Trade War Positif buat Bisnis Otomotif

JawaPos.com – Ada sisi positif dari trade war antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang bisa diambil pelaku usaha di Indonesia. Tidak terkecuali sektor otomotif. Negara berkembang seperti Indonesia diuntungkan karena menjadi sasaran basis produksi.

Di samping memiliki tarif produksi yang kompetitif dan posisi yang strategis untuk ekspor, Indonesia mempunyai pasar otomotif terbesar di ASEAN. Ini harus kita sambut dengan regulasi struktur industri otomotif yang kuat. Beberapa peraturan dan perpajakan harus didesain sedemikian rupa untuk memuluskan potensi Indonesia menjadi production and export base.

Penjualan domestik 2018 menunjukkan hasil positif. Di tengah tantangan pasar, industri otomotif masih bisa mencatatkan penjualan di atas 1 juta unit. Berdasar data ASEAN Automotive Federation (AAF), penjualan kendaraan roda empat Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai 1,08 juta unit. Angka itu mencakup 32,32 persen dari total 3,34 juta unit penjualan mobil kawasan ASEAN. Negara dengan penjualan mobil terbanyak kedua adalah Thailand. Diikuti Malaysia di urutan ketiga.


Ilustrasi bisnis otomotif (Dery Ridwansah/JawaPos.com)


Indonesia akan tetap menjadi pemimpin di ASEAN. Hal itu mengingat pertumbuhan ekonominya baik, di atas 5 persen, serta jumlah penduduk yang besar. Juga, pendapatan per kapita yang akan terus meningkat.

Ekspor kendaraan selama 2018 juga meningkat hingga 264 ribu unit. Naik 14 persen jika dibandingkan dengan 2017 yang mencapai 231 ribu unit. Meski pada enam bulan pertama mengalami kesulitan lantaran ada masalah dengan ekspor Vietnam perihal pengecekan kendaraan, pada enam bulan berikutnya penjualan ke luar bisa dipacu. Untuk target ekspor pada 2019, Gaikindo berharap bisa lebih dari 300 ribu unit.

Sudah banyak pabrikan yang menunjuk pabriknya di Indonesia sebagai basis ekspor. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) berhasil mencetak rekor ekspor 206 ribu unit. Suzuki tengah menargetkan 32 ribu ekspor CBU. Mitsubishi juga akan memulai ekspor produk Xpander dari Indonesia. Bahkan, pabrikan Tiongkok yang baru masuk ke Indonesia, yakni Wuling, juga sedang mempertimbangkan untuk mulai mengekspor ke sejumlah negara. Misalnya, Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Dua pabrikan Tiongkok yang masuk ke Indonesia sedikit banyak memberikan bukti bahwa kita punya potensi pasar yang baik. Keduanya datang dengan investasi yang tidak sedikit. Berkomitmen pula untuk membangun pabrik dan jaringan aftersales. Mereka menunjukkan persaingan yang kompetitif dengan penjualan yang signifikan.

Soal pasar ekspor, Indonesia sudah membidik lebih dari 80 negara sebagai sasaran ekspor. Masih terbuka pasar-pasar baru untuk dijajaki. Misalnya, Australia. Saat ini semua pabrikan mempelajari kemungkinan masuk ke sana. Sekali lagi, harmonisasi pajak perlu dilakukan untuk mendorong ekspor otomotif.

Pasar global sangat meminati model kendaraan sedan dan 4 x 4. Pajak dua model itu di Indonesia masih sangat mahal. Dengan adanya keringanan pajak, pabrikan akan terdorong untuk berani berinovasi model-model selain LMPV yang populer di Indonesia. Dengan begitu, Indonesia akan lebih berpotensi mengisi demand global. Belum ada kata terlambat, Indonesia ke depan masih punya peluang besar untuk menjadi pemasok otomotif dunia. 

*) Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo)

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Agfi Sagittian/c7/fal)