sebab, di dalam bus itu bisa jadi ada pemain yang sebelumnya memberikan kebahagiaan untuk Anda. Bisa jadi di bus itu ada pemain yang membela tim nasional. Bisa jadi pula di bus tersebut ada legenda sepak bola Indonesia, legenda kesebelasan yang Anda banggakan.

Kalaupun tidak ada itu semua, yang di dalam bus tersebut masih saudara kita. Saudara sebagai sesama anak bangsa, juga saudara dalam kemanusiaan. Satu hal lagi, jika bus kesebelasan lawan diserang, mereka boleh menolak bertanding. Sebab, keamanan mereka terancam. Kalau sudah begitu, suporter yang rugi. Sudah datang jauh-jauh ke stadion dan membeli tiket, eh pertandingan tak jadi digelar.

Nah, momentum untuk mengakhiri kebiasaan buruk -pemain harus berangkat dan pulang dari stadion naik rantis- kini terpampang di depan mata. Momentum itu adalah pertemuan Persebaya dengan Arema di final leg pertama Piala Presiden 2019 besok (9/4).

Para pemain dua kesebelasan itu dalam beberapa tahun terakhir dipaksa naik rantis saat berangkat ke stadion yang menjadi kandang rival.

Surabaya dan Bonek bisa menjadi bagian awal dengan memanfaatkan momentum emas tersebut. Persebaya beserta Bonek harus memberikan keleluasaan bagi para pemain Arema berangkat ke GBT dengan bus. Bukan dengan rantis. Pun demikian halnya saat mereka pulang dari stadion terbesar di Jawa Timur itu.

Keleluasaan tersebut tentu tidak sekadar “membiarkan” mereka naik bus yang memang sudah semestinya begitu. Keleluasaan itu juga berarti tidak mengganggu perjalanan bus yang ditumpangi pemain Arema. Entah itu dengan tidak menghalangi laju kendaraannya ataupun tak melempari bus tersebut.

Sekali lagi, Surabaya harus me­ngawalinya. Surabaya, Persebaya, dan Bonek harus menjadi martir perubahan.

Kenapa harus Surabaya? Karena Surabaya adalah Kota Pahlawan. Kota yang memiliki kebesaran jiwa untuk melakukan sesuatu demi kepentingan yang lebih besar. Dan arek Surabaya mewarisi jiwa pahlawan tersebut.

Kenapa harus Persebaya dan Bonek? Mengutip pernyataan Andie Peci, salah seorang pentolan Bonek, “Setelah aksi kemanusiaan hujan boneka di Gelora Bung Tomo untuk anak-anak penderita kanker, tanggung jawab Bonek akan semakin berat. Sebab, kemanusiaan itu harus dimaknai utuh. Tak boleh parsial atau setengah-setengah. Kemanusiaan itu anti kekerasan dan menolak rasisme.”

Tak mudah memang. Tapi, Bonek telah memulai melakukan apa yang tidak mudah itu. Mereka tak pernah lelah untuk berubah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi di tengah tak mudahnya melepaskan stigma negatif yang dilekatkan selama bertahun-tahun.

Jika Surabaya, Persebaya, dan Bonek bisa memberikan keleluasaan saat Arema datang ke GBT dengan bus, saya percaya kebaikan itu akan menular ke kota-kota lain, tak terkecuali ke Malang di final leg kedua (12/4). Saya percaya tak akan ada lagi cerita pemain datang dan pulang dari stadion dengan rantis. Karena sepak bola bukan medan perang. (*)