Tren Leisure Bisa Lebih Bergairah

TANTANGAN terhadap perekonomian Indonesia tahun ini, baik dari dalam maupun luar negeri, cukup berdampak pada tren leisure. Bahkan hingga akhir tahun.

Kami memprediksi tren okupansi hotel dan pergerakan wisata cenderung landai atau malah lebih rendah daripada tahun lalu. Tahun 2020 adalah momen yang diharapkan dapat menjadi waktu yang tepat untuk recovery.

Secara umum, berdasar laporan teman-teman perhotelan di sejumlah daerah, tingkat okupansi tahun ini secara keseluruhan lebih rendah daripada tahun lalu. Itu kurang lebih juga menggambarkan pergerakan wisatawan yang juga melandai di berbagai daerah.

Faktor yang memengaruhi bermacam-macam. Pertama, dampak dari pemilu tahun ini ternyata cukup besar terhadap tren konsumsi masyarakat. Kedua, isu tiket pesawat yang tinggi membuat orang tidak banyak merencanakan perjalanan liburan di akhir tahun. Ketiga, kami juga merasakan ada penurunan di sektor daya beli. Hal itu juga tecermin pada pendapatan industri ritel yang tahun ini juga lebih rendah daripada tahun lalu.

Faktor yang memukul tren leisure tidak hanya dari dalam negeri. Faktor persaingan dengan luar negeri juga kami lihat menjadi salah satu alasannya. Dengan harga tiket pesawat kita yang masih mahal, pelaku industri wisata menjadi tidak bisa berbuat banyak untuk mengemas promosi demi mendatangkan wisatawan mancanegara.

Thailand, misalnya, secara umum memiliki penawaran yang lebih bagus terkait paket wisata. Tiket penerbangan mereka, baik domestik maupun internasional, lebih kompetitif.

Di musim liburan Natal dan tahun baru nanti, kami tetap melihat adanya peak season di sejumlah daerah. Prediksinya, destinasi tradisional seperti Bali, Jogjakarta, dan tempat mainstream lainnya akan jadi favorit. Kami juga memprediksi tren staycation atau menginap di hotel dalam kota tahun ini akan cukup dominan. Mengingat, masyarakat juga punya bujet terbatas untuk merencanakan perjalanan ke luar kota.

Bicara soal destinasi Bali baru yang sedang didorong pemerintah, kami melihat efektivitasnya masih di bawah ekspektasi. Faktornya kembali pada hal-hal di atas. Bahwa masyarakat memang menahan spending sebagai dampak dari pelemahan ekonomi. Selain itu, kami melihat dorongan promosi dan atraksi-atraksi di destinasi baru tersebut belum masif untuk menggerakkan demand masyarakat. Misalnya, destinasi Danau Toba. Kami melihat penerbangan ke Silangit justru menurun, bahkan di musim high season.

Tapi, tidak berarti kami tidak optimistis. Kami percaya pelemahan tren ini sangat erat kaitannya dengan kondisi perekonomian itu sendiri. Tahun depan kami berharap banyak dan yakin bahwa tren leisure akan meningkat. Hambatan dari dalam negeri sudah banyak berkurang. Ditambah dengan pemerintah yang menjanjikan akan mengevaluasi dan akan mengeluarkan program-program baru untuk menarik wisatawan. Jadi, memang seharusnya tahun depan bisa meningkat.

Kami juga melihat keseriusan pemerintah dalam mendisiplinkan maskapai-maskapai, termasuk yang di bawah BUMN. Kami berharap maskapai tersebut bisa lebih fair dalam memberikan harga. Dengan harga tiket yang lebih kompetitif, minat orang untuk berwisata akan meningkat.

*) Ketua umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI)